Bab Tiga Belas, Tangan Kiri Penuh Kasih, Tangan Kanan Menggali Lubang (13)
Setelah memberi aba-aba, beberapa orang itu pun kembali ke dalam mobil, tak ada lagi yang peduli pada makam itu. Lagi pula tempat itu terpencil, semua orang tahu itu milik keluarga Gu, tak akan ada yang datang ke sana.
Peti mati itu telah dibongkar, suasananya sangat sunyi, dan tulisan di atas penutup peti terlihat sangat mencolok.
Sebagian besar pelayan di kediaman keluarga Gu sudah pergi, setelah kejadian sebesar ini, keluarga Gu pun tak ingin mereka bertahan. Hanya beberapa pelayan tua yang masih berjaga.
Dosa yang dilakukan sendiri, cepat atau lambat... pasti akan dibayar.
Nan Yan menggigit Gu Yuncheng dengan keras, lalu memanjat ke atas sofa, menunjuk Gu Yuncheng sambil marah, “Kenapa aku harus terlibat dengan keluarga kalian?!”
Satu persatu semuanya seperti ini, Gu Yuncheng tidak hanya membongkar makamnya, baru beberapa hari berlalu, sudah terjadi lagi! Yang paling parah, peti matinya sudah dibuka, tapi tak dikuburkan kembali!
Benar-benar membuat bidadari sepertinya marah besar!
Melihatnya yang begitu kesal, Gu Yuncheng terdiam lama, akhirnya tak tahan berkata, “Mau kubantu kuburkan kembali?”
Begitu ucapannya keluar, ia langsung menyesal, rasanya ada yang aneh dengan ucapan itu…
Sudahlah, lebih baik ia diam saja.
Karena kalimat itu, Nan Yan nyaris merobek mulut Gu Yuncheng yang pandai bicara, tak tahan menendang Gu Yuncheng dua kali, lalu langsung kabur. Begitu cepat larinya sampai Gu Yuncheng tak sempat bereaksi.
Melihat anak itu menghilang dengan cepat, Gu Yuncheng menundukkan pandangan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kaku. Dasar bocah pendek.
Semakin lama mereka bersama, semakin Gu Yuncheng merasa dirinya adalah seorang pendosa. Anak sebaik itu, bagaimana dulu ia bisa tega menyakitinya.
Namun Nan Yan tak akan pernah tahu penyesalan Gu Yuncheng, dan meski tahu pun ia tidak akan percaya. Ia naik ke atap, memandang Qin Huai yang sedang menyiram bunga-bunga dari balik kaca.
Pintu kaca diketuk keras, Nan Yan berdiri di luar sambil melambaikan tangan, gerak-geriknya sangat manis. Qin Huai mengangkat alis, saat keluar masih membawa setangkai kamelia putih di tangannya.
Pintu rumah kaca segera ditutup, bunga-bunga di dalam sangat rapuh, tak tahan dingin. Qin Huai menyelipkan bunga itu di rambut Nan Yan, gerakannya begitu lembut, “Ada apa?”
Aroma harum dari tubuhnya begitu kuat, Nan Yan memeluknya dan menghirup nafas panjang, “Qin Huai, kamu harum sekali.”
“Mm.” Qin Huai mengangguk, lalu menggandeng tangannya menuruni tangga. Lantai tiga adalah laboratoriumnya, Nan Yan jarang masuk ke sana, Gu Yuncheng duduk diam di sofa.
Aula sangat sunyi, semua kerangka tulang yang semalam masih ada kini telah lenyap. Nan Yan menyentuh bunga di rambutnya, kamelia putih, Qin Huai tampaknya sangat menyukai bunga itu.
“Besok kamu sudah boleh pergi.” Suara Qin Huai sangat dingin. Kondisi tubuh Gu Yuncheng sudah hampir pulih. Selama tidak terlalu dekat dengan orang lain, umumnya tak akan ada yang menyadari bahwa dia sebenarnya sudah meninggal.
Gu Yuncheng menatap Nan Yan, ingin bertanya mengapa. Bukankah Qin Huai membawanya kemari untuk memanfaatkannya melawan keluarga Gu?
Namun beberapa hari ini, Qin Huai tak pernah menanyakannya apa pun, tak memberinya tugas apa pun, mengapa... tiba-tiba memintanya pergi?
“A-Li tidak menyukaimu, Gu Yuncheng. Dia tidak akan pernah memaafkanmu.” Suara Qin Huai amat datar, tapi tak salah. Sekalipun Gu Yuncheng kini memperlakukannya sebaik apa pun, dia tetap takkan pernah memaafkannya.
Kesalahan tetaplah kesalahan, luka yang telah terlanjur terjadi, sekuat apa pun upaya menebusnya tak akan bisa memutar waktu.
“Bulan depan aku akan tinggal di rumah keluarga Gu sebagai temanmu, dan identitas A-Li adalah...” keponakanku.
Belum sempat Qin Huai selesai bicara, Nan Yan sudah menyela, “Anak perempuan yang dijodohkan sejak kecil.”
Kata-katanya baru saja selesai, dua pria itu serempak menoleh padanya, tak tahan menahan tawa di sudut bibir mereka.