Bab Enam Belas: Tanpa Badai, Takkan Ada Pelangi
Pada akhirnya, Lü Ziqiao tetap gagal dalam wawancara. Melihat Ziqiao yang terkulai lemas di kursi dengan wajah putus asa, semua orang pun kebingungan bagaimana harus menghiburnya.
“Mungkin aku memang bukan orang yang cocok untuk kerja kantoran,” gumam Ziqiao sambil mengacak-acak rambutnya, tampak lesu.
Melihat pria yang dicintainya seperti itu, Meijia merasa sangat iba. Ia membiarkan kepala Ziqiao yang tertunduk bersandar di pundaknya, lalu menghibur dengan suara lembut, “Ziqiao, jangan putus asa. Kalau pekerjaan ini memang tidak cocok, kita tak usah cari lagi. Keadaan sekarang juga sudah cukup baik.”
Melihat adegan itu, Lin Fang tak kuasa menahan desahan pelan. Setiap orang memang punya gaya hidup masing-masing, mungkin memang ada orang yang sejak awal tidak ditakdirkan bekerja kantoran.
Lin Fang pun keluar dari pintu, berniat berjalan-jalan di luar dan menenangkan pikirannya.
Baru saja menuruni tangga, tiba-tiba semilir wangi harum menerpa. Lin Fang menengadah, wajahnya seketika menunjukkan keterkejutan. Tak jauh di depannya, seorang gadis berambut pendek mengenakan jaket kulit hitam sedang menarik koper, berjalan ke arah apartemen.
“Paman, mau ke mana kau?” Saat itu juga, Zhuge Dali pun menyadari Lin Fang yang berjalan ke arahnya. Ia mengangguk sebagai sapaan, lalu bertanya dengan nada ingin tahu.
“Tidak... Aku baru saja keluar sebentar, lalu kembali. Kau mau ke mana?” Lin Fang hanya butuh setengah detik untuk berpikir sebelum buru-buru menjawab, sembari berjalan perlahan mendekati Zhuge Dali.
“Aku mau pindah ke sini, memang mereka belum bilang padamu?”
“Ah? Kau mau pindah ke sini?” Mendengar kabar itu, Lin Fang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Namun di dalam hati, ia justru gembira bukan main. Masalah sebesar ini, bagaimana mungkin ia tidak tahu? Bahkan semalam ia sampai susah tidur karenanya.
“Aku sebentar lagi lulus S2. Kupikir tak mungkin selamanya tinggal di kampus, jadi aku memutuskan pindah ke sini. Paman, sebagai teman serumah, tolong bimbing aku ke depannya.”
“Ah, kau terlalu sopan. Tapi aku penasaran, kenapa kau selalu memanggilku paman? Padahal rasanya usia kita tak beda jauh, kan?”
Pertanyaan ini sudah lama ingin Lin Fang tanyakan, hanya saja belum menemukan kesempatan.
“Soalnya kau selalu bersikap tenang dan tak pernah menampakkan emosi, sama sekali tak seperti anak muda. Kalau kupanggil kakak, rasanya canggung. Jadi kupanggil paman saja, lebih cocok.”
Lin Fang: …………
“Aku pulang.”
“Emmm.”
Mendengar itu, Zhang Wei menoleh, melihat Lin Fang di luar pintu sambil menarik koper, lalu bertanya, “Lin Fang, bukannya kau baru saja turun jalan-jalan, kok sudah balik lagi?”
Perkataan Zhang Wei membuat wajah Lin Fang sedikit canggung. Ia melirik ke belakang dengan gelagat sedikit gugup.
“Kau lihat apa?”
Zhang Wei ikut berdiri dan mengikuti arah pandangan Lin Fang ke luar pintu. Seketika, Zhuge Dali dengan jaket kulit hitam muncul di depan mereka.
“Dali, kau sudah pindah sekarang?”
Melihat Zhuge Dali muncul di unit 3602, tak bisa disangkal ada seberkas kekecewaan di mata Zhang Wei.
Belum sempat Zhang Wei lama-lama kecewa, tiba-tiba dari arah balkon terdengar suara bersemangat.
“Tak ada pelangi tanpa hujan badai, tak ada yang berhasil dengan mudah.”
Mendengar suara familiar itu, Lin Fang merasa kepalanya berdenyut, nyaris tak percaya. Namun detik berikutnya, ketika melihat Lü Ziqiao keluar dari balkon sambil menyanyi dan menari, barulah ia menerima kenyataan itu.
“Jangan-jangan Ziqiao tadi benar-benar terlalu terpukul? Kenapa aku sama sekali tak melihat tanda-tanda dia sedang sedih?” Lin Fang melihat kejadian itu dengan mata terbelalak, lalu berbisik ke Zhang Wei di sebelahnya. “Baru sebentar aku pergi, kok dia sudah berubah begitu? Katanya laki-laki memang mudah berubah, tapi tak secepat ini, kan? Dari aku keluar sampai sekarang saja belum sampai sepuluh menit. Apa emosi manusia memang bisa berubah sedrastis itu?”
Zhang Wei pun tak kalah kaget, sampai mulutnya menganga. “Aku juga tak paham, tadi masih putus asa, sekarang aku baru nonton video sebentar, dia sudah begini.”
“Kalian ngomongin apa?” Mendengar bisik-bisik mereka, Zhuge Dali mengerutkan kening, lalu bertanya.
“Eh, Dali, kau juga sudah datang. Meijia sudah membereskan kamarmu,” kata Ziqiao.
“Ziqiao, terima kasih,” jawab Zhuge Dali sopan, lalu berdiri.
“Ah, tak perlu berterima kasih. Begitu masuk Apartemen Cinta, kita semua sudah seperti keluarga. Jangan terlalu sungkan.” Lü Ziqiao mengangkat dua jari, menggoyangkannya sedikit, lalu berjalan pergi dengan santai, sambil terus menyanyi, “Tak ada pelangi tanpa hujan badai, tak ada yang berhasil dengan mudah.”
“Ziqiao ternyata orangnya lumayan juga,” gumam Zhuge Dali sambil memperhatikan kepergian Ziqiao.
“Pasti ada yang aneh dengan Ziqiao,”
Zhang Wei dan Lin Fang memandang Lü Ziqiao tanpa berkedip, lalu bergumam pelan.
……
“Apa? Kau bilang Ziqiao berubah seperti ini setelah mendengar perkataanmu?” tanya Lin Fang dan Zhang Wei hampir tak percaya saat melihat Kari, yang sedang duduk di sofa sambil mengunyah paha ayam goreng.
Kari menggigit besar-besar daging ayam, lalu menyeka mulut dengan tisu. Melihat ekspresi terkejut mereka, ia menatap mereka dengan heran sebelum akhirnya menjawab,
“Apa anehnya? Ayam goreng ini enak juga, kalian mau coba?” tawar Kari sambil mengulurkan daging ayam ke Lin Fang.
Melihat Kari makan sampai berminyak-minyak, Lin Fang dan Zhang Wei hanya bisa menggeleng.
“Makan saja. Kami hanya ingin tahu, kau kasih ramuan apa ke Ziqiao? Tadi masih putus asa, sekarang seperti baru menang lotre,” kata Zhang Wei mengutarakan keheranan.
Kari memandang Zhang Wei, lalu menjawab, “Tadi waktu Ziqiao datang, memang persis seperti yang kalian bilang. Tapi setelah aku bujuk sebentar, dia langsung jadi ceria seperti sekarang.”
Setelah mendengar penjelasan Kari, Lin Fang terdiam sejenak lalu berkata, “Jawabanmu memang singkat dan padat.”
“Tentu saja kami tahu dia berubah dari begitu jadi begini. Yang ingin kutanya, bagaimana dia bisa berubah? Apa yang kau katakan padanya?” Lin Fang melontarkan kalimat panjang seperti sedang membaca pantun, membuat Kari tertegun.
“Lin Fang, kau dulu pernah jadi pelawak ya?” goda Kari, lalu melanjutkan, “Alasannya sederhana, aku cuma cerita pengalaman waktu dulu pernah jadi penyiar streaming ke Ziqiao, lalu dia langsung senang.”
“Penyiar streaming?”
Zhang Wei dan Lin Fang saling berpandangan, lalu berseru bersamaan.
ps: “Bab ini khusus dipersembahkan kepada para pembaca di Wuhan, semoga kalian segera melewati masa sulit dan bangkit kembali dari keterpurukan.”