Bab Enam: Bukankah Memanfaatkan Barang Bekas Itu Pengetahuan Dasar? (Mohon... suara...)
Begitu kata-kata itu terucap, semua orang terperanjat!
“Wabah, wabah penyakit?!” Wajah semua orang dipenuhi ekspresi terkejut. Harus diketahui bahwa wabah adalah sejenis penyakit menular yang tak pasti, bahkan wabah yang paling lemah pun dapat menyebabkan luka di mulut dan lidah, kepala pusing, serta serangkaian gejala lain. Jika wabah itu disebabkan oleh penyakit menular yang sangat kuat, akibatnya tentu akan sangat mengerikan.
“Tidak mungkin, di tempat seperti ini mana mungkin ada wabah? Si Wajah Belang juga tidak bilang apa-apa kok.” Yang lain pun ikut-ikutan memberi pendapat. Hal lain tak terlalu penting, tapi ternyata mereka cukup cepat belajar menyebut julukan “Wajah Belang” dari Kira.
Orang yang pertama kali menyebut soal wabah adalah Lucio, pemuda yang berasal dari Brasil. Justru karena ia adalah keturunan kulit hitam—dan sebagai pejuang kemerdekaan internasional, ia tahu bahwa pada sejarah bumi jumlah kematian karena wabah cacar paling banyak menimpa orang kulit hitam—ia pernah mempelajari sejarah ini dengan rinci, bahkan pernah melihat foto-foto kasus penyakit tersebut. Lewat kesempatan itu, ia juga membaca berbagai literatur tentang wabah. Ada satu gambar yang sangat ia ingat, pasien pada gambar itu tubuhnya dipenuhi bercak kebiruan kehitaman, sangat mirip dengan bercak yang sedikit terlihat di balik perban si Wajah Belang di depannya, walau tidak sama persis. Maka ia pun berani menebak.
Setelah mendengar penjelasannya, semua mata tertuju pada tangan si Wajah Belang yang dibalut perban. Benar saja, terlihat beberapa bercak kecil.
Awalnya mereka mengira hanya sekumpulan anak-anak, ternyata mereka juga memiliki pengetahuan luas. Si Wajah Belang pun sedikit lega. Walau ia sendiri tak paham apa itu wabah yang dimaksud, mungkin saja mereka mengira kutukan di tubuhnya sebagai wabah, toh itu bisa menghemat penjelasan darinya dan membuat mereka mau meninggalkan tempat ini.
“Seperti yang kalian lihat, tempat ini sangat berbahaya. Sebaiknya kalian segera pergi.”
Terkadang, manusia memang makhluk yang keras kepala. Dipaksa tidak mau, didorong malah mundur, dilarang justru ingin dilakukan.
Kini, di hadapan Kira adalah sekelompok orang suku yang meskipun sudah berinteraksi dengan peradaban luar, tetap memegang teguh kepercayaan sendiri. Di tengah kondisi suku mereka yang sudah di ambang kehancuran, entah kenapa mereka meminta bantuan kepada Asosiasi Pemburu, tapi di sisi lain menolak kehadiran orang luar untuk menghindari bahaya bagi orang lain—perasaan yang rumit.
Sisi kemanusiaan semacam ini, benar-benar menjengkelkan... Sampai-sampai orang ingin pergi pun tak bisa begitu saja.
“Hey!” Kira menghentikan langkah si Wajah Belang yang sudah mulai berbalik pergi. “Kalian punya barang berharga tidak? Toh kalian semua bakal mati, mending serahkan saja, biar bisa aku manfaatkan semaksimal mungkin!”
“Maaf, tamu dari negeri jauh. Sekalipun suku kami harus punah, kami tetap akan menjaga tanah air kami hingga titik darah penghabisan!” Aura tajam mulai terasa dari tubuhnya.
Mendengar itu, Kira menunjukkan ekspresi berbahaya; matanya seolah tertelan kegelapan. “Kalau begitu, maaf, kau akan jatuh di sini.”
“Kau!…” Si Wajah Belang tak mengerti kenapa bocah yang tadinya tampak baik-baik saja tiba-tiba berubah menjadi perampok kejam. Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, kesadarannya telah menghilang.
Entah sejak kapan, Kira sudah berada di belakang si Wajah Belang. Melihat tubuh yang terjatuh di kakinya, ia menarik tangan si Wajah Belang dan menyeretnya kembali ke hadapan yang lain. Dengan waspada, ia menatap Emily dan Lucio, “Kalian berdua yang belum membangkitkan Nen, mundurlah sepuluh meter ke belakang.”
“Ketua!” Emily dan Lucio berseru bersamaan.
“Apa kau sudah lupa apa yang kukatakan tadi? Siapa namamu, Emily?!”
“Ketua…”
“Apa?”
“Emily Kira!”
“Kalau begitu, mundurlah sepuluh meter.”
Mau tak mau, Black Lily akhirnya menuruti perintah Kira dan mundur dengan patuh. Lucio sendiri sudah menunggu di jarak sepuluh meter.
Tak ada pilihan lain, Kira dan kawan-kawannya terlindung oleh Nen, sehingga bahkan di daerah Meteor Street yang paling parah pun mereka tetap bisa bergerak bebas, apalagi cuma menghadapi wabah seperti ini. Tapi Emily dan Lucio belum memiliki perlindungan Nen, mereka baru saja tiba di dunia ini dan belum membangkitkan kemampuan itu. Jika penyebab kematian di wilayah ini memang wabah yang mematikan, belum tentu tubuh mereka mampu bertahan.
Setelah membaringkan tubuh si Wajah Belang yang pingsan di tanah, Kira memastikan semua orang di sekitar sudah mengaktifkan Ten sebelum perlahan-lahan membuka perban yang menutupi tubuhnya. Ia pun melihat penuh seluruh bercak yang tersembunyi di balik perban itu:
Kulitnya berkerut, bercak kuning kehijauan, di beberapa bagian tampak hitam kemerahan, membentuk titik-titik besar yang sangat mengerikan.
“Ini…” Kira sendiri tak bisa memastikan apa sebenarnya penyakit ini. Ia memang tahu tentang wabah, tapi belum pernah melihatnya langsung. Ia pun melirik ketiga orang di sekitarnya, meminta petunjuk: Apa ini?
Jelas sekali, ia berharap terlalu banyak. Semua orang di situ adalah manusia normal. Kalau boleh jujur: kami semua masih anak-anak! Mana mungkin kami mau memperhatikan hal-hal yang menjijikkan seperti itu? McCree dan Genji langsung memalingkan muka, berpura-pura menikmati pemandangan. Satu-satunya yang menatap Kira dengan ramah adalah pelayan kecil, Alu, yang memasang ekspresi: Aku juga tidak tahu!
Sungguh, tak ada jalan lain.
“Lucio! Tetap di situ, jangan bergerak. Kau kenal penyakit ini?” Lucio yang pertama mengemukakan dugaan, dan ia juga yang memberi penjelasan. Kini, hanya ia yang paling tahu soal wabah semacam ini.
Mendengar panggilan ketua, wajah Lucio seketika menggelap, tapi ia segera sadar orang lain pun tak bisa membedakan ekspresinya. Maka ia pun memonyongkan bibirnya, menandakan ketidakpuasan.
Sungguh sulit dibayangkan—seorang anak laki-laki berkulit hitam dengan gaya rambut anemon memonyongkan bibir kepada seseorang yang usianya kelihatan lebih muda darinya. McCree yang kocak pun tak sanggup menahan tawa.
Kira pun menatap Lucio dengan wajah penuh garis hitam, jelas sekali sedang mengancam.
“Sepertinya memang wabah, tapi aku tidak tahu pasti jenisnya. Aku hanya sedikit paham, bukan dokter,” jawab Lucio, setelah melampiaskan kekesalannya sebentar, lalu menatap serius.
Sial, ini jadi merepotkan. Ia sudah menjatuhkan orang itu tanpa izin, awalnya mengira ada yang bisa menebak penyakitnya, berarti juga tahu cara mengobatinya. Ternyata hanya setengah tahu!
Namun, itu bukan berarti Kira kehabisan akal. Justru situasi ini cocok untuk menguji metode yang dulu pernah ia pikirkan. Jika berhasil, kemampuan Nen miliknya bisa jadi akan berkembang lebih jauh!
Catatan: Aku sendiri merasa bagian transisi beberapa bab ini kurang baik... tapi kemampuanku memang terbatas, mohon maklum… Tolong, ya! Kalau ada yang punya ide cerita atau plot twist menarik, silakan saja... Aku memang sering minta saran ke Zizhu, tapi tak boleh meniru! Bagi pembaca Overwatch, boleh juga kasih ide bagaimana para pahlawan bisa mengembangkan kemampuan Nen dengan lebih baik =.=