Bab Empat Puluh Tujuh: Kencan yang Istimewa
Langit perlahan berubah gelap, matahari yang selama ini sulit dipandang langsung menanggalkan keangkuhannya, terjun lurus ke lautan biru, dan di atas langit yang kini berbalut beludru, bulan purnama pun naik, memancarkan cahaya hangat ke tanah luas ini, membuat dunia terasa semakin indah.
Di pantai, banyak anak muda masih mengenakan pakaian renang dan sandal jepit, menikmati kelembutan ombak yang menyapa kaki mereka. Sementara itu, di sebuah bar kecil tak jauh dari sana, suasana justru terasa lebih meriah.
"Eh, di sana ada cowok ganteng."
"Mei Jia, jangan lari cepat-cepat, hati-hati sama anak kecil."
Melihat pemandangan itu, Hu Yifei hanya bisa memijat dahinya dengan tak berdaya, "Begitu banyak wanita cantik di sini, tapi Ziqiao tidak menggoda satupun. Kalau dulu, dia pasti sudah beraksi. Tak disangka, kini istilah 'pria rumah tangga baik' bisa dipakai untuk Lu Ziqiao."
"Om memang pria baik," kata Karegen dengan wajah penuh rasa setuju.
Hu Yifei menoleh, melihat Karegen, bibirnya sedikit berkedut, "Karegen, bisakah kau berhenti makan kue kecil saat aku bicara? Dan tolong sedikit menahan diri, hampir semua camilan di tempat ini sudah kau habiskan. Bartender bahkan sudah ganti tiga kali."
"Baiklah, aku akan berusaha menahan diri," Karegen mengangguk, sambil tetap menyumpal kue kecil ke mulutnya.
"Sudahlah, malas mengurusi. Haitang, apa yang kau lakukan? Kenapa terlihat tidak begitu bahagia? Oh iya, Dali dan Lin Fang kemana? Saat masuk tadi, aku tidak melihat mereka."
"Jangan sebut mereka," jawab Zhao Haitang dengan wajah marah.
Waktu pun kembali sepuluh menit sebelumnya.
"Zhao Haitang, kenapa terus mengikuti kami?" Dali mengerutkan alisnya dengan rasa tidak senang.
"Hehe, mana mungkin aku mengikuti kalian. Tempat ini kan kecil, jadi aku hanya memilih tempat yang nyaman saja." Zhao Haitang tertawa santai, menanggapi teguran Dali tanpa beban.
"Dali, biarkan saja dia. Hari ini jelas bukan kesempatan menikmati dunia berdua saat 'kencan', lain kali saja kita ganti," Lin Fang melambaikan tangan, menekankan kata 'kencan'.
Benar saja, mendengar ucapan itu, Zhao Haitang langsung gelap matanya, ucapan Lin Fang benar-benar membuat geram.
"Dali, tunggu aku!"
Dali dan Lin Fang berjalan santai di dalam bar, menatap para wanita dan pria dengan beragam busana yang lalu-lalang di sekitar mereka. Di hati Dali muncul perasaan aneh, "Apakah ini yang disebut kencan? Rasanya begitu unik, sulit dijelaskan... Mungkin aku harus pulang dan mencari referensi."
"Dali, apa yang kau pikirkan?" Lin Fang yang menyadari wajah Dali tampak linglung, bertanya dengan penasaran.
"Emmm, tidak ada apa-apa," jawab Dali cepat, merasa seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan, buru-buru menggeleng.
Lin Fang terdiam. Baru saja ia menyaksikan sesuatu yang luar biasa: Dali, gadis yang biasanya tenang menghadapi apapun, kini wajahnya memerah seperti gadis kecil. Sulit dipercaya.
"Kau lihat apa sih, ayo jalan," kata Dali, menahan malu dan cepat-cepat menghapus rona merah di wajahnya setelah melihat tatapan Lin Fang yang terpaku.
"Baik, tunggu aku," jawab Lin Fang sambil tersenyum, menatap siluet Dali di depan dengan hati yang bergetar. Dali bukan hanya cerdas dan merupakan mahasiswa berprestasi, tapi juga sangat bersahabat. Sebagai teman, dia adalah pilihan utama, namun sebagai kekasih, justru terasa sedikit berat.
Sebab Dali tampaknya agak lamban dalam urusan cinta, seperti kekurangan satu senar emosional di otaknya; segala sesuatu selalu ia hadapi dengan logika. Tetapi hari ini Lin Fang akhirnya melihat sisi lain Dali, dan ia semakin yakin bisa membawa gadis seperti peri yang seolah tak tersentuh duniawi itu turun ke bumi.
Di atas panggung bar, banyak wanita menari anggun, bagai kupu-kupu cantik yang baru mekar.
"Bagus ya?" tanya Dali sambil meruncingkan bibir, melihat tatapan Lin Fang.
"Kalau dari sudut pandang profesional, lumayan," jawab Lin Fang, mengalihkan pandangan dengan tenang.
"Oh, kau mengerti tari ya?" Dali tersenyum penuh makna.
"Aku..." Lin Fang merasa seperti ribuan kuda liar berlari di kepalanya. Ia hanya asal bicara, mana paham soal tari. Tapi sudah terlanjur, jadi ia menanggukkan kepala dengan terpaksa, "Tidak bisa dibilang mengerti, cuma pernah lihat sedikit."
"Bagus, kebetulan aku ingin menari, kau jadi pasangan tari aku ya."
"Uh, Dali, kau bisa menari?" tanya Lin Fang, terbatuk-batuk.
"Aku cuma belajar sedikit, hanya lulus ujian rad dengan susah payah."
"Oh, kalau begitu aku akan coba-coba saja," Lin Fang merasa senang, walaupun tidak tahu rad itu apa, tapi terdengar tidak terlalu profesional. Walaupun sudah puluhan tahun tidak menari, ia teringat pesan ibunya bahwa dulu di taman kanak-kanak pernah ikut lomba tari, jadi mungkin bakatnya tidak terlalu buruk.
"Kau terlalu ketinggalan zaman," tiba-tiba suara tidak harmonis terdengar.
"Kapan kau ganti baju secantik itu?" Lin Fang melihat Zhao Haitang tiba-tiba muncul dengan setelan jas putih dan dasi kupu-kupu, membuat alis Lin Fang berkerut.
"Tidak perlu tahu, rad adalah kursus balet yang paling diterima secara internasional saat ini. Banyak sekolah dunia memakai sertifikat Inggris sebagai acuan penerimaan siswa, jadi di berbagai tempat kau bisa lanjut belajar balet di sistem RAD. Dali pun mengambil sertifikat profesional. Aku benar-benar kagum padamu, Dali. Lin Fang jelas tidak bisa menari, biar aku saja. Dengan aku sebagai dedaunan hijau, kau sebagai bunga sempurna, pasti akan terlihat semakin indah," kata Zhao Haitang dengan penuh semangat.
"Kau terlalu memuji diri sendiri, paling-paling hanya rumput liar. Dali, ayo kita pergi," meski ucapan Zhao Haitang membuat Lin Fang agak gugup, ia tentu tidak mau mundur sekarang. Jika tidak, bukan hanya orang lain, dirinya sendiri pun akan merasa malu.
"Kau... kapan ganti baju?" Lin Fang menoleh, dan matanya kembali membelalak. Dali entah kapan sudah mengenakan gaun tari putih, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sempurna.
"Baru saja," jawab Dali.
Lin Fang hanya bisa terdiam dalam hati. Apakah ini kemampuan khusus penghuni apartemen? Kenapa hanya aku yang tidak punya?