Bab Lima Puluh Tujuh: Penghalang Kekuasaan
Miyuki Fujinoin mengetahui tentang kasus pembunuhan yang terjadi di Perusahaan Keuangan Ishida Shinjuku, juga mengetahui bahwa Kepolisian Metropolitan Tokyo membentuk tim khusus untuk menangani kasus tersebut.
Namun, ia tidak mengerti mengapa tim khusus itu ingin menemuinya.
Ia bahkan tidak tahu di mana letak pintu masuk Perusahaan Keuangan Ishida.
Jika mereka mencurigainya sebagai pelaku, Miyuki Fujinoin hanya bisa mengatakan bahwa kepala tim khusus itu pasti bermasalah.
“Mereka bilang, ada beberapa rincian terkait kasus penculikan yang ingin mereka tanyakan padamu.”
“Ibu, aku tidak tertarik bertemu mereka,” Miyuki Fujinoin menolak mentah-mentah permintaan pertemuan tersebut.
Ia memang tak bisa menolak penyelidikan yang dilakukan Badan Intelijen Pusat, tapi masak harus selalu menuruti tim khusus Kepolisian Metropolitan Tokyo?
Baginya, orang-orang dari tim khusus yang datang menemuinya di masa sensitif seperti ini, dan menanyakan kasus yang sudah selesai, sudah pasti punya maksud tersembunyi.
Apalagi ia sama sekali tidak ada kaitan dengan kasus di Shinjuku, jadi tidak perlu membuang waktu untuk bertemu mereka.
“Baik, akan kutolak permintaan mereka.”
Hotaru, sang ibu, tidak memaksa putrinya untuk bekerja sama dengan Kepolisian Metropolitan Tokyo. Keluarga Fujinoin di Jepang bisa dibilang sebagai raksasa besar.
Bahkan Kepala Kepolisian Metropolitan Tokyo harus membuat janji terlebih dulu jika ingin bertemu mereka. Tim khusus kecil seperti itu, jika tidak ingin ditemui, ya tidak usah ditemui. Tidak ada masalah besar.
...
Ruang tamu keluarga Fujinoin dipenuhi kemewahan.
Sebuah jendela besar dari lantai ke langit-langit memperlihatkan hamparan rumput taman dalam yang luas, membuat orang bertanya-tanya apakah di luar itu adalah lapangan golf.
Emili duduk di atas sofa kulit yang empuk, bola matanya yang biru langit mengamati dekorasi di dalam ruangan.
Di dinding tergantung lukisan minyak karya Van Gogh, di atas meja terdapat teko teh dari batu giok putih yang tampak sangat mahal, bahkan cangkir-cangkir tehnya pun terbuat dari giok putih.
Di dalam teko itu terseduh teh Longjing dari Danau Barat.
“Sepertinya kita tidak akan bisa bertemu dengan orang yang kita inginkan,” Emili mengerutkan kening tipisnya, lalu mengangkat cangkir teh.
Katrina yang bertubuh tinggi mendengar itu, langsung menghabiskan tehnya, kemudian menuang lagi satu cangkir dan lanjut minum.
Takehiro Okayama bertanya dengan nada penasaran, “Kenapa kau berkata begitu?”
“Dari tata letak ruangan, kita bisa membaca karakter seseorang. Aku tidak menemukan satu pun dekorasi yang merepresentasikan tradisi Jepang di ruang tamu ini.
Hanya ada gaya Barat dan Timur.
Itu menandakan karakter Hotaru Fujinoin yang mengagungkan kekuatan dan meremehkan segala hal lokal.
Terhadap Kepolisian Metropolitan Tokyo, heh, kurasa ia juga tidak peduli,” jelas Emili, lalu menengadahkan telapak tangannya, “Mau bertaruh denganku?”
Takehiro Okayama tentu tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Ia tertawa, “Kau benar.
Menurut gaya para konglomerat itu, tim khusus kecil seperti kita yang nyaris tak ada kaitannya dengan mereka, memang wajar jika tidak ditemui.”
Emili menyesap teh, membasahi tenggorokannya, lalu mengoreksi, “Bukan tidak punya kaitan. Menurutku, rangkaian kasus yang terjadi belakangan ini semuanya saling berhubungan, bukan kasus terpisah.
Hanya saja aku belum bisa menemukan kaitannya.
Pada akhirnya, mereka itu terlalu tertutup, takut orang lain tahu ada yang aneh, itulah yang membuat penyelidikan jadi merepotkan.
Sungguh bikin tak habis pikir.
Kotoran di kamar mandi, meski ditutupi sebaik apapun, tetaplah kotoran.”
“Jangan bicara seperti itu padaku. Aku juga bukan bagian dari para konglomerat,” sahut Takehiro Okayama. Ia paham benar suasana dalam negeri memang tidak ideal, tapi ia juga tak berdaya.
Budaya rasa malu begitu mengakar dalam hati setiap warga Jepang, terutama para konglomerat.
Demi gengsi, nama baik, dan keuntungan, mereka sangat rela memalsukan banyak hal.
Pemalsuan akademik, data, asal barang, dan lain-lain, selama tidak ketahuan, dianggap tidak masalah.
Kalaupun ketahuan, cukup membungkuk dan minta maaf, maka semuanya selesai.
Di Jepang, biaya untuk memalsukan sesuatu sangat rendah, tapi keuntungannya besar, sulit untuk menahan godaan.
Saat mereka berbincang, Katrina sudah menghabiskan satu teko penuh teh Longjing.
Pintu ruang tamu perlahan terbuka. Seorang lelaki tua berpakaian tuksedo masuk dengan langkah anggun dan suara ramah, “Maaf, Nona Besar mendadak ada urusan, tidak bisa menemui kalian. Silakan datang lagi lain waktu.”
Emili menengadah, “Lain waktu itu kapan?”
Lelaki tua itu tersenyum, “Nanti kalau sudah ada waktu.”
Artinya, jangan lagi mengganggu.
Jawaban yang sudah ia duga. Emili menghela napas dalam hati, bangkit berdiri, “Mari kita pergi.”
Selesai berkata, ia mengambil payung kecil di sampingnya dan melangkah keluar dari kediaman keluarga Fujinoin.
Megah bak istana, mewah dan luas—itulah kesan yang ia dapatkan tentang rumah keluarga Fujinoin.
Emili harus berputar cukup jauh sebelum keluar dari gerbang utama.
Cahaya matahari siang menyilaukan jatuh dari langit, ia membuka payung merah menyala, melindungi dirinya dari terik.
Takehiro Okayama memperlambat langkah, menyamakan dirinya dengan Emili, lalu bertanya, “Setelah ini, kita harus menyelidiki ke mana?”
Emili terdiam sejenak.
Awalnya ia ingin menanyakan beberapa detail soal penculikan Miyuki Fujinoin, tapi ternyata malah ditolak mentah-mentah.
Beberapa hari lalu, Perusahaan Keuangan Hayakawa yang sempat dicurigai, sudah berhasil ia hancurkan.
Ia sudah menyelidiki, namun tidak menemukan keterkaitan Perusahaan Keuangan Hayakawa dengan perusahaan teknologi tinggi, justru membongkar kasus penyelundupan yang dilakukan Hayakawa.
Langsung saja para petinggi Hayakawa dikirim ke penjara.
Kepolisian Metropolitan Tokyo bahkan menjadikan ini sebagai prestasi, dipublikasikan besar-besaran.
Namun, hal itu sama sekali tidak berkaitan dengan apa yang ingin ia selidiki.
“Karena Nona Besar keluarga Fujinoin tidak mau bekerja sama, kita arahkan saja penyelidikan ke perusahaan teknologi tinggi,” ucap Emili setelah berpikir, lalu tersenyum, “Material alat semacam lengan mekanik itu, tidak sembarang orang bisa mendapatkannya.
Kita selidiki dulu perusahaan resmi, lalu telusuri yang tidak resmi.
Selama ada jejak, pasti bisa diketahui siapa pembeli material di balik layar.”
Ucapannya penuh keyakinan.
Sebagai detektif terkenal, kasus yang berhasil ia pecahkan sudah tak terhitung jumlahnya. Ia punya kebanggaan tersendiri sebagai detektif ulung.
Tak ada penjahat yang bisa lolos dari kejarannya!
Takehiro Okayama hanya bisa tersenyum pahit dan menggaruk kepalanya, “Jangan sampai hanya karena satu kasus, kau bikin Jepang jadi kacau balau.”
“Kalian mengundangku ke sini, masa hanya untuk mengobrol sambil digaji?” Emili membalas dengan nada sebal.
Saat ini, masalahnya bukan lagi soal uang. Ia sudah terpicu rasa penasarannya oleh sang pelaku—ia harus membongkar penjahat berotak cerdas itu.
Soal apakah pelaku akhirnya bisa dihukum, ia tak terlalu peduli.
Penjahat cerdas seperti itu biasanya akan dilirik oleh Badan Intelijen Pusat Amerika, lalu direkrut masuk.
Semua kejahatan yang pernah dilakukan bisa langsung dihapus.
Dari satu sisi, Amerika memang benar-benar menghargai orang berbakat.
Takehiro Okayama menghela napas, “Aku takut kau nanti tiba-tiba ditembak, lalu dianggap bunuh diri.”
“Kalau ada aku, selama yang dihadapi bukan satu kompi tentara, pasti bisa diatasi,” Katrina akhirnya buka suara.
Emili tersenyum lebar, “Terima kasih, itu kalimat paling menghangatkan yang pernah kudengar.”
Takehiro Okayama menggeleng, dalam hati ia juga ingin membuat kehebohan di dalam negeri, hanya saja ia tidak tahu sampai seberapa jauh atasan akan mengizinkan mereka bertindak.
Semoga saja bisa berlangsung cukup lama.