Bab Tujuh Puluh Sembilan: Tamu Misterius
“Paman, berapa lama tiket pesawat yang kau pesan?”
Keesokan paginya, di meja makan, Dali tiba-tiba bertanya.
Mendengar itu, sebelum Lin Fang sempat menjawab, semua orang sudah lebih dulu menoleh ke arahnya.
“Xiao Fang, kamu mau pergi ya?”
“Kali ini mau ke mana, jangan-jangan mau jalan-jalan lagi?”
“Xiao Fang, apa kamu kecanduan traveling?”
Mendengar perkataan mereka, Lin Fang mengangkat tangan, “Dompetku sudah hampir kosong, dari mana aku punya uang buat jalan-jalan? Kali ini aku ke MD, ada urusan yang harus diselesaikan.”
“MD ya, dengar-dengar di sana banyak wanita cantiknya.”
Mendengar ucapan Lin Fang, Zi Qiao langsung matanya berbinar, merapatkan kedua tangan dan bernyanyi, “Sawadikap, selamat datang semuanya, selamat datang di MD yang indah.”
Namun, belum selesai ia bernyanyi, Meijia sudah lebih dulu mengetuk kepalanya, “Nyanyi apaan sih, bodoh, itu Phuket, bukan MD.”
...
“Paman, aku juga ingin ikut denganmu.”
Setelah sarapan, kembali ke kamar, Dali memandang Lin Fang dan berkata.
“Dali, aku ke sana benar-benar ada urusan, kau nggak usah khawatir. Aku yakin IQ-ku bakal melonjak ke 180, bikin Richard kelabakan, terus aku akan cepat pergi dan cepat pulang.”
Melihat kekhawatiran yang samar di mata Dali, Lin Fang tentu tahu apa yang ia cemaskan, dan memberinya senyum menenangkan.
“Pfft.”
Mendengar candaan Lin Fang, Dali tak tahan tertawa, tapi begitu sadar, ia langsung memasang wajah cemberut, “Sok banget, IQ-mu itu, jangan-jangan malah kamu yang dipermainkan Richard sampai pusing sendiri.”
Melihat itu, Lin Fang sedikit tak terima dan hendak membalas, namun tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.
“Siapa ya?”
Sedikit heran menatap pintu yang tertutup rapat, Lin Fang bergumam lalu berjalan ke sana. Begitu pintu dibuka, semerbak wangi langsung menyeruak.
“Parfum Decadence.”
Aroma parfum ini sangat dikenalnya, karena ibunya juga memakai merek yang sama.
“Anak kecil, paham juga, ya.”
Terdengar suara merdu di telinga, Lin Fang pun penasaran menatap ke atas.
Di hadapannya, berdiri seorang wanita dewasa, mengenakan selendang kecil, memancarkan pesona seorang wanita matang yang tak tertandingi.
Sempat tertegun sejenak, Lin Fang segera kembali sadar, namun mendengar ucapan wanita itu, ia sedikit kesal dan mengerutkan dahi, “Kak, apa pantas kau memanggilku begitu?”
Wanita tak suka dibilang tua, pria tak suka dibilang muda.
Tak disangka, mendengar itu, wanita dewasa itu malah menutup mulutnya dan terkekeh, lalu berkata di tengah wajah Lin Fang yang masam, “Kakak, anak kecil, aku ini sudah cukup umur jadi ibumu.”
“Kalau begitu aku juga bisa jadi ayahmu.”
Mendengar itu, Lin Fang membalas dengan kesal, lalu sebelum wanita itu sempat bereaksi, ia langsung menutup pintu.
“Paman, kenapa? Kok wajahmu nggak kelihatan bahagia sama sekali.”
Melihat Lin Fang menutup pintu dan berjalan kembali dengan kesal, Dali yang duduk di sofa jadi penasaran bertanya.
“Jangan dibahas, orang aneh tiap tahun ada, tahun ini malah tambah banyak.”
Lin Fang melambaikan tangan, tampak kesal.
“Terus, dia bilang apa?”
“Nggak kedengaran.”
“Dia ke sini mau apa?”
“Aku juga belum sempat tanya.”
Setelah percakapan itu, di dahi Dali yang putih, tampak muncul garis-garis hitam. Ia jadi sadar, apa benar semua pria punya dua sisi? Kadang, pria di hadapannya ini liciknya seperti rubah tua, dewasa dan sulit ditebak, tapi kadang juga seperti anak kecil. Seperti sekarang, belum juga tanya tujuan orang datang, sudah jengkel duluan.
“Tok tok tok.”
Melihat Lin Fang hendak bangkit, Dali memberi isyarat agar ia duduk saja, lalu berkata geli, “Biar aku saja yang buka, jangan-jangan kamu bakal ribut lagi.”
Dali berjalan ke pintu, tapi ketika melihat siapa di luar, ia langsung tertegun, lama terdiam.
Melihat itu, Lin Fang berdiri dan segera mendekat, “Kenapa, Dali, wanita itu mengganggumu?”
“Anak kecil, belum paham situasi sudah main tuduh, apa itu pantas?”
Wanita elegan itu tersenyum lalu berkata.
“Huh, aku asal bicara?”
Lin Fang mendengus dingin, hendak membalas lagi, namun Dali akhirnya sadar dari ketertegunannya, meninju bahu Lin Fang dan berkata pada wanita elegan itu, “Mama.”
Emmmm
Suasana mendadak jadi canggung, ekspresi Lin Fang saat itu bahkan lebih terkejut daripada mendengar kabar invasi alien, ia bertanya tak yakin, “Mama?”
...
“Ini teh Longjing yang aku beli, silakan dicoba.”
Di ruang tamu, Dali dan wanita dewasa itu duduk berdampingan, Lin Fang membawa secangkir teh panas dan menyodorkannya pada wanita elegan itu.
Melihat itu, Dali tiba-tiba teringat sesuatu, wajahnya berubah, lalu menarik Lin Fang ke samping, “Paman, bukannya kau nggak suka teh? Sejak kapan beli Longjing?”
“Itu bukan punyaku, aku pinjam dari Zi Qiao.”
“Apa? Mamaku itu ahli teh, kamu nggak takut ketahuan?”
Mendengar itu, Dali jadi panik.
Tapi Lin Fang tetap santai, tersenyum dan menunjuk ke arah wanita itu, “Kau mikir terlalu jauh, lihat saja, Tante kelihatannya menikmati sekali tehnya, kan?”
Mengikuti arah telunjuk Lin Fang, wanita elegan itu menyesap tehnya, matanya berbinar, meletakkan cangkir sambil memuji, “Benar-benar teh yang enak, aromanya khas sekali.”
Dali: “......”
“Kalau Zi Qiao tahu tehnya dapat pujian dari Tante, pasti dia senang banget.”
Mendengar itu, Dali mendengus dan meninju Lin Fang, lalu kembali ke sofa.
“Dali, kalian berdua ada apa-apa, ya?”
Zhuge Dasheng menunjuk Lin Fang, tersenyum penuh arti yang tak bisa ditebak.
“Mama, aku...”
Melihat itu, biasanya Dali yang cerdas pun jadi gugup.
“Tenang saja, anak sudah besar, aku bukan orang tua kolot yang tak mengerti. Tentu saja aku sangat mendukung. Anak muda ini, selain sedikit impulsif, sisanya sangat baik.”
Melihat kegugupan Dali, Zhuge Dasheng menenangkan dengan lambaian tangan.
“Terima kasih, Tante.”
Melihat Zhuge Dasheng begitu mudah diajak bicara, wajah Lin Fang berseri. Namun, belum sempat kata-katanya habis, ia merasa hawa di ruangan jadi agak dingin.
“Kau barusan memanggilku apa?”
Mata Zhuge Dasheng menatap tajam, Lin Fang langsung merasa tertekan, otaknya bekerja cepat, lalu tersenyum, “Tante di mana? Aku cuma melihat seorang kakak cantik di depanku.”
“Anak muda ini memang pandai bicara. Tapi soal panggilan, tetap harus jelas, ya.”
Meski berkata begitu, senyum di wajah Zhuge Dasheng tak juga surut. Lin Fang yang bodoh pun pasti paham, ini bukan lagi isyarat halus, melainkan isyarat terang-terangan.