Bab 6: Sahabat Dekat Shen Wenwan
Keesokan paginya, suara dering telepon milik Xiao He berbunyi. Itu dari Shen Wenwan.
"Xiao He, sahabatku bilang aku harus segera ke Grup Yuntian untuk menemuinya. Dia juga bilang urusan kerja sama dengan Grup Yuntian serahkan saja padanya. Selama bisa menjalin kerja sama, Kakek pasti akan memandangku dengan cara yang berbeda," ucap Shen Wenwan dengan penuh semangat.
"Baik, aku segera ke sana," jawab Xiao He.
"Ya, aku tunggu."
Tanpa sempat sarapan, Xiao He langsung naik ke mobil.
"Xiao Tian, antar aku ke tempat istriku!"
"Siap, Kak Xiao!"
Anak buahnya, Xiao Tian, sudah membukakan pintu untuknya.
Ketika Xiao He belum sampai di depan gedung apartemen, Shen Wenwan sudah menunggunya di bawah.
"Xiao He! Aku di sini!" panggil Shen Wenwan.
Hari itu Shen Wenwan tampil sangat menawan, memberi kesan segar dan berbeda dari biasanya.
Shen Wenwan masuk ke mobil, tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. "Xiao He, sahabatku sudah menunggu kita di Grup Yuntian. Ayo kita berangkat sekarang! Dia sangat yakin bisa membantuku mendapatkan pesanan dari Grup Yuntian."
"Ya, istriku memang punya banyak relasi dan kemampuan bisnis yang hebat. Denganmu, aku tak khawatir akan diusir dari rumah," balas Xiao He sambil tertawa.
Ia sebenarnya sudah berbicara dengan Yun Zheng, jadi Shen Wenwan hanya perlu datang secara simbolis untuk mendapatkan pesanan itu.
"Tentu saja, siapa dulu aku!" jawab Shen Wenwan dengan senyum percaya diri.
Selama bertahun-tahun, wajahnya yang rusak membuatnya selalu dipandang sebelah mata, terpaksa menutupi wajah dan hidup di sudut gelap. Xiao He memberinya harapan baru dan mengubah hidupnya; dialah lelaki yang paling dicintainya.
Shen Wenwan tak ingin kehilangan Xiao He, apa pun yang terjadi.
Di perjalanan, tiba-tiba Shen Wenwan teringat sesuatu. "Xiao He, sudah lihat berita hari ini belum? Kepala keluarga Wang dari keluarga Wang, salah satu dari empat keluarga besar di Jianghai, ditemukan tewas di rumah. Katanya pelakunya adalah seseorang yang mengenakan topeng."
Keluarga Wang adalah salah satu yang paling berpengaruh di Jianghai, bahkan paling kuat di antara empat keluarga besar itu.
Kepala keluarga Wang, Wang Zhenshan, sangat dihormati.
Kemarin, keluarga Wang baru saja mengadakan pesta perayaan di vila. Seorang pria bertopeng di hadapan banyak tamu mengirimkan peti mati sebagai hadiah pada Wang Zhenshan, lalu langsung menggorok lehernya. Wang Zhenshan tewas seketika.
Semua orang bertanya-tanya siapa sebenarnya pria bertopeng misterius itu. Kota Jianghai pun geger.
Kepolisian membentuk tim khusus untuk menyelidiki, namun sejauh ini belum ada petunjuk.
Xiao He berpura-pura tertarik, "Benarkah? Siapa yang berani membunuh di hadapan banyak orang di pesta keluarga Wang?"
"Itu dia! Wang Zhenshan menduduki peringkat ketiga dalam daftar orang kaya Jianghai, benar-benar keluarga terpandang. Bisnis keluarga Wang tersebar di berbagai industri, punya koneksi di dunia usaha, militer, dan pemerintahan. Tapi tokoh besar seperti itu bisa meninggal dengan mudah, sungguh mengejutkan."
"Kalau bisa menikah dengan keluarga Wang, itu sama saja seperti menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh penting di tiga dunia itu. Di kota Jianghai yang sebesar ini, pasti bisa hidup dengan bebas."
"Lalu kamu? Apa kamu juga berpikir begitu?" tanya Xiao He dengan nada menggoda.
"Bukan, aku tak seberuntung itu. Semua orang ingin masuk keluarga kaya dan hidup seperti nyonya besar, tapi kehidupan seperti itu bukan milikku. Aku hanya ingin bersama orang yang paling kucintai dan membangun kerajaan sendiri," jawab Shen Wenwan sambil menatap Xiao He dengan malu-malu.
Xiao He pun merangkul pinggang Shen Wenwan, membiarkannya bersandar di pundaknya.
Memiliki istri seperti ini sungguh membahagiakan.
Xiao Tian mengemudi dengan serius, sama sekali tidak merasa dirinya jadi pengganggu. Ia memang tidak paham urusan cinta.
Setengah jam kemudian.
Grup Yuntian.
Shen Wenwan memandang deretan gedung tinggi di depan matanya dengan penuh kekaguman.
Direktur utama Grup Yuntian, Yun Zheng, adalah orang terkaya di Jianghai. Pertumbuhan GDP kota Jianghai dalam beberapa tahun terakhir, sepertiganya berkat kontribusi Yun Zheng. Bisnis Grup Yuntian tersebar di seluruh provinsi di Negeri Naga, dan Jianghai hanyalah salah satunya. Karena itulah, Yun Zheng sangat dihormati oleh masyarakat setempat.
Sebagai bintang baru di dunia bisnis, Yun Zheng juga menjadi idola Shen Wenwan.
Shen Wenwan mengajak Xiao He masuk ke lobi. Tak jauh dari sana, ia melihat sahabatnya, Zhang Xiaoxiao, tengah berbincang dengan seorang pria paruh baya.
"Xiaoxiao!" serunya sambil berlari kecil.
Zhang Xiaoxiao tampil sangat menawan dengan setelan ketat warna abu-abu tua, rok mini sempit, kaki jenjang bersarung stoking transparan warna kulit, dan sepatu hak tinggi hitam runcing.
Ia menatap Shen Wenwan dari atas ke bawah, terkejut. "Wenwan, benar-benar kamu?"
Si itik buruk rupa yang dulu rusak wajahnya, kini telah berubah menjadi angsa putih yang cantik, tentu saja ia terkejut.
"Xiaoxiao, ini aku! Sudah bertahun-tahun kita tak bertemu. Sekarang kamu sudah jadi wakil manajer di Grup Yuntian," kata Shen Wenwan.
Zhang Xiaoxiao tersenyum bangga. "Ah, hanya kebetulan saja. Aku kenalkan, ini Manajer Li Mao dari Grup Yuntian. Kalau mau dapat pesanan dari Yuntian, harus dapat persetujuan dari beliau."
Li Mao, berusia empat puluhan, agak botak, tubuh gemuk, perut buncit.
Melihat wajah cantik dan tubuh indah Shen Wenwan, ia menelan ludah, lalu mengulurkan tangan besarnya dan tersenyum, "Nona Shen, salam kenal. Nama saya Li Mao, panggil saja Mao-ge."
Melihat tatapan Li Mao, Shen Wenwan langsung mengernyitkan dahi.
Saat itu Zhang Xiaoxiao mendekat dan berbisik di telinga Shen Wenwan, "Manajer Li bilang, malam ini ia menunggumu di hotel. Asal kau bisa memuaskannya, bukan cuma pesanan sepuluh juta, bahkan lima puluh juta pun bisa ia bantu dapatkan."
Wajah Shen Wenwan seketika berubah.
"Xiaoxiao, aku menganggapmu sahabat, tapi kau menganggapku apa?"
"Wenwan, dengar dulu. Aku sungguh-sungguh ingin membantumu. Aku bisa berada di posisi ini selain karena keberuntungan juga berkat bantuan Manajer Li. Dunia hiburan saja ada aturan semacam itu. Lagi pula, Manajer Li tertarik padamu, itu keberuntungan bagimu."
"Tidak! Sama sekali tidak mungkin!" Shen Wenwan benar-benar terkejut sahabatnya sendiri mau menjual tubuh demi jabatan.
Andai ia tahu cara Xiaoxiao seperti ini, ia takkan datang meski diancam sekalipun.
Shen Wenwan langsung berbalik, namun Zhang Xiaoxiao menariknya kembali.
"Shen Wenwan, jangan menolak rezeki. Banyak orang antre minta bantuan Manajer Li, dan dia tak setuju. Demi bertemu denganmu, dia sudah menolak urusan bisnis bernilai jutaan. Kerugian itu bisa kamu tanggung?"
Zhang Xiaoxiao sudah beberapa kali menggugurkan kandungan, dan Li Mao pun sudah bosan padanya. Agar Li Mao tetap bersamanya, Zhang Xiaoxiao menawarkan Shen Wenwan. Li Mao berjanji akan memberikan hadiah sebuah Ferrari bernilai jutaan jika berhasil.
Maka Zhang Xiaoxiao sangat berusaha, hari ini ia harus membuat Li Mao tidur bersama Shen Wenwan.
"Perempuan jalang ini sok-sokan suci di depanku!" umpat Zhang Xiaoxiao dalam hati.
"Zhang Xiaoxiao, cukup! Sekalipun aku tak dapat pesanan dari Yuntian, aku takkan pernah setuju!" tegas Shen Wenwan tanpa ragu.