Bab Empat Puluh
Gadis cantik itu selalu tampak tersenyum, namun semakin sering seseorang tersenyum, semakin dalam pula luka di hatinya. Di Paviliun Jelita, mereka tak pernah membicarakan kisah hidup masing-masing, pun tak menanyakan asal-usul satu sama lain, sebab semua orang di sana sudah paham betul. Siapa pun yang datang ke tempat itu, pasti menyimpan duka dalam hatinya.
Dari semuanya, ia adalah yang paling lama tinggal di Paviliun Jelita. Selama bertahun-tahun, ia telah melihat banyak orang datang dan pergi, dan ia pun tahu, saatnya untuk pergi juga telah tiba.
“Sudah benar-benar memutuskan?” tanya Sang Jelita dengan sorot mata yang dalam, suaranya pun menjadi lebih berat. Ia tidak terkejut dengan keputusan Opium, sebab cepat atau lambat, semua pasti akan pergi. Toh, setelah Opium pergi, ia pun akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
Ketika urusannya telah selesai, Paviliun Jelita pun takkan lagi ada.
Dengan tangan yang ramping, ia membelai kepala kucing berbulu lembut, lalu perlahan turun dari loteng ke lantai tiga. Ia selalu memperlakukan Opium secara berbeda, karena ada sesuatu yang ia butuhkan dari diri gadis itu.
Opium adalah pribadi yang rumit; ia mencintai sekaligus membenci, segala rasa manusia begitu jelas tercermin pada dirinya. Dari semua yang bertahan di Paviliun Jelita, hanya dia yang masih menggunakan wajah aslinya.
Gaun panjang biru muda menjuntai di belakangnya. Di atas loteng, Sang Jelita benar-benar tiada duanya; setiap gerak dan senyumnya mampu mengguncang hati siapa saja. Tatapan matanya yang sekilas, seperti menggores waktu sepanjang abad.
“Aku sudah memutuskan. Semakin lama sesuatu bertahan, semakin sulit pula untuk melupakan. Kalau sudah melekat di hati… Nona, apakah kau punya seseorang yang kau pedulikan?” tanya Opium, menatap mata Sang Jelita—sepasang mata yang selalu datar, tak pernah memperlihatkan gejolak apa pun.
Sudah tiga tahun mereka saling mengenal, namun Opium tak pernah melihat Sang Jelita memperlakukan siapa pun secara berbeda. Tapi, benarkah ada orang yang bisa hidup tanpa keinginan, tanpa hasrat sama sekali? Atau mungkin, pengalaman Sang Jelita jauh lebih pilu dibanding siapa pun, hingga membentuknya jadi seperti sekarang.
Mendengar pertanyaan itu, tangan Nan Yan yang membelai kucing kecilnya sejenak terhenti.
Tak bisa melupakan? Musang A Li punya sesuatu yang tak bisa ia lupakan, tapi dirinya tidak. Di dunia ini, tak ada yang benar-benar tak terlupakan—kekasih, keluarga, sahabat—apalagi jika tak pernah memilikinya. Tatapannya menerawang, dan tiba-tiba ia teringat akan masa-masa di Sungai Bintang Purba.
Lukisan Dingin, Bunga Laksana Sutra, dan seorang pemuda yang hanya pernah ditemuinya sekali, juga banyak orang lainnya.
“Tidak ada.” Ia tidak punya siapa pun yang ia pedulikan.
Opium tertegun sejenak, lalu bergumam lirih, ada kesedihan yang hampir tak terdengar dalam suaranya, “Sungguh baik.”
Bibir merahnya melengkung tipis, matanya seolah menyimpan ribuan bintang, memikat siapa saja untuk tenggelam di dalamnya. Suara lembutnya berbisik di telinga, mengandung pesona yang memabukkan, di akhir kalimat sedikit meninggi, seolah antara sadar dan bermimpi, “Aku ingin… tujuh rasa dan enam nafsumu.”
Suka, duka, cinta, benci, amarah, dan segala keinginan manusia adalah bagian dari hidup fana—itulah yang diinginkannya, emosi manusia di dunia ini.
Ia mengulurkan tangan yang sudah sangat pucat, urat-urat menonjol di punggung tangannya, tubuhnya begitu kurus. Opium tersenyum lembut, sadar bahwa umurnya memang takkan lama lagi.
Namun, ia sudah cukup puas bisa bertahan sampai sekarang.
Sebelum ajal menjemput, ia ingin menuntaskan sesuatu yang belum selesai. Racun opium membuat orang terlena, sulit melepaskan diri, menggoda dengan pesona mematikan. Sekali terjerat, mustahil terlepas.
Ia pun telah teracuni, cepat atau lambat, kematian pun menjemput.
Lamunan mulai sirna, dan ketika menatap perempuan menawan di depannya, ia teringat kata-kata yang diucapkan saat pertama bertemu…
—Jika kau cukup kuat, kecantikan takkan menjadi beban.
Setiap manusia memiliki suka dan duka, namun luka yang dibawanya pun sama beratnya. Ia, tak lagi menginginkan itu semua.