Bab Enam Belas: Tamu Tak Diundang
Halaman (1/3)
Pada hari itu, Vila Wanglin Nomor Satu langsung dibeli.
Awalnya, Lin Mengyan berniat membayarkan uang untuk Yu Tian. Namun, Yu Tian justru langsung mengeluarkan sebuah kartu dan menggeseknya untuk membayar satu miliar. Lin Mengyan seketika terpaku, begitu pula para pramuniaga cantik yang menyaksikan kejadian itu.
Cara Yu Tian membayar yang sederhana sekaligus brutal tersebut mengajarkan satu hal kepada para pramuniaga cantik itu: jangan pernah menilai kekayaan seseorang hanya dari pakaian dan penampilannya.
Setelah pembayaran selesai, Yu Tian segera menyelesaikan seluruh proses administrasi dan resmi menjadi pemilik Vila Nomor Satu.
Untuk merayakan hal itu, Lin Mengyan mengajak Yu Tian makan.
Yu Tian tidak menolak. Kebetulan, dia juga sedang lapar.
Mereka berdua meninggalkan kawasan Vila Wanglin.
Lin Mengyan meminta seseorang mengantarkan mobilnya, lalu mengemudi sendiri membawa Yu Tian menuju pusat kota Distrik Barat.
Mereka tiba di sebuah restoran mewah.
Begitu melihat kartu yang dikeluarkan Lin Mengyan, pelayan restoran langsung mengantar mereka ke ruang makan pribadi.
Setelah duduk, Yu Tian mendorong kembali menu yang disodorkan Lin Mengyan sambil berkata, “Kau saja yang memilih. Aku belum pernah datang ke sini dan tidak terlalu pilih-pilih soal makanan.”
Lin Mengyan sebenarnya ingin mengatakan sesuatu. Namun, setelah teringat pada berbagai pengalaman Yu Tian di masa lalu, dia tidak banyak bicara. Dia segera memesan beberapa hidangan andalan serta sebotol anggur merah.
Anggur merah segera disajikan.
Lin Mengyan mengangkat gelasnya sambil tersenyum. “Selamat kepada Tuan Yu atas rumah barunya. Semoga masa depanmu semakin baik!”
Yu Tian bersulang dengannya dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.
Setelah meneguk anggur merah, Yu Tian melihat bahwa hanya ada dirinya dan Lin Mengyan. Dia pun bertanya, “Hanya kita berdua? Perlukah kita mengajak Lin Mengrou kemari?”
“Apa? Kau ingin bertemu Xiaorou? Jangan-jangan kau menyukainya?” Setelah meletakkan gelas, sudut bibir Lin Mengyan tanpa sadar terangkat.
Mendengar itu, Yu Tian buru-buru menjelaskan, “Tidak, jangan salah paham. Aku dan dia hanya saling mengenal.”
“Benarkah? Kalau Xiaorou mendengar ucapanmu itu, dia pasti akan sedih.”
Lin Mengyan berbicara dengan santai, lalu segera melanjutkan, “Ngomong-ngomong, kalau tidak salah, ayahku hanya memberimu lima puluh juta. Aku tidak menyangka kau ternyata cukup berada. Tadi aku bahkan sudah menyiapkan uang untukmu. Sepertinya selama ini aku telah meremehkanmu.”
Yu Tian tersenyum dan menjelaskan, “Setelah membuat keributan di pesta ulang tahun Nyonya Tua Keluarga Yu, aku juga pergi ke kediaman Keluarga Yu. Menurutmu, apakah aku akan pergi tanpa mengambil apa pun?”
Memahami maksud Yu Tian, Lin Mengyan mengangguk setuju. “Kau memang tidak boleh mengurangi sedikit pun dari apa yang menjadi hakmu. Mereka telah memperlakukanmu seperti itu, jadi memang pantas menerima akibatnya. Kalau kau membutuhkan sesuatu, kapan saja datang menemuiku.”
Saat mengatakannya, Lin Mengyan teringat bahwa dia dan Yu Tian belum bertukar kontak. Dia pun segera mengambil kartu namanya dari dalam tas dan menyerahkannya kepada Yu Tian.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Yu Tian tidak memiliki telepon seluler, tetapi tetap mengulurkan tangan untuk menerima kartu nama itu.
Namun, tepat pada saat itu—
Brak!
Pintu ruang makan tiba-tiba didorong terbuka dengan kasar.
Lin Mengyan terkejut dan segera menarik tangannya. Kartu nama itu pun jatuh di atas meja.
Yu Tian mengambil kartu nama tersebut, lalu menoleh ke samping.
Di ambang pintu, seorang pria bertubuh kekar yang mengenakan jas menatap Yu Tian dengan dingin. Melihat Lin Mengyan sedang makan berdua dengan pria lain, amarahnya langsung berkobar.
Begitu melihat pria yang tiba-tiba muncul itu, Lin Mengyan mengernyitkan dahi. “Han Chao, mengapa kau ada di sini?”
“Mengyan, aku tidak menyangka kau menolakku, tetapi malah berkencan dan makan berdua dengan orang seperti ini!”
Han Chao tidak mengenal Yu Tian. Di matanya, Yu Tian sama sekali tidak istimewa. Tubuhnya kurus, wajahnya pun tidak tampan, dan dia juga tidak tampak seperti orang kaya. Atas dasar apa dia bisa bersama Lin Mengyan? Bahkan, dia sama sekali tidak pantas mendekati Lin Mengyan!
“Han Chao, kau sakit, ya? Dengan siapa aku makan bukan urusanmu. Jangan ikut campur dan segera keluar!”
Lin Mengyan tidak menyangka putra Keluarga Han ternyata berada di sini, bahkan berhasil menemukan dirinya. Saat ini, dia benar-benar merasa pusing.
“Aku memang sakit. Aku terlalu mencintaimu, jadi aku tidak tahan melihatmu dekat dengan pria mana pun selain aku! Apalagi dengan sampah seperti ini!”
Namun, Han Chao sama sekali tidak menghiraukan ucapan Lin Mengyan. Dia melangkah lebar menuju wanita itu.
Pada saat yang sama, Yu Tian juga melangkah maju. Dia bergerak lebih cepat dari sisi lain, tiba di samping Lin Mengyan dan berdiri di depannya, menghalangi Han Chao.
“Selagi suasana hatiku masih baik, enyahlah. Kalau tidak, akan kukirim kau ke rumah sakit untuk berbaring selama beberapa bulan.”
Yu Tian berbicara dengan dingin. Secara logika, urusan orang lain tidak ada hubungannya dengan dirinya, terlebih lagi masalah percintaan semacam ini.
Namun, pria itu bukan hanya mengganggu waktu makannya. Sejak masuk, dia juga terus memandang Yu Tian seolah-olah sedang melihat sampah, bahkan melontarkan hinaan tanpa henti. Yu Tian jelas tidak bisa menahannya!
Melihat Yu Tian benar-benar menghalangi jalannya, Han Chao mencibir. “Oh, ternyata kau cukup jantan. Namun, apakah kau tahu akibatnya jika menghalangi jalanku? Karena mulutmu begitu besar, sebaiknya kau pergi ke rumah sakit lebih dulu untuk memeriksakan diri!”
Begitu selesai berbicara, Han Chao langsung melayangkan tinju ke wajah Yu Tian.
Plak!
Sebelum Lin Mengyan sempat mencegahnya, Yu Tian dengan mudah menangkap tinju Han Chao.
“Tubuhmu terlihat cukup kuat. Mengapa tinjumu terasa seperti kapas?”
Yu Tian tersenyum saat mengatakannya, membuat Lin Mengyan yang berdiri di belakangnya ikut terkekeh.
Han Chao sangat terkejut. Dia adalah seorang ahli bela diri tingkat keempat Alam Fana. Seorang diri, dia mampu mengalahkan sepuluh petinju. Dengan satu pukulan, bahkan batang pohon besar dapat dihancurkan. Bagaimana mungkin tinjunya ditahan semudah itu?
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Jangan berpura-pura! Tadi aku belum mengerahkan seluruh tenaga!”
Wajah Han Chao semakin muram. Mendengar tawa Lin Mengyan, dia merasa sangat dipermalukan. Dia pun berusaha menarik tangannya dan menyerang Yu Tian dengan segenap kekuatan.
Namun, sekuat apa pun Han Chao mengerahkan tenaga, tangan kanannya tetap dicengkeram erat oleh Yu Tian dan sama sekali tidak dapat ditarik kembali.
Saat itu, Yu Tian berkata dengan tenang, “Bahkan tanganmu sendiri tidak mampu kau lepaskan, tetapi kau masih berani berdiri di depanku dan berlagak?”
Begitu kata-kata itu terucap, Yu Tian mengeratkan genggamannya.
Krek!
Suara renyah terdengar. Seluruh tulang jari tangan kanan Han Chao patah.
“Ahhh!”
Rasa sakit seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Han Chao menjerit kesakitan, lalu menggenggam pergelangan tangan kanannya dengan tangan kiri. Dia buru-buru mundur ke ambang pintu dan ditahan oleh anak buahnya.
Dengan wajah meringis, dia menatap jari-jarinya yang bengkok dan berubah bentuk. Kemudian dia berteriak murka, “Serang! Habisi dia!”
Segera, tujuh atau delapan orang di belakang Han Chao menyerbu Yu Tian.
Yu Tian tidak berniat memanjakan mereka. Dia mengangkat tangan dan melayangkan tamparan, meninggalkan bekas telapak tangan yang jelas di wajah setiap orang.
Melihat seluruh anak buahnya terkapar dan berguling-guling di lantai, Han Chao sedikit menenangkan diri. Dia menatap Yu Tian dan mengancam, “Sialan, kau berani macam-macam denganku? Tunggu saja! Kubuat kau tidak akan hidup melewati malam ini!”
Setelah melontarkan ancaman, Han Chao langsung berbalik dan melarikan diri dengan langkah yang sangat kacau.
Melihat pemimpin mereka telah kabur, orang-orang yang terkapar di lantai juga tidak berani tinggal. Mereka pergi dengan merangkak dan berguling-guling.
Setelah semuanya pergi, Yu Tian kembali ke tempat duduknya. Saat itu, Lin Mengyan menatapnya dengan wajah penuh permintaan maaf.
“Maaf, aku tidak tahu dia juga berada di sini. Aku jadi merepotkanmu.”
Yu Tian menggelengkan kepala, meneguk sedikit anggur merah, lalu bertanya pelan, “Si berengsek itu siapa?”
Mendengar cara Yu Tian menggambarkannya, Lin Mengyan kembali tertawa. “Dia putra Keluarga Han. Dia sejenis dengan Yu Hao. Memang benar-benar orang bodoh. Namun, dia jauh lebih kejam daripada Yu Hao dan juga lebih dihargai oleh Keluarga Han. Kalau dia sudah mengincarmu, urusannya akan sangat merepotkan.”
Setelah mengetahui identitas Han Chao, Yu Tian sama sekali tidak merasa gentar. Dia hanya berkata, “Jangan takut. Sampah seperti Yu Hao, kalau datang satu, akan kubunuh satu. Aku tidak akan pernah bersikap lunak!”
Halaman (3/3)