Baixe o aplicativo para ver a sinopse completa da obra.
Larut malam.
Kota Sepuluh Li, Jalan Gerbang Utara.
Sebuah toko tua yang hampir roboh memancarkan cahaya temaram.
Yuan Bo sedang duduk di balik meja kasir, asyik menelusuri video di aplikasi ponsel.
Tiba-tiba, pintu kayu yang sudah lapuk diketuk keras.
Tanpa mengalihkan pandangan dari layar, Yuan Bo tetap menatap sepasang kaki jenjang di video, seraya berkata, “Sudah tutup.”
Namun, suara derit pelan terdengar, pintu itu didorong terbuka dari luar.
Seorang wanita masuk dengan langkah mantap di atas sepatu hak tinggi, riasan wajahnya rapi, mengenakan blus tipis yang menonjolkan keseksian.
Kakinya yang terbalut stoking hitam, bahkan tak kalah menawan dibanding para penyiar wanita di ponsel Yuan Bo, hanya saja auranya membawa sedikit aroma dunia malam.
Liu Yuanyuan memandang sekeliling toko, lalu menarik sebatang rokok wanita dan menyalakannya, “Berapa tahun sih toko kalian nggak pernah dibersihkan? Memang harus ada perempuan yang urus.”
“Oh iya, Xiao Bo, di mana gurumu?”
Barang-barang di toko itu berserakan tak karuan.
Di dinding tergantung karangan bunga duka, di sudut berdiri peti mati. Rumah-rumahan dari kertas, mobil-mobilan dari kertas, serta boneka pelayan dan penjaga tersebar di mana-mana.
“Meninggal,” jawab Yuan Bo, tetap fokus pada penyiar cantik yang sedang menggoyangkan pinggang di layar, tak memperdulikan tamunya yang nyata.
“Ngaco aja kamu! Sore tadi dia masih sempat pijat di tempatku,” omel Liu Yuanyuan.
Ia bekerja di sebuah tempat pijat di Jalan Gerbang Utara, penghasilan