Bab Delapan Puluh Tujuh: Ratu Seribu Generasi
Apartemen Ayase, 601.
Morimoto Chiyo sedang berlatih yoga mengikuti video pendek di YouTube. Dari Senin sampai Jumat, ia hanya berlatih sekali di pagi hari. Pada akhir pekan, karena punya lebih banyak waktu, ia akan berlatih yoga dua kali sehari, kemudian berlatih sedikit bela diri.
Jangan remehkan Morimoto Chiyo yang terkesan bermalas-malasan saat bekerja, sebab ia memiliki kemampuan menembak yang sangat akurat, ahli dalam bela diri dan teknik tongkat polisi. Keahliannya boleh jarang digunakan, tapi tak pernah absen.
Setelah menyelesaikan satu rangkaian yoga yang cukup sulit, kening putihnya dipenuhi keringat, beberapa helai rambut menempel di pipi. “Hah,” ia menghela napas, bangkit, lalu menyeka wajahnya dengan handuk, kemudian mengusap dada dan ketiaknya.
Rasanya seperti hembusan angin sejuk di tengah terik musim panas. Sungguh menyegarkan. Sebuah senyum kecil terlukis di wajahnya, menikmati sensasi itu.
Tiba-tiba, suara gagang pintu diputar membuat Morimoto Chiyo waspada. Ia dengan sigap menarik handuk, pura-pura tenang berjalan ke wastafel di bar dapur.
Pintu terbuka. Aozawa pulang ke rumah, tersenyum dan berkata, “Chiyo, aku pulang. Aku bawakan yakitori dan teh susu dari Shinjuku untukmu.” Tangan kanannya mengangkat sebuah kantong plastik.
“Kau masih punya hati nurani rupanya.” Ekspresi Morimoto Chiyo tetap datar, meski dalam hatinya ia merasa lega. Untung saja pendengarannya tajam, sehingga ia bisa menghindari Aozawa melihatnya sedang mengelap keringat di ketiak. Morimoto Chiyo tidak ingin citra anggunnya rusak.
Aozawa menutup pintu, berjalan ke arah bar dapur dan berkata, “Chiyo, kenapa kau bicara begitu? Kapan aku tidak punya hati nurani padamu? Di hatiku, kau selalu jadi yang utama.”
Morimoto Chiyo membilas handuk, berkata dengan nada kurang senang, “Kalau begitu aku harus berterima kasih karena kau repot-repot membawakan makanan berkalori tinggi dari Shinjuku.”
“Kalau kau tidak makan, biar aku yang makan.” Aozawa meletakkan kantong plastik di bar, mengeluarkan yakitori dan teh susu, membuka bungkus aluminiumnya, aroma harum langsung menyeruak.
“Wah, baunya enak sekali~” Ia sengaja memasang wajah terbuai, “Kau yakin tidak mau makan?”
“Sudah terlanjur dibeli, tentu saja aku mau makan beberapa tusuk.” Morimoto Chiyo memeras handuk, menggantungkannya di leher yang jenjang, lalu mengulurkan tangan hendak mengambil sebatang sate daging.
Aozawa dengan sigap menusukkan sosis panggang ke bibirnya, tersenyum, “Ayo, buka mulut. Aku suapi kau sosis.”
Morimoto Chiyo langsung memutar bola mata, sudah tahu dia tidak sebaik yang dikira.
“Ayo makan, aku akan sangat lembut.” Dalam hati ia menghela napas, lalu membuka bibir merahnya, lidahnya menyesap jintan yang tabur di permukaan sosis. Suhunya masih agak panas.
Aozawa menatapnya, matanya jadi bersinar.
Ceklik!
Morimoto Chiyo menggigit sosis itu dengan gigitan tajam, langsung memotong sebagian besar, mengunyah dengan lahap sampai pipi kanan kirinya mengembung seperti hamster, lalu menelannya. “Sekarang kau puas?”
Darah panas Aozawa langsung mereda, ia menggerutu, “Kasar sekali.”
Morimoto Chiyo meliriknya, “Aku mau kerja sama saja sudah bagus, jangan terlalu semena-mena.”
“Kalau kau kasar begitu, lain kali aku tak mau lagi menyuapi.”
“Kau kira aku menginginkan itu?” Morimoto Chiyo membalas dengan nada kesal, mengambil tusuk sate domba. Sudah kadung makan makanan berkalori tinggi, ia pun jadi lebih santai, “Malam ini kita makan oden saja.”
“Aku tidak keberatan.”
“Nanti aku kirim pesan suara, apa saja bahan yang perlu dibeli, kau belanja di supermarket.”
“Menurutku lebih baik makan seperti biasa saja, oden kurang enak.” Begitu mendengar harus belanja ke supermarket, Aozawa langsung merasa repot dan reflek menolak ide makan malam oden.
Morimoto Chiyo tidak menjawab, hanya menatapnya.
“Baiklah, kalau Putri Chiyo sudah memerintah, sebagai pangeran aku harus pergi belanja.”
“Tolong panggil aku Ratu.”
Aozawa berdiri tegak, memasang ekspresi sangat serius, “Siap, Ratu!”
“Hehe.” Morimoto Chiyo tertawa geli, seulas pesona terlukis di wajahnya, dalam hati ia sangat menikmati mengendalikan Aozawa. Membuat hatinya terasa senang.
Morimoto Chiyo menggigit sate domba, rasa dagingnya terasa ekstra lezat.
...
Pukul lima sore, matahari bersinar cerah, belum tampak tanda-tanda akan terbenam. Menjelang musim panas, waktu siang hari terasa lebih panjang.
Pelajaran Fujinomiya Miki berakhir tepat waktu. Rutinitas hariannya tidak berubah sepanjang tahun, tetap mengikuti jadwal yang sudah disusun. Jadwal itu dibuat oleh Hotaru, sebagai bentuk kasih sayang seorang ibu.
Fujinomiya Miki berpamitan dengan guru fisika dengan sopan, lalu berjalan sendirian menuju ruang makan.
Miwa sang kepala pelayan mengikuti di belakangnya. Seorang pelayan membukakan pintu ruang makan, membungkuk, “Selamat menikmati makan malam, Nona.”
Di dalam ruang makan, lampu gantung kristal menyala. Cahaya lembut menyinari meja makan, menerangi hidangan-hidangan mewah yang telah disiapkan.
Fujinomiya Miki memandang kursi utama yang kosong, wajahnya sedikit terkejut, “Bukankah Ibu bilang akan makan malam di rumah?”
Dari belakang, Miwa menjawab, “Nyonya harus menghadiri sebuah jamuan makan malam yang sangat penting.”
Fujinomiya Miki mengangguk, melangkah masuk ke ruang makan, duduk di tempatnya. Kepala pelayan menutup pintu dengan hati-hati. Kedap suara yang baik membuat Fujinomiya Miki tak perlu khawatir percakapan mereka terdengar para pelayan di luar, lalu ia bertanya, “Jamuan penting apa itu?”
Fujinomiya Miki penasaran, sebab ibunya tidak akan mengubah jadwal kecuali ada hal yang sangat penting.
“Sebenarnya, telah terjadi tragedi di Shimo-Ochiai, Shinjuku. Anggota Gereja Cinta dan Perdamaian Dunia dibunuh oleh seorang pria bernama Dio,” jawab Miwa pelan, lalu menambahkan, “Menurut tim investigasi, Dio tingginya lebih dari satu meter sembilan puluh, ahli menyamar, orang asing, dan teknik membunuhnya sangat profesional. Orang-orang dari Ishida Finance dan Konishi Finance juga dibunuh olehnya.”
“Mereka itu hanya orang-orang kecil, tak sampai membuat Ibu turun tangan. Apakah di balik gereja itu ada tokoh besar yang melindungi?”
“Gereja itu dilindungi oleh Anggota Dewan Yasuda. Pelaku memaksa pemimpin gereja mengaku di atas panggung bahwa dia menyuap anggota dewan.”
“Jadi Anggota Dewan Yasuda ingin meminta Ibu agar menutup mulut?” Fujinomiya Miki langsung bisa menebak urusan apa yang membuat ibunya dicari.
Keluarga Fujinomiya memiliki tiga perusahaan media, salah satunya adalah media papan atas di negeri ini. Jika Yasuda ingin menutup kasus ini agar tidak diberitakan media, tentu butuh bantuan keluarga Fujinomiya.
Apalagi, partai yang didukung keluarga Fujinomiya berbeda dengan partai Yasuda. Untuk menyelesaikan urusan seperti ini, tidak cukup hanya dengan sepatah kata atau sapaan, pasti harus ada imbalan nyata.
“Benar, Nyonya sedang bernegosiasi dengan orang-orang dari pihak Yasuda dan kepolisian, mencari solusi atas kasus ini.”
“Hmph.” Fujinomiya Miki mendengus dingin, tak ingin membahas hal yang bisa merusak selera makannya, lalu melambaikan tangan, “Kau pergi saja, makanlah.”
“Baik.” Miwa membungkuk, keluar dari ruang makan.
Fujinomiya Miki mengeluarkan ponsel, berniat mengeluhkan urusan kepentingan orang dewasa pada Aozawa. Dulu, saat belum punya teman, ia hanya bisa memendam semua ini. Sekarang sudah punya teman, kalau tidak curhat, buat apa berteman?