Bab Dua Puluh Lima: Kegelisahan Pak Yang
"Kak Chu, sepertinya tadi siswi Bai itu bersungguh-sungguh. Dia tampak marah setelah kau menolaknya!" ujar Zhao Hongyu pelan setelah Bai Yingxue dan rombongannya menjauh.
"Memangnya dia marah karena apa? Dia pikir dia siapa sampai bisa meminta Chu Qingchen menjadi pengawalnya? Aneh sekali!" Wang Ruoying mencibir dengan nada meremehkan.
"Benar sekali!" timpal Wu Mengzhuo, yang biasanya pendiam dan tenang, ikut membela teman sekamarnya.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Orang kaya memang suka berbuat sesuka hati, apa yang bisa kita lakukan? Qingchen, apakah kita akan kembali ke kampus sekarang?" tanya Meng Qianqian, yang sedari tadi diam, setelah menegur kedua temannya.
Sebenarnya, di hadapan Bai Yingxue, ia merasa tidak percaya diri. Jika bicara soal latar belakang keluarga, ia tertinggal jauh, bak bumi dan langit. Soal penampilan pun ia kalah, karena Bai Yingxue jauh lebih menonjol. Satu-satunya hal yang bisa ia andalkan hanyalah kepribadiannya. Bai Yingxue memiliki karakter yang dominan, agresif, dan sedikit manja layaknya putri raja, sementara dirinya dikenal lembut, perhatian, dan rendah hati. Ia hanya tidak tahu bagaimana Chu Qingchen akan memilih.
"Sudah larut, sebaiknya kita segera kembali," jawab Chu Qingchen dengan suara berat setelah memeriksa jam di ponselnya.
"Baiklah," sahut Meng Qianqian dengan nada enggan.
Sejujurnya, ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Chu Qingchen. Begitu kembali ke kampus, mereka akan sulit bertemu karena mereka berada di kelas yang berbeda dan asrama mereka pun berjauhan. Jika ingin bertemu lagi, mereka harus membuat janji khusus.
Hua Mingliang, Wang Ruoying, dan yang lainnya tidak keberatan. Mereka hanya mengikuti apa pun keputusan Chu Qingchen dan Meng Qianqian, karena posisi mereka hanyalah sebagai pendukung.
Akhirnya, ketujuh orang itu segera meninggalkan Jalan Nanjiang dan menaiki bus untuk kembali ke kampus.
***
Setelah tiba di gerbang kampus, Meng Qianqian dan teman-temannya sempat ingin mengajak Chu Qingchen dan kawan-kawan jalan-jalan lagi keesokan harinya, namun langsung ditolak mentah-mentah oleh Chu Qingchen.
Tentu saja, ajakan Bai Yingxue saja tidak ia terima, apalagi ajakan Meng Qianqian. Jika ia menyetujuinya, itu sama saja dengan mengakhiri segalanya dengan Bai Yingxue, karena tindakan itu secara tersirat mengatakan bahwa ia telah memilih Meng Qianqian.
Lagipula, ia memang memiliki urusan yang harus diselesaikan besok.
Setelah ditolak, meskipun kecewa, Meng Qianqian tidak berkata apa-apa. Ia berpamitan dengan Chu Qingchen dan ketiga temannya, lalu kembali ke asrama bersama Wang Ruoying dan Wu Mengzhuo.
Setelah melihat ketiga gadis itu pergi, Chu Qingchen mengajak Yang Yan dan dua lainnya kembali ke asrama 308.
***
"Chu... Kak Chu, apakah kau memiliki perasaan pada Meng Qianqian?" Sesampainya di asrama 308, Yang Yan yang sedari tadi diam tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu.
Pertanyaan yang sangat mendadak itu membuat Chu Qingchen tertegun. Sementara itu, Zhao Hongyu dan Hua Mingliang melebarkan mata dan membuka mulut mereka lebar-lebar, menatap Yang Yan dengan rasa tidak percaya. Mereka tidak menyangka hal ini akan terjadi.
"Tunggu dulu, apa maksudmu? Jangan bilang kau menyukai Meng Qianqian?" tanya Chu Qingchen balik sambil tersenyum setelah terdiam cukup lama.
Serangan mendadak dari Yang Yan ini hampir membuatnya kewalahan. Meski sangat terkejut, ia berusaha bersikap tenang dan membalikkan keadaan.
"Benar, aku menyukainya. Jika Kak Chu memang tidak memiliki perasaan padanya, maka aku berniat untuk mengejarnya. Tapi jika Kak Chu juga menyukainya, maka aku akan mengalah," ujar Yang Yan dengan wajah serius.
"Pantas saja kau diam dan tampak gelisah sejak makan malam tadi. Ternyata karena ini. Alasan sakit perut tadi pun hanya karanganmu saja. Kalau kau suka, kejar saja. Tenang saja, hubunganku dengannya hanyalah teman biasa, tidak mungkin ada percikan asmara di antara kami. Tapi ingat, jika kau gagal mendapatkannya, jangan salahkan aku atau menuduhku menghalangimu," jawab Chu Qingchen sambil menggelengkan kepala dengan tegas.
"Tentu saja tidak. Karena Kak Chu sudah berkata demikian, mulai Senin depan, aku akan mulai mendekati Meng Qianqian!" ucap Yang Yan dengan penuh semangat dan tekad yang bulat.
"Semoga berhasil!" Chu Qingchen menepuk bahu Yang Yan sambil memberi dukungan.
***
"Boleh juga! Kak Yang, tidak kusangka ternyata kau pria yang pandai menyembunyikan perasaan!" Hua Mingliang merangkul bahu Yang Yan sambil tertawa jahil.
"Pergilah sana! Kau yang pandai menyembunyikan perasaan, ini cinta sejati!" balas Yang Yan kesal.
"Cinta sejati apanya!" cibir Hua Mingliang meremehkan.
"Begini, Yang, tadi malam kau sudah melihat sendiri, Meng Qianqian sepertinya hanya menaruh hati pada Kak Chu. Apakah kau yakin bisa memenangkan hatinya? Lagi pula, seandainya dia akhirnya bersamamu, tapi pikirannya selalu tertuju pada Kak Chu, apakah kau tidak keberatan?" tanya Zhao Hongyu dari sisi lain sambil merangkul bahu Yang Yan.
"Zhao, jangan menakut-nakuti dan membicarakan Meng Qianqian di belakang. Aku tidak merasa dia orang seperti itu. Jika dia menolakmu, ya sudah, tapi jika dia memilihmu, aku yakin dia tidak akan memikirkan orang lain lagi," tegur Chu Qingchen pada Zhao Hongyu.
"Selama Kak Chu tidak ikut campur, aku yakin bisa mendapatkan hati Meng Qianqian. Sisanya, aku tidak peduli," tegas Yang Yan dengan penuh percaya diri.
"Bagus, punya nyali!"
"Kak Yang, aku mendukungmu!"
Zhao Hongyu dan Hua Mingliang kompak mengacungkan jempol kepada Yang Yan.
***
"Jangan hanya membicarakan Yang, bagaimana dengan kalian berdua? Apakah ada target yang kalian incar?" tanya Chu Qingchen sambil tersenyum kepada Zhao Hongyu dan Hua Mingliang.
"Aku menyukai Bai Yingxue!" celetuk Zhao Hongyu sambil tertawa kecil.
"Akan kubuat kau babak belur!" ancam Chu Qingchen dengan mata melotot.
Perkataan itu langsung memicu tawa meledak dari Hua Mingliang dan Yang Yan.
"Lupakan saja kalau begitu. Itu bukan sekadar babak belur, kau bisa mengirimku bertemu nenek moyangku. Antara wanita cantik dan nyawa, aku memilih nyawaku. Wanita cantik bisa dicari lagi, tapi kalau nyawa hilang, semuanya berakhir!" ujar Zhao Hongyu sambil mengangkat bahu, tampak pasrah.
"Bagus kalau kau sadar diri. Meskipun aku dan Bai Yingxue belum ada kejelasan, tapi karena dia ingin 'memiliki' aku, maka aku pun harus 'memiliki' dia. Setidaknya kalian tidak boleh menaruh hati padanya, mengerti?" ujar Chu Qingchen terus terang.
"Mengerti!" jawab ketiganya serempak.
"Tapi, ini hanya boleh diketahui oleh kita berempat. Jangan sampai ada orang lain yang tahu," tambah Chu Qingchen dengan nada misterius.
"Kenapa?" tanya ketiganya bersamaan.
"Rahasia langit tidak boleh dibocorkan!" jawab Chu Qingchen dengan gaya penuh misteri.
"Huh!" ketiganya mendengus tidak peduli.
"Kak Zhao, menurutku Situ Nan dari kelas kita cukup menarik. Bagaimana kalau kau mencoba mengejarnya?" saran Hua Mingliang kepada Zhao Hongyu.
"Sudahlah, badannya terlalu besar, aku tidak kuat menanggungnya!" Zhao Hongyu bergidik ngeri sambil menggelengkan kepala.
"Hahaha!" Tawa keras dari Chu Qingchen, Hua Mingliang, dan Yang Yan langsung pecah mendengar jawaban itu.
***
Begitulah, kelompok F4 Universitas Jiang terus mengobrol hingga lampu asrama akan dipadamkan, sebelum akhirnya mereka membersihkan diri dan beranjak tidur.