Bab 124: Menghukum Satu untuk Memberi Pelajaran kepada Semua
Saat Shen Wenwan menandatangani kontrak dengan Shen Xianghua, Xiao He mulai melakukan transfer dana menggunakan Kartu Raja Naga yang baru saja diberikan oleh Shen Wenwan.
Tak lama kemudian, semua prosedur administrasi pun rampung.
"Kakek Kedua, sekarang semua dokumen sudah lengkap dan dananya juga sudah masuk. Perusahaan Anchuang kini resmi menjadi milik istri saya," ucap Xiao He sambil menatap Shen Xianghua.
Perasaan Shen Xianghua campur aduk. Ia kemudian menatap Shen Wenwan dengan sungguh-sungguh, "Wenwan, Anchuang resmi kuserahkan untuk kau kelola. Aku percaya pada kemampuanmu; kau pasti bisa membawa Anchuang menuju puncak kejayaan."
Shen Wenwan menggenggam tangan Shen Xianghua dan menjawab, "Kakek Kedua, terima kasih atas dukungannya. Saya pasti bisa melakukannya."
Tepat pada saat itu, Shen Peng bergegas datang dan berkata, "Ayah, gawat! Terjadi kekacauan di pabrik."
"Ada apa? Kau sudah dewasa, kenapa masih ceroboh begitu?"
"Ayah, para pekerja di pabrik melakukan protes massal dan kerusuhan. Cepatlah kita ke sana, mereka sedang membongkar mesin-mesin!"
"Apa? Siapa yang begitu berani?" seru Shen Xianghua secara spontan. Perusahaan memang sudah tiga bulan tidak membayar gaji, tetapi para pekerja tidak seharusnya senekat itu membongkar suku cadang mesin untuk dijual.
"Sayang, ayo kita pergi melihatnya," ajak Xiao He kepada Shen Wenwan. Karena perusahaan itu baru saja menjadi milik istrinya, ia tidak boleh membiarkan masalah terjadi di saat krusial seperti ini.
Mereka bergegas menuju gedung pabrik. Baru saja sampai di depan pintu, mereka melihat banyak pekerja memegang peralatan, bahkan ada beberapa orang yang memanjat mesin untuk membongkarnya.
Di pintu bengkel satu, berdiri seorang pria paruh baya yang berminyak dan botak. Dia adalah wakil manajer pabrik bernama Zhang Yan.
Pria itu menunjuk ke arah pemuda yang menjaga pintu bengkel dan membentak, "Shen Can, jangan sok keras kepala! Cepat buka pintunya sebelum aku menghajarmu!"
"Zhang Yan, apakah kau masih punya hati nurani? Kau sudah bekerja di pabrik ini selama delapan tahun, bagaimana bisa kau setega itu melihat mesin-mesin ini dijual? Kalau nanti ada pesanan, kita mau pakai apa untuk beroperasi? Kau sama saja mematikan perusahaan ini!"
Pemuda yang menjaga pintu itu adalah Shen Can, putra dari Shen Peng. Ia sedang bekerja di tingkat dasar atas perintah ayahnya untuk melatih kemampuannya.
"Semuanya, jangan berkecil hati. Kakek saya sedang mencari jalan keluar, entah itu pinjaman atau menjual aset pribadi, pasti akan ada pertanggungjawaban untuk kalian semua."
"Sudahlah, jangan omong kosong! Anchuang sudah menggadaikan asetnya dan meminjam puluhan juta, mana ada lagi aset yang bisa dijual? Kami tidak percaya bualanmu. Kalian tidak punya uang untuk membayar, pengadilan pasti akan menyita mesin-mesin ini sebagai jaminan. Mumpung sekarang, siapa cepat dia dapat, kalau terlambat, kita tidak akan dapat apa-apa!" teriak Zhang Yan menghasut para pekerja untuk membongkar mesin.
"Jangan bilang aku bukan karyawan setia. Aku juga bekerja keras demi imbalan. Lagi pula, siapa yang tidak dikejar cicilan rumah dan kendaraan? Semua anggota keluarga butuh makan. Sekarang bukan waktunya bicara idealisme, yang kita butuhkan adalah uang."
"Kalau di sini tidak bisa mencari nafkah, kebetulan di distrik sebelah ada pabrik yang tawarannya jauh lebih baik. Ikutlah denganku, kita semua adalah saudara."
"Benar, apa yang dikatakan Wakil Manajer Zhang benar. Kita tuntut gaji tiga bulan kita, lalu kita pindah kerja massal."
"Cepat bongkar mesinnya, kita ambil uangnya!"
"Seret Shen Can ke luar, siapa pun yang menghalangi jalan, pukul saja!"
"Berhenti! Semuanya berhenti!" teriak Shen Xianghua dengan lantang.
Kedatangan Shen Xianghua membuat banyak karyawan berkerumun ke arahnya.
"Pak Direktur, kami benar-benar sudah tidak punya pilihan. Sekarang tidak ada pesanan, mesin-mesin ini hanya jadi pajangan, lebih baik dijual saja."
"Benar, Pak. Kami punya orang tua yang harus dirawat dan anak yang butuh susu, beban kami berat sekali!"
"Saya sudah sebulan ini hanya makan roti kukus dan acar!"
Shen Xianghua menatap para karyawannya dengan perasaan bersalah. Ia merasa gagal mengelola perusahaan dan tidak mampu menyejahterakan mereka. Ia membiarkan karyawannya menderita.
"Semuanya, harap tenang," teriak Shen Xianghua. "Kalian tidak perlu khawatir, saya sudah menjual perusahaan ini. Orang yang mengambil alih adalah Direktur Shen yang ada di sini. Di bawah kepemimpinannya, gaji kalian akan segera dibayarkan," lanjutnya sambil menunjuk ke arah Shen Wenwan.
"Bukankah itu Shen Wenwan? Si buruk rupa dari Jianghai yang kini berubah menjadi wanita cantik?"
"Sial, ternyata benar-benar cantik."
"Sayang sekali, bunga secantik itu justru jatuh ke kotoran sapi."
Para pekerja mulai berbisik-bisik. Ternyata karyawan tingkat bawah pun gemar bergosip; mereka cukup tahu banyak tentang berita terbaru di Jianghai.
Shen Wenwan menatap para pekerja itu dengan perasaan nyata bahwa kini ia adalah atasan mereka.
"Apa yang dikatakan Kakek Kedua benar. Saya telah mengakuisisi Anchuang. Hari ini, saya akan melunasi seluruh gaji kalian yang tertunggak. Selama kalian bersedia terus bekerja untuk perusahaan, saya jamin tidak akan mengecewakan kalian! Mulai hari ini, bagi siapa pun yang bekerja di sini, gaji kalian akan dilipatgandakan. Apakah kalian puas?" ujar Shen Wenwan dengan tulus.
Mendengar hal itu, suasana menjadi riuh. Mereka tidak menyangka direktur baru akan memberikan kesejahteraan yang begitu besar. Banyak wajah yang tadinya muram kini berubah ceria.
Tiba-tiba, Zhang Yan datang dengan wajah sok akrab, "Direktur Shen, saya Zhang Yan, manajer yang bertanggung jawab atas pabrik ini."
Shen Wenwan melirik pria itu sekilas dan berkata datar, "Apakah kau yang menghasut mereka untuk membongkar mesin?"
Zhang Yan yang tadinya ingin mencari muka di depan direktur baru, tidak menyangka Shen Wenwan langsung menuntut pertanggungjawaban.
Melihat wajah Zhang Yan yang canggung, Shen Wenwan yakin tebakannya benar. Tadi dialah yang paling lihai memutar lidah dan menghasut orang lain untuk pindah kerja.
"Direktur Shen, saya sudah bekerja di Anchuang sejak sembilan tahun lalu. Saya punya ikatan batin yang kuat dengan tempat ini. Sebentar lagi genap sepuluh tahun, saya sangat ingin melihat Anchuang kembali berjaya," kata Zhang Yan dengan nada memelas.
"Kau boleh pergi sekarang. Mulai detik ini, kau bukan lagi bagian dari perusahaan ini," tegas Shen Wenwan. Di depan semua orang, ia harus memberikan efek jera demi kelancaran manajemen ke depannya.
"Saya sudah bekerja di sini hampir sepuluh tahun, kau memecatku?" Zhang Yan tidak percaya dengan pendengarannya.
"Segera pergi ke bagian keuangan untuk menyelesaikan gaji, kami tidak menerima orang sepertimu di sini!" ekspresi Shen Wenwan sangat serius.
Orang bermuka dua seperti ini, yang kerjanya hanya membuat kekacauan, tidak akan pernah ia pertahankan. Orang seperti ini bahkan lebih berbahaya daripada hama.
Melihat Shen Wenwan tidak sedang bercanda, wajah Zhang Yan berubah masam, "Wanita ini pasti hanya akting yang disewa Shen Xianghua. Mengingat Chen Zipeng sudah ikut campur, siapa yang berani membeli perusahaan kita?"
"Zhang Yan!" teriak Shen Xianghua. Ia tidak menyangka pria itu akan senekat ini.
"Direktur Shen, bukankah Anda meminjam uang dari Chen Zipeng? Perusahaan sudah digadaikan, siapa yang berani membelinya? Kawan-kawan, tujuan kita hari ini adalah mendapatkan uang, lalu ikut saya ke pabrik lain dengan gaji tinggi!"
Begitu mendengar itu, banyak pekerja yang lugu mulai bimbang kembali. Mereka mulai gelisah lagi di bawah hasutan Zhang Yan.
"Kuberitahu kau, kalau memecatku, pabrik ini tidak akan bisa beroperasi!" ancam Zhang Yan sambil menatap Shen Wenwan dengan sombong.
"Siapa lagi yang ingin ikut dengannya, silakan pergi ke bagian keuangan untuk menyelesaikan gaji," ucap Shen Wenwan kepada kerumunan.
Beberapa orang pergi, sementara yang lain masih ragu-ragu. Saat ini, hanya tersisa tiga puluh sampai empat puluh orang di pabrik.
Shen Wenwan menatap mereka yang bertahan, "Terima kasih kalian sudah mau bertahan. Saya, Shen Wenwan, tidak akan pernah menunggak gaji kalian. Bagi yang bertahan, gaji kalian akan saya naikkan sebesar sepuluh persen dari gaji pokok!"
"Direktur Shen, kami pasti akan bekerja dengan sepenuh hati untuk Anda."
"Benar, mari bekerja dengan giat bersama Direktur Shen!"