Bab 19 Pria yang Canggung
Gu Mingyue dan pelayan setianya baru saja turun dari kereta kuda ketika mereka berpapasan dengan Lu Beiyan yang baru pulang bekerja.
"Dari mana saja kau, mengapa baru pulang selarut ini?" tanya Lu Beiyan dengan wajah masam.
Gu Mingyue memutar bola matanya, lalu menunjuk ke arah barang-barang yang sedang diturunkan dari kereta. "Besok adalah hari kunjungan balasan ke rumah orang tua saya. Saya pergi ke pasar untuk membeli beberapa keperluan, apakah itu tidak diperbolehkan?"
Wajah Lu Beiyan semakin gelap. "Apakah di kediaman ini tidak ada?"
Jika untuk urusan buah tangan kunjungan balasan saja istrinya harus membeli sendiri, jika orang lain tahu, bukankah kediaman jenderal akan menjadi bahan tertawaan?
Gu Mingyue tersenyum manis ke arahnya. "Apakah Tuan Suami akhirnya mengakui bahwa kita adalah pasangan suami istri?"
Sebenarnya, Gu Mingyue sangat cantik. Namun, karena kesan buruk Lu Beiyan terhadap Gu Mingjiao yang sudah tertanam sejak lama, ia pun berprasangka buruk dan tidak menyukai siapa pun dari keluarga Gu.
Melihat senyuman itu, sesaat ia merasa terpana. Wajahnya seketika terasa panas, meski di dalam hati ia mengumpat, *Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia tersenyum padaku? Apa yang lucu?*
Harus diakui, senyum Gu Mingyue sangat menawan, jauh lebih cantik daripada wajah Ruan Ling'er. Tiba-tiba, Lu Beiyan merasa bahwa dibandingkan dengan Gu Mingyue, Ruan Ling'er tampak seperti lobak dalam air bening—terasa sangat hambar.
Begitu pikiran itu muncul, Lu Beiyan tersentak kaget. Ia ketakutan dengan perasaan yang tiba-tiba tumbuh itu dan memaki dirinya sendiri karena dianggap tidak berpendirian, seolah telah terpesona oleh wanita ini. Baginya, Ling'er adalah wanita paling sempurna di dunia yang tidak mungkin bisa dibandingkan dengan Gu Mingyue.
Ia segera memalingkan wajah dan mendengus dingin. "Jangan merasa diri sudah menang lalu bertingkah."
Cahaya senja yang menyapu wajah Lu Beiyan membuat garis wajahnya tampak semakin sempurna. Mata Gu Mingyue berbinar, dan ia sempat menangkap rona merah di wajah pria itu.
Gu Mingyue mengerjapkan mata, lalu menyunggingkan senyum. "Karena Tuan Suami sudah di sini, bantulah membawakan barang-barang ini."
Lu Beiyan bahkan tidak menatapnya. Ia melangkah cepat ke depan kereta, menyambar dua bungkusan, lalu masuk ke dalam kediaman dengan langkah terburu-buru, seolah sedang melarikan diri.
Gu Mingyue tersenyum kecil. Pria ini ternyata benar-benar kaku. Dalam ingatannya, pria ini selalu bersikap dingin dan menjaga jarak dengan orang asing. Sebelum masa pengasingan, ia belum pernah melihat Lu Beiyan, jadi ia tidak menyangka pria muda ini ternyata bisa bertingkah seperti pemuda yang canggung.
Gu Mingyue menggelengkan kepala, lalu ikut membantu membawa dua barang sebelum masuk ke dalam bersama kedua pelayannya. Namun, baru saja masuk, ia melihat Ruan Ling'er dan Lu Beiyan sedang tarik-menarik di koridor tak jauh dari sana.
Sebuah suara manja segera terdengar di telinga Gu Mingyue dan kedua pelayannya.
"Kakak Yan, biarkan pelayan saja yang membawa barang-barang ini, mengapa harus Kakak sendiri?"
Ruan Ling'er telah menunggu di kediaman Lu Beiyan hingga hampir malam. Karena tidak melihat Lu Beiyan pulang, ia bahkan belum makan malam dan berlari ke gerbang untuk menunggu. Ia tidak menyangka akan bertemu Lu Beiyan yang membawa dua kotak, dan mengira itu adalah hadiah untuknya, sehingga ia dengan gembira hendak mengambilnya.
"Uhuk, uhuk... Ling'er, ini milik Gu Mingyue, aku hanya membantunya membawakan," kata Lu Beiyan dengan canggung.
Itulah yang didengar Gu Mingyue saat ia masuk tadi. Gu Mingyue segera berhenti dan memperhatikan mereka yang sedang tarik-menarik.
Begitu Ruan Ling'er mendengar bahwa itu adalah barang milik Gu Mingyue, api amarah seketika meledak. Ia merebut barang dari tangan Lu Beiyan, melemparkannya ke tanah, dan berkata dengan tidak puas.
Kakak Yan tidak pernah membawakannya barang, mengapa harus membawakannya untuk wanita jalang itu? Hal itu membuatnya sangat marah hingga nyaris meledak. Ruan Ling'er merasa Lu Beiyan tiba-tiba banyak berubah. Demi Gu Mingyue, rencana malam pertama mereka batal, dan ia ditinggalkan sendirian. Sekarang, pria itu bahkan memedulikan wanita jalang itu sampai mau membawakan barangnya.
"Keterlaluan! Bagaimana kalau barang di dalamnya rusak?" Lu Beiyan menegur dengan suara pelan sambil bergegas memungut barang-barang itu kembali. Ia menambahkan, "Ayo cepat kembali. Bukankah kau belum makan malam, Ling'er? Mari kita makan bersama di dalam."
Ruan Ling'er tetap diam di tempatnya. Dengan sedih ia bertanya, "Kakak Yan, apakah kau sudah tidak menyukai Ling'er lagi?"
Lu Beiyan menoleh dengan bingung. "Mengapa kau bertanya seperti itu, Ling'er?"
Ruan Ling'er menghentakkan kakinya, membuang muka, dan mendengus dingin. "Pokoknya, Ling'er merasa Kakak Yan sudah tidak menyukai Ling'er lagi."
"Sudahlah, jangan bicara kekanak-kanakan seperti itu. Ayo cepat kembali." Saat menoleh, Lu Beiyan melihat Gu Mingyue dan pelayannya sudah masuk. Ia merasa malu karena membicarakan hal ini di depan orang lain, jadi ia segera mendesak.
Ruan Ling'er justru sengaja melakukan itu karena melihat Gu Mingyue datang; ia ingin memaksa Lu Beiyan untuk menyatakan cintanya. Lu Beiyan memahami sifat kekanak-kanakan itu. Dulu, mungkin ia akan langsung menjawab bahwa ia menyukai Ruan Ling'er tanpa ragu. Namun, setelah melihat kecerdasan, ketenangan, dan kecantikan Gu Mingyue, kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokannya dan tidak bisa diucapkan.
Ia seketika memasang wajah dingin dan berkata dengan suara rendah, "Ling'er, kau sudah tidak kecil lagi, mengapa masih menanyakan hal kekanak-kanakan seperti ini? Jika kau masih belum bisa bersikap dewasa, waktu pernikahanmu akan ditunda. Tunggulah sampai kau sedikit lebih dewasa baru kita bicarakan lagi."
Setelah berkata demikian, ia tidak lagi memedulikan Ruan Ling'er dan pergi membawa barang-barang tersebut ke arah Kediaman Yaoguang milik Gu Mingyue.
"Kakak Yan!" teriak Ruan Ling'er ke arah punggung pria itu, namun Lu Beiyan menghilang di tikungan tanpa menoleh sedikit pun.
Ruan Ling'er berdiri di tempat, menatap tajam ke arah Gu Mingyue dan pelayannya yang sedang berjalan mendekat. Ia menunjuk Gu Mingyue dan berteriak lepas kendali, "Gu Mingyue, ini semua gara-gara kau! Mengapa kau harus menikah ke sini?"
Gu Mingyue meletakkan barang di tangannya ke tanah dan menatapnya dengan geli. "Aku bahkan tidak tahu kalau untuk menikah ke kediaman jenderal aku harus meminta persetujuanmu. Memangnya kau ini siapa di kediaman jenderal?"
Benar-benar bodoh. Baru sedikit saja sudah tidak tahan dan mengamuk. Jika nanti Lu Beiyan dan dirinya benar-benar menjadi pasangan suami istri, bukankah wanita ini akan menjadi gila? Dengan tingkat kemampuan seperti ini, Gu Mingyue tidak habis pikir mengapa di kehidupan sebelumnya Gu Mingzhu bisa sampai ditindas seperti itu oleh Ruan Ling'er.
"Aku membencimu! Aku akan membencimu seumur hidupku! Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa yang kau inginkan. Tunggu saja, seumur hidup ini kau hanya akan kesepian di kamar kosong!" Ruan Ling'er melontarkan kata-kata kejam itu lalu berlari pergi dengan cepat.
"Cih." Gu Mingyue mendengus dingin ke arah punggung Ruan Ling'er. Mengancamnya dengan hal seperti itu? Apakah ia peduli? Ia sama sekali tidak peduli.
Xiao Chun juga ikut mencibir, "Nona, apakah Ruan Ling'er itu sudah gila? Dia itu siapa, berani-beraninya bicara seperti itu. Dia sama sekali tidak tahu diri. Seorang gadis yatim piatu yang menumpang hidup, dari mana dia mendapatkan keberanian untuk berkata demikian? Bahkan jika nantinya diangkat menjadi selir oleh Tuan Muda, dia tetap saja seorang selir, mana bisa melampaui Nyonya Utama. Benar-benar tidak tahu malu."
Gu Mingyue mengerutkan bibir, "Itu karena keluarga Lu yang memanjakannya. Ayo pergi, hari sudah hampir gelap, nanti kita harus berjalan dalam kegelapan."
Koridor di depan masih memiliki lampu, namun untuk menuju Kediaman Yaoguang mereka harus melewati hutan kecil yang tidak ada penerangannya. Jika tidak segera pergi, mereka akan terjebak dalam gelap.
Kedua pelayan itu mengangguk, lalu mereka bertiga pun segera bergegas menuju Kediaman Yaoguang.