Bab Delapan Puluh Empat: Mulut Pembawa Sial

Awal Kisah Menjadi Kekasih Daya Zhuge Qi Da, sang Panda Ajaib 2437kata 2026-03-05 01:48:15

“Bagaimana, apa Daya sudah berhasil dibawa turun?”
Begitu melihat Lin Fang turun, Hu Yifei dan yang lain segera mengelilinginya dengan penuh harap.
“Sejujurnya, aku bahkan belum sempat bertemu dengannya.”
Lin Fang mengangkat tangan dan tersenyum getir.
“Sungguh keterlaluan.”
Yifei menepuk pahanya, tampak marah dan tak terima.
Meijia pun menghela napas, lalu berkata, “Andai saja posisi kita bertukar, yang terjebak di lantai atas itu Lin Fang, pasti lebih mudah.”
Lin Fang terdiam, “Kenapa memang?”
“Karena Daya bisa mengoperasikan ekskavator. Ini kan cuma lantai tiga, tak perlu mengangkat ekskavator setinggi-tingginya, dia pasti bisa dengan mudah menyelamatkanmu.”
Mendengar kata-kata Meijia, semua orang terperangah dan tak bisa berkata-kata, kagum dengan ide unik Meijia.
Beberapa saat kemudian, Yifei berkata, “Meijia, kamu benar-benar penuh imajinasi. Kalau begitu, kenapa tak sekalian panggil helikopter saja, kan lebih mudah.”
Namun Lin Fang tiba-tiba tertegun, lalu matanya berbinar penuh semangat, “Meijia, kau benar-benar jenius!”
“Hei, Lin Fang, jangan-jangan kau benar-benar mau pakai cara Meijia?”
“Kenapa tidak? Bukankah ini jauh lebih praktis daripada membuat tangga manusia?”
Wajah Lin Fang tersenyum tipis, seperti anak yang tersesat lalu menemukan arah pulang.
......
“Sudah dicari ke mana-mana tetap tidak ketemu. Ini kan bukan mobil, kecuali ada orang yang benar-benar aneh, pakai ekskavator buat alat transportasi.”
Yifei menepuk dahinya, tampak pasrah. Ia menoleh lagi pada Meijia, “Zhang Wei dan yang lain sudah datang?”
“Jangan ditanya, mereka masih di jalan, lagi nyetir ke sini.”
Yifei hanya bisa menghela napas.
Saat ia ingin berkata lagi, Kari muncul dengan wajah aneh, “Kak Yifei, kalian sebenarnya lagi cari apa sih?”
“Ekskavator! Sudah tanya ke beberapa perusahaan, mereka malah menganggapku gila dan langsung mematikan telepon. Bikin kesal saja.”
Yifei tampak makin emosional, menggerak-gerakkan tangannya seperti orang yang kehilangan kendali.
“Ekskavator, bukankah ada satu di sebelah sana?”
Kari menunjuk ke arah samping dengan ekspresi aneh.
Emmm, suasana mendadak jadi canggung.

Mengikuti arah telunjuk Kari, semua orang menoleh dan melihat sebuah ekskavator besar berdiri kokoh di sana.
“Sudahlah... jangan tanya kenapa tadi kita tak lihat, anggap saja karena ‘gelap di bawah lampu’.”
Yifei berusaha menutupi rasa malunya, tapi kerumunan langsung bersorak gembira.
“Tapi, tanpa kunci, apa bisa dinyalakan?”
Melihat wajah-wajah yang mulai berseri, Kari ikut tersenyum, tapi ia segera teringat sesuatu dan bertanya penasaran.
Begitu pertanyaan Kari selesai, suasana langsung terdiam kaku.
“Jangan cemberut seperti itu, siapa tahu kuncinya tertinggal, kan?”
Lin Fang mencoba menghibur, walau terdengar tak yakin.
Mendengar itu, Yifei meliriknya tajam, “Ucapamu itu seperti bertanya, apa ada prajurit yang lupa bawa senjata ke medan perang.”
“Sudahlah, ayo kita cek saja dulu.”
Meijia melambaikan tangan, mengajak yang lain mendekat.
Lima menit kemudian
“Tak kusangka ternyata memang ada prajurit yang lupa bawa senjata, tapi di medan perang malah nemu mortir. Ini benar-benar di luar dugaan.”
Sesampainya di ekskavator, Yifei hanya bisa melongo.
Yang lain pun wajahnya tak jauh beda, “...Sekarang apa-apa bisa disewa bersama, ekskavator pun bisa.”
Ketika mereka mendekat, di ekskavator itu tertulis besar-besar: ‘Ekskavator Bersama, Scan Kode, Mulai dari Seratus per Jam’.
“Aku benar-benar cinta pada siapa pun yang mencetuskan ekonomi berbagi.”
Hanya Lin Fang yang tampak senang, meski sesaat kemudian senyumnya memudar, ia menoleh ke sekeliling, lalu bertanya ragu, “Ngomong-ngomong, ada yang bisa mengoperasikan alat ini?”
“...Kami, tiga perempuan, belajar alat beginian untuk apa?”
Mendengar itu, semua refleks menggeleng.
“Eh, Lin Fang, mau ngapain sih? Mending tunggu saja, Zhang Wei dan yang lain sebentar lagi datang. Zhao Haitang kan orangnya iseng, SIM kapal pesiar saja dia punya, siapa tahu ekskavator juga bisa.”
Melihat Lin Fang memindai kode dan membuka pintu ekskavator, Yifei menahannya.
“Aku cuma mau coba sebentar, tenang saja.”
Lin Fang tersenyum menenangkan, lalu masuk dengan keyakinan bulat.
Meski di luar tampak percaya diri, begitu berada di dalam ekskavator, Lin Fang justru kebingungan.
Walau sekilas alat ini terdengar mirip traktor, namun panel kendalinya jauh lebih rumit.
Ini dunia nyata, bukan cerita fiksi, dan Lin Fang jelas bukan tokoh utama yang bisa menghafal pi hingga puluhan ribu digit. Untuk alat yang belum pernah ia sentuh ini, ia benar-benar buta, cuma tahu letak kopling dan gas saja.

“Atau aku cari di mesin pencari saja.”
Lin Fang bergumam ragu.
“Kak Yifei, menurutmu Lin Fang bisa menyalakan ekskavator itu enggak?”
Melihat ekskavator diam saja, Meijia ragu bertanya.
“Entahlah, tebakanku, sekarang dia lagi buka mesin pencari.”
“Itu bagus, kan katanya mesin pencari bisa menjawab semua pertanyaan. Dengan bantuan itu, Lin Fang pasti sukses.”
Meijia tampak lega.
“Memang sih, tapi bisa dipercaya enggak? Yang ada bisul saja bisa dibilang kanker stadium akhir. Cari tahu soal ekskavator di sana, apa enggak bahaya?”
Mendengar ucapan Kari, semua terdiam.
“Brummm.”
Baru saja ucapan Kari selesai, ekskavator yang tadi diam tiba-tiba meraung marah dan perlahan bergerak. Namun sebelum kegembiraan mereka berkembang, mereka justru tertegun.
“Kenapa aku merasa ekskavator itu mundur ya?”
“Aku juga merasa begitu.”
Mereka saling bertukar pandang, wajahnya panik, “Lin Fang, ekskavatornya mundur!”
Beberapa saat kemudian, setelah menarik rem tangan dan mengikat kabel baja, Lin Fang mengusap keringat dingin di dahinya, lalu menghela napas lega, “Ternyata, orang awam memang tak boleh sembarangan mengoperasikan alat berat, benar-benar menakutkan.”
Pada saat yang sama, Meijia menghubungi Ziqiao lewat telepon, “Kalian di mana? Eh, kenapa suara anginnya kencang sekali? Bukannya kalian di mobil?”
“Kami di atas traktor.”
“Traktor?”
“Iya.”
Di jalan kecil itu, sebuah traktor melaju kencang.
Ziqiao menoleh pada kakek tua yang menyetir traktor, lalu berseru, “Kakek, terima kasih ya! Tapi jalannya pelan-pelan saja, hati-hati, jangan sampai menabrak orang.”
Kakek itu menoleh dan tersenyum, “Tenang saja, Nak. Sudah bertahun-tahun kakek menyetir traktor, belum pernah sekalipun menabrak orang.”