Bab 1: Kitab Suci Anyaman Kertas
Larut malam.
Kota Sepuluh Li, Jalan Gerbang Utara.
Sebuah toko tua yang hampir roboh memancarkan cahaya temaram.
Yuan Bo sedang duduk di balik meja kasir, asyik menelusuri video di aplikasi ponsel.
Tiba-tiba, pintu kayu yang sudah lapuk diketuk keras.
Tanpa mengalihkan pandangan dari layar, Yuan Bo tetap menatap sepasang kaki jenjang di video, seraya berkata, “Sudah tutup.”
Namun, suara derit pelan terdengar, pintu itu didorong terbuka dari luar.
Seorang wanita masuk dengan langkah mantap di atas sepatu hak tinggi, riasan wajahnya rapi, mengenakan blus tipis yang menonjolkan keseksian.
Kakinya yang terbalut stoking hitam, bahkan tak kalah menawan dibanding para penyiar wanita di ponsel Yuan Bo, hanya saja auranya membawa sedikit aroma dunia malam.
Liu Yuanyuan memandang sekeliling toko, lalu menarik sebatang rokok wanita dan menyalakannya, “Berapa tahun sih toko kalian nggak pernah dibersihkan? Memang harus ada perempuan yang urus.”
“Oh iya, Xiao Bo, di mana gurumu?”
Barang-barang di toko itu berserakan tak karuan.
Di dinding tergantung karangan bunga duka, di sudut berdiri peti mati. Rumah-rumahan dari kertas, mobil-mobilan dari kertas, serta boneka pelayan dan penjaga tersebar di mana-mana.
“Meninggal,” jawab Yuan Bo, tetap fokus pada penyiar cantik yang sedang menggoyangkan pinggang di layar, tak memperdulikan tamunya yang nyata.
“Ngaco aja kamu! Sore tadi dia masih sempat pijat di tempatku,” omel Liu Yuanyuan.
Ia bekerja di sebuah tempat pijat di Jalan Gerbang Utara, penghasilannya lumayan.
“Kenapa? Si tua itu belum bayar?” tanya Yuan Bo.
Gurunya menjalani profesi kuno—pembuat kerajinan kertas untuk pemakaman.
Konon, pembuat kerajinan kertas itu mengerti soal dunia arwah, memahami seluk-beluk supranatural, menguasai ilmu pengobatan, ramalan, dan berbagai keahlian aneh. Konon kehebatannya bahkan melebihi dukun.
Namun Yuan Bo tahu betul, gurunya itu hanya setengah matang.
Ilmu supranatural yang lain-lain hanya tahu permukaannya saja, cuma keahlian membuat kerajinan kertas yang benar-benar hebat, hasil karyanya sangat mirip aslinya. Tapi tetap saja, ia bangga mengaku sebagai penerus warisan budaya leluhur.
Meski begitu, dengan kecerdikan dan kepiawaian menipunya, ia berhasil menjalankan toko karangan bunga dan pakaian duka ini dengan sukses di Kota Sepuluh Li, membesarkan Yuan Bo hingga dewasa.
“Sudah kok, bahkan dia kasih aku lebih lima yuan, katanya buat beliin... ah, sudahlah, nggak penting.” Liu Yuanyuan mematikan rokok yang tinggal sepertiga, “Aku ada urusan penting, dia ke mana?”
Yuan Bo menggulir ke siaran berikutnya, bertanya sekilas, “Ada apa? Mau tobat? Minta tolong pilihkan hari baik?”
Liu Yuanyuan melotot, “Sembarangan! Kalau si tua itu nggak ada, ya sudah, besok aku balik lagi.” Dia pun beranjak hendak pergi.
Yuan Bo mematikan layar ponsel, meletakkannya di atas meja, lalu mendadak bersikap serius.
“Mbak Yuan, kalau kamu masih nggak mau jujur, nggak ada yang bisa nolong kamu.”
Tubuh Liu Yuanyuan seketika menegang, ia menoleh.
Anak laki-laki kecil yang dulu sering telanjang bulat berlari di jalan, entah sejak kapan, sudah tumbuh jadi pria muda yang tampan.
Rambutnya pendek rapi, tatapannya tegas, wajahnya tegas dan maskulin.
“Xiao Bo, maksudmu apa?” tanya Liu Yuanyuan ragu, tanpa sadar menutupi dadanya dengan tangan.
“Sesuai kata-kata,” Yuan Bo bersandar di kursi, mata dalamnya seolah bisa menembus lubuk hati Liu Yuanyuan. “Kita sudah lama satu lingkungan, Mbak Yuan, kalau ada apa-apa bilang saja.”
Saat usia dua belas tahun, Yuan Bo pernah membongkar lemari di rumah mencari camilan, tanpa sengaja menemukan sebuah kitab berjudul “Kitab Agung Kerajinan Kertas”.
Isinya penuh ilmu supranatural yang berpusat pada teknik kerajinan kertas.
Ia menyerahkan kitab itu pada gurunya, namun si tua itu hanya melirik sebentar lalu membuangnya karena aksara kunonya terlalu sulit, semuanya dalam bentuk tulisan kuno.
Tak paham!
Masih teringat, jika mabuk, gurunya suka mengeluh, menyalahkan gurunya sendiri karena tak mengajarkan ilmu sejati.
Yuan Bo kecil sadar benar betapa berharganya kitab itu, tanpa pikir panjang, ia mencuri sepuluh yuan dari laci, pergi ke warnet gelap, dan menerjemahkannya secara daring.
Begitu diterjemahkan, dunia baru seolah terbuka. Ia jadi lalai sekolah, sampai akhirnya dipaksa oleh gurunya untuk menyelesaikan SMA.
Setelah bergumul dengan pikirannya, Liu Yuanyuan menggigit bibir, “Xiao Bo, kayaknya aku ketempelan makhluk halus…”
“Oh, kalau begitu, lepas bajumu,” ucap Yuan Bo datar.
Liu Yuanyuan tertegun. Ia teringat malam-malam saat mandi, selalu merasa sepasang mata nakal mengintip dari jendela.
Kini, pemilik mata itu duduk persis di depannya.
“Dasar mesum! Aku sudah tahu nggak seharusnya bicara sama kamu! Aku pergi!” Liu Yuanyuan tak ragu, langsung berbalik hendak keluar.
Melihat itu, Yuan Bo hanya tersenyum, lalu mengambil ponsel dan melanjutkan nonton siaran langsung.
“Silakan pergi. Kalau bayi hantu sudah kenyang susu, selanjutnya dia akan makan orang.”
Baru saja menarik daun pintu, Liu Yuanyuan langsung membeku.
Ia buru-buru menutup pintu rapat-rapat, berlari kecil mendekati Yuan Bo, membungkuk, “Xiao Bo, kok kamu tahu?!”
Karena Yuan Bo tak menjawab, Liu Yuanyuan langsung merebut ponselnya, “Apa sih bagusnya nonton, semua juga pakai filter!”
“Aku lagi ngomong sama kamu!”
Yuan Bo mengarahkan pandangannya ke dada Liu Yuanyuan yang putih bersih, tampak samar barisan bekas gigitan berwarna merah.
“Kurang jelas,” matanya bening, rautnya polos tanpa dosa.
Liu Yuanyuan mengerutkan dahi, hampir saja ia ingin memukul kepala Yuan Bo dengan ponselnya.
Tapi ia teringat, tubuhnya sudah sering dilihat Yuan Bo sejak kecil, jadi buat apa malu?
Lagi pula, ia memastikan pintu telah terkunci rapat, lalu tanpa ragu melepas blus tipisnya.
Aroma parfum semerbak menguar, Yuan Bo menghirup dalam-dalam dengan penuh kenikmatan, dalam hati memuji kehebatan Mbak Yuan.
Sudah bertahun-tahun kerja di panti pijat, usia 27, tapi ternyata masih perawan.
Namun Yuan Bo segera sadar, masalah ini sangat serius. Di dada Liu Yuanyuan tersebar bekas gigitan merah kecil!
Jelas bukan gigitan orang dewasa.
Tepatnya, bukan gigitan manusia!
“Sudah puas lihatnya?” tanya Liu Yuanyuan dengan nada kesal.
Yuan Bo mengalihkan pandangan, mengangguk sopan, “Sejak kapan ini terjadi?”
Sejak masuk, Yuan Bo sudah merasa energi kehidupan di tubuh Liu Yuanyuan sangat lemah. Kalau bukan karena nasibnya masih ada sisa, pasti sudah kena celaka besar.
Ini jelas terkena makhluk halus!
Tapi ia tidak menyangka kondisinya separah ini.
Liu Yuanyuan menghela napas, “Sudah seminggu, awalnya sehari cuma muncul satu, kukira alergi kulit. Tapi hari ini langsung muncul banyak sekali.”
“Tadi sore waktu gurumu datang, aku tanya harus gimana kalau ketempelan, dia bilang mau mabuk dulu, suruh aku ke sini malam.”
“Makanya, habis kerja aku langsung ke sini.”
Yuan Bo mengangguk, “Dalam seminggu ini, apa kamu merasa badan selalu lemas, ngantuk terus, setiap tidur selalu bermimpi... dan mimpinya tentang anak kecil?”
Liu Yuanyuan mendongak kaget.
“Benar! Setiap malam anak yang sama, matanya cekung gelap, giginya runcing, selalu nyengir ke arahku, seram sekali.”
“Xiao Bo, ini sebenarnya kenapa? Apa aku masih bisa diselamatkan?”