Bab delapan puluh sembilan, Rumah Bunga Tak Pernah Tertidur (49)
...
Ruangan itu sangat gelap, pintunya terkunci rapat, ditempeli jimat dan dilindungi oleh penghalang. Selain itu, sebagian besar kekuatan siluman yang ia miliki telah digunakan untuk menyucikan jiwa-jiwa itu, hingga kini kekuatannya hampir habis tak tersisa.
Tak mungkin ia bisa membuka penghalang ini.
Dugu Wuyou melangkah keluar dari bayang-bayang, matanya berkilat, suaranya tetap lembut seperti dahulu, “Ali.”
Nanyan menyipitkan mata. Hingga sekarang, ia sudah bisa menebak siapa dalang di balik semua ini. Namun ia tidak paham, bagaimana Dugu Wuyou tahu bahwa ia adalah siluman.
Di belakang Dugu Wuyou, Mò Changli mengikuti, mengangguk santai pada Nanyan sebagai sapaan.
“Apa yang ingin kau lakukan?” Ia bisa merasakan niat membunuh dari tubuh Dugu Wuyou. Nanyan mundur beberapa langkah, tubuhnya menegang. Meski kekuatan silumannya lemah, ia masih cukup kuat untuk membunuh seseorang.
“Tentu saja, aku ingin hatimu.” Semua pelayan istana di luar telah disingkirkan. Ia tak punya banyak waktu lagi. Awalnya ia berencana bertindak sehari sebelum pengangkatan permaisuri, namun kini tampaknya sudah tak sempat. Dugu Wuyou mengulurkan tangan, di telapak tangannya ada sebuah batu giok merah darah, sangat kecil.
Ia tahu ia telah menyakiti Ali si rubah, tapi ia sudah tak punya jalan lain.
“Inilah yang kau inginkan, akan kuberikan padamu, tapi aku ingin hatimu.” Sejak di Huan Du, ia sudah berpura-pura. Kemunculan Huwanwan semakin meyakinkannya akan jati diri Nanyan.
Menggunakan batu giok ini untuk memancingnya datang ke istana, semua memang dirancang untuk hari ini.
Benda itu...
Batu giok yang tersembunyi dalam lengan baju Nanyan mulai terasa panas, matanya memerah. Batu giok itu didapatnya dengan susah payah dari Raja Dunia Bawah, bisa mengumpulkan jiwa manusia, di dalamnya masih tersimpan setetes darah milik Chaomu.
Dulu kala, Chaomu tercerai-berai jiwanya di tanah terlarang kaum rubah. Ia telah mengorbankan hampir seluruh kekuatan siluman dan setengah hatinya demi menyelamatkan sisa jiwa Chaomu yang nyaris hancur.
Setelah itu, jiwa itu menghilang. Ia mencarinya ke seluruh dunia siluman, hampir saja kehilangan akal, setiap bertemu orang ia akan bertanya, apakah mereka melihat seseorang bernama Chaomu, yang paling suka mengenakan pakaian biru muda...
Hingga akhirnya Dihan memberitahunya bahwa jiwa yang tersisa mungkin telah jatuh ke dunia manusia, barulah ia tenang.
Maka ia pun nekat datang ke dunia manusia, sudah sepuluh ribu tahun lamanya, akhirnya ia berhasil menemukannya...
Menghidupkan kembali Chaomu adalah ilmu terlarang, harus menukar jiwa dengan jiwa, pelakunya pun harus mengorbankan nyawanya sendiri, namun semua itu tak lagi penting baginya, ia tak peduli...
Selama bertahun-tahun ia telah mengumpulkan begitu banyak jiwa manusia, pasti sudah cukup, pasti cukup.
Setelah menyimpan batu giok itu, Dugu Wuyou berkata dengan penuh keyakinan, “Kau takkan bisa membunuhku.”
Kekuatan silumannya sangat lemah, apalagi di belakang Dugu Wuyou ada Mò Changli. Kelemahan yang tadi ia tunjukkan hanyalah sandiwara untuk membuat Nanyan lengah.
Nanyan menyeringai dingin, membiarkan amarah membara di tubuhnya. Ia ingin membunuh Dugu Wuyou. “Benarkah?”
Mari kita coba saja!
Ia menggenggam erat batu giok itu, di dalamnya ada jiwa Chaomu. Dugu Wuyou membentak, “Kalau kau berani bergerak, akan kuhancurkan jiwanya!”
Benar saja, Nanyan langsung terhenti, menatap Dugu Wuyou dengan mata merah penuh kebencian. Kuku-kukunya menancap dalam-dalam ke telapak tangan hingga berdarah, suaranya serak menahan marah, seolah mengerahkan seluruh kekuatannya, “Berani kau!!”
“Pernahkah kau mencintai seseorang?” Tatapan Dugu Wuyou rumit, ia bertanya pelan.
Ia sadar dirinya telah menyakiti Ali si rubah. Batu giok itu takkan pernah ia hancurkan, itu adalah satu-satunya kompensasi yang bisa ia berikan padanya, maaf yang tak terucapkan.
Beberapa saat kemudian, Nanyan pun menenangkan diri, matanya kembali hitam, dengan santai merapikan bajunya, “Oh? Kau pernah mencintai?”