Bab 59: Kota Daun Maple di Bawah Gunung Daun Maple
Malam hari...
Jiang Kaiyou duduk di depan meja makan, memegang mangkuk dan sumpit, makan seorang diri. Selama bertahun-tahun, ia selalu hidup sendiri. Kemampuan untuk mengurus diri sendiri sudah ia asah sejak usia sepuluh tahun.
Sepanjang sore ini, Jiang Kaiyou telah bertarung di arena sebanyak 127 kali tanpa satu pun kekalahan. Persentase kemenangannya seratus persen. Namanya pun semakin populer. Kini, di papan peringkat PK arena, Jiang Kaiyou berhasil mencatatkan namanya di urutan kelima.
Jiang Kaiyou sama sekali tak peduli siapa saja yang berada di atasnya di papan peringkat. Ia bahkan tidak melihatnya. Baginya, arena bukanlah fokus utama dalam bermain. Bagi Jiang Kaiyou, inti dari bermain justru pada pencapaian rekor dungeon, memburu bos liar, dan serangkaian event yang akan datang.
Soal PK, Jiang Kaiyou lebih menyukai pertarungan sengit nan memuaskan. Arena terlalu kecil skalanya, hanya sekadar untuk mengisi waktu luang. Jika ingin benar-benar menikmati pertarungan, ia cukup memanggil semua anggota klannya, lalu menyerbu klan Feiyu milik Xuancheng Xingyu. Pertempuran hidup mati dengan banyak orang, itulah yang membuatnya merasa puas.
Merebut rekor dungeon dan memburu bos liar pun sama saja. Dalam hal-hal seperti itu, kegagalan berarti kekalahan, ada makna pertaruhan penuh di dalamnya. Jiang Kaiyou memang menyukai sensasi bertarung dengan sungguh-sungguh.
Secara gamblang, Jiang Kaiyou menyukai atmosfer persaingan penuh, aroma pertarungan hidup mati. Walaupun hidup dan mati di dalam game sama sekali tak berkaitan dengan kenyataan, sensasi yang mirip itu tetap membuatnya ketagihan. Di arena, walaupun kalah, bisa langsung lanjut ke pertandingan berikutnya. Karena itulah Jiang Kaiyou tidak terlalu bersemangat.
Andai Jiang Kaiyou berniat memperebutkan posisi pertama di papan PK arena, mungkin ia akan bersemangat. Namun, nyatanya tidak. Karena saat ini, peringkat satu di papan PK arena sudah bertanding lebih dari lima ratus kali, dengan poin melebihi enam puluh ribu.
Sedangkan dirinya, baru seratusan pertandingan, dengan poin delapan ribuan. Baru sekarang mulai mengejar, rasanya sudah terlalu terlambat. Jiang Kaiyou malas bertanding sebanyak itu, jadi sama sekali tidak berniat merebut posisi puncak PK arena.
Nanti malam pukul setengah sembilan, bos liar akan muncul. Dengan karakternya, Jiang Kaiyou pasti akan ikut serta. Namun, setelah satu bulan sejak server dibuka, beberapa klan sudah berkembang pesat. Perebutan bos liar kali ini pasti jauh lebih sengit daripada sebelumnya.
Sore tadi, Jiang Kaiyou sudah menghitung di klan. Malam ini sekitar pukul setengah sembilan, anggota yang bisa online dan ikut berburu bos ada dua puluh dua orang. Termasuk dirinya, total dua puluh tiga orang. Dua puluh tiga orang... seharusnya cukup.
Sekarang, jumlah klan di Ren Tianya sangat banyak, sudah mencapai tiga ribu. Tiga ratus di antaranya memiliki anggota lebih dari tiga ratus orang. Dibandingkan mereka, skala klan Lie Ying memang kecil.
Namun, walaupun anggota mereka banyak, itu hanya sekadar angka. Anggota-anggota klan besar itu tidak patuh pada komando dan banyak pula yang jarang online. Mereka hanya asal bergabung ketika melihat ada klan yang butuh anggota, lalu setelah permohonan diterima, mereka pun masuk. Mayoritas klan dengan anggota tiga ratus lebih terbentuk seperti ini.
Jumlah anggota Lie Ying dalam dua hari terakhir telah bertambah hingga tiga puluh sembilan orang. Meski masih jauh dari klan yang beranggotakan tiga ratus, tapi anggota Lie Ying semuanya disiplin, sering online, dan siap bersatu kapan saja untuk bertempur.
Jadi, yang paling dikhawatirkan Jiang Kaiyou bukanlah klan-klan besar yang berisi tiga ratus orang tapi bahkan tidak sanggup mengumpulkan tiga puluh orang untuk berburu bos. Yang ia waspadai adalah klan Feiyu, milik Xuancheng Xingyu!
Klan Feiyu beranggotakan tujuh puluh dua orang, masih kalah dari klan besar. Tapi sifat mereka sama seperti Lie Ying; anggotanya aktif, sering online. Jika mereka turun berburu bos, setidaknya lima puluh orang akan hadir.
Rata-rata level di Ren Tianya saat ini adalah 32. Bos yang tersedia pun semakin banyak. Malam ini, ada tiga bos yang akan muncul, masing-masing di tiga negara bagian berbeda. Jiang Kaiyou dan timnya belum tentu akan bertemu dengan Xuancheng Xingyu. Namun, karena permusuhan Xuancheng Xingyu terhadapnya, Jiang Kaiyou khawatir mereka sengaja menyeberang ke negara lain untuk memburunya.
Ya sudahlah. Kalau benar bertemu, tinggal hadapi saja...
Setelah selesai makan dan membereskan peralatan makan, Jiang Kaiyou duduk di depan komputer, masuk kembali ke dalam game. Begitu masuk, beberapa undangan PK langsung bermunculan di sudut kiri atas layar. Karakternya masih berada di kanal arena dan belum keluar.
Jiang Kaiyou mengabaikannya, langsung keluar dari kanal arena, lalu mengendalikan karakternya menuju Jingzhou. Kali ini, ia berniat merebut bos di Jingzhou. Anggota klan yang lain pun segera menuju Jingzhou untuk berburu bos bersama.
Jingzhou, Gunung Daun Maple...
Di Jingzhou terdapat Gunung Daun Maple. Di kaki gunung itu ada sebuah kota kecil bernama Kota Daun Maple. Baik gunung maupun kota kecil ini memiliki kesamaan: keduanya dipenuhi pohon maple. Setiap kali angin berhembus di dalam game, dedaunan maple berguguran dari pohon dan beterbangan di tanah, membuat suasana terasa ringan dan romantis.
Dulu, saat melihat gambar promosi Gunung Daun Maple dan Kota Daun Maple, Jiang Kaiyou dan beberapa temannya sempat berkomentar, “Desain seperti ini memang sengaja dibuat agar para pemain gampang jatuh cinta secara daring, ya?”
Tentu saja, itu hanya candaan. Jiang Kaiyou pergi ke Gunung Daun Maple kali ini bukan untuk mencari cinta. Ia baru berusia 14 tahun. Ia ke sana untuk memburu bos!
Dari Kota Chang’an di Liangzhou, Jiang Kaiyou menemui NPC tukang perahu di dermaga, membayar sejumlah uang perak untuk menyeberang ke Kota Daun Maple. Bersamanya ada Xingyu dan Xuan Yuxin. Anggota lain berangkat dari tempat berbeda, bahkan ada yang sudah tiba lebih dulu.
Sekitar setengah jam kemudian, di luar Kota Daun Maple...
Dengan menggunakan perahu melalui NPC di dermaga, Jiang Kaiyou dan timnya tiba di Kota Daun Maple di Jingzhou setelah setengah jam. Di atas rakit bambu di danau dekat kota, karakter Jiang Kaiyou, Ren Fengying, berdiri di ujung rakit, memandangi pemandangan sekitar.
Saat ini sudah malam, baik di dunia nyata maupun di dalam game. Langit dihiasi bintang-bintang, bayangan bulan terpantul di permukaan danau, dan beberapa lembar daun maple terapung di atas air. Jiang Kaiyou tahu itu adalah daun maple, hanya saja karena malam hari, ia tidak merasa terbawa suasana.
Xingyu mengendalikan karakternya untuk mendayung rakit, segera merapat ke dermaga. Jiang Kaiyou dan yang lain turun ke darat. Di Kota Daun Maple, anggota klan Lie Ying sudah hampir semuanya berkumpul di sekitar dermaga.
Jiang Kaiyou mengirim pesan di kanal klan, meminta semua orang segera berkumpul di dermaga.
Tak lama, semua sudah berkumpul. Jiang Kaiyou menatap mereka dan bertanya, “Bagaimana situasi di gunung? Siapa yang sedang mengawasi?”
“Xingchen yang mengamati,” jawab Fengyun Bahuang. Jiang Kaiyou memang sudah mengatur sejak sore agar satu anggota lebih dulu memantau keadaan di Gunung Daun Maple, mencari tahu berapa banyak klan dan pemain yang siap berebut bos di sana.
“Oh, bagaimana keadaannya?” tanya Jiang Kaiyou.
“Lima menit lalu, dia mengabarkan, sudah ada kerumunan besar. Tidak sampai tujuh ratus, setidaknya lima ratus orang,” jawab Fengyun Bahuang.
“Waduh!” Jiang Kaiyou sempat terkejut dan gembira mendengarnya. Ia lalu menggerakkan karakternya, memandang Gunung Daun Maple di luar kota, tersenyum di sudut bibirnya, dan berkata dengan penuh semangat, “Seharian ini sudah bosan, sekarang saatnya melampiaskan semuanya!”