Bab 7: Semua Ingin Membeli
“Baik.”
Dengan adanya seorang kenalan yang menemani, setidaknya ia tak perlu berputar-putar mencari jalan sendiri.
Setelah mereka sepakat soal waktu, keduanya pun berpisah.
Keesokan harinya, Xue Yu membawa Su Chen mengurus semua dokumen yang diperlukan, benar-benar seperti kakak perempuan yang perhatian.
Hal ini membuat Zhou Wei dan yang lainnya iri bukan main; anak ini benar-benar beruntung. Orang lain kalau mengurus hal-hal begini pasti harus sana-sini tanya, tapi dia malah ada yang rela menemani langsung.
Setelah semua urusan itu selesai, Su Chen pun mulai mengikuti perkuliahan.
Di masa ini, belum banyak mahasiswa yang suka bolos seperti di masa depan; semua benar-benar serius belajar, para dosen pun mengajar dengan metode menjejalkan semua materi.
Seolah-olah ingin memastikan semua ilmu benar-benar dikuasai.
Walaupun Su Chen datang dengan pengalaman dari masa depan, tapi di kelasnya banyak sekali siswa jenius, otak mereka seolah bagai komputer super.
Entah itu kelas manajemen ataupun jurusan lain, seluruh kampus berada dalam suasana belajar yang sangat intens; baik dosen maupun mahasiswa, setiap hari semua orang berjuang mati-matian.
Karena setelah beberapa tahun, terjadi kekurangan tenaga ahli di mana-mana, para profesor senior selalu tampak cemas, menyimpan tekad untuk mengejar ketertinggalan dari luar negeri.
Setiap hari keluar dari asrama, di sepanjang jalan yang dilihat adalah mahasiswa yang terus-menerus membaca;
Di ruang kelas pun tak ada yang menganggur, semua memeluk buku;
Ke kantin, banyak yang makan sambil membaca;
Bahkan ada yang ke kamar kecil pun membawa buku.
Di mana pun, setiap orang selalu menggenggam buku.
Semua orang hampir seperti spons, setiap hari menyerap ilmu sebanyak-banyaknya.
Tak ada yang terpikir untuk bolos, di zaman ini bolos adalah hal yang mustahil.
Karena sekali bolos, dianggap merusak moral, lalu berbagai organisasi akan memanggil untuk menegur, bahkan bisa-bisa diusir dari kampus.
Su Chen pun ikut terhanyut dalam suasana belajar yang penuh tekanan ini, sebab jika ia sedikit saja bermalas-malasan, bukan hanya tiga teman sekamarnya yang akan menegur, bahkan Xue Yu pun mengawasinya.
Dalam situasi seperti ini, rasanya kalau ia tidur lebih lama atau sedikit saja kehilangan fokus, sudah merasa sangat bersalah, seolah-olah mengecewakan semua orang.
Setiap hari buku pelajaran tak pernah habis dibaca, soal-soal latihan tak pernah selesai dikerjakan, baru satu minggu masuk kuliah sudah langsung ujian—percaya atau tidak?
Di zaman ini, soal ujian biasanya dicetak sendiri oleh dosen, kertasnya memakai tinta cetak, begitu selesai ujian, lengan sampai hitam semua.
Namun dibandingkan dengan jurusan lain, manajemen dan ekonomi masih termasuk ringan.
Su Chen sempat melihat seorang mahasiswa jurusan arsitektur menggambar dengan pena khusus, penggaris sejajar, dan alat hitung manual; ia benar-benar kagum pada alat-alat tradisional itu dan pada kesabaran serta keahlian mereka.
Sebab sekali saja salah, seluruh gambar harus diulang dari awal.
Meski begitu, ada juga segelintir mahasiswa dari jurusan lain yang meremehkan manajemen, katanya pelajaran manajemen banyak yang tak dipahami masyarakat awam, terlalu abstrak dan nyaris tak berguna, hanya pandai bicara saja—meski hal itu tak berani mereka katakan terang-terangan.
...
Tak lama kemudian, tibalah Hari Nasional; semula Su Chen mengira tidak akan ada libur.
Tak disangka, Cheng Shuhui justru mengumumkan:
“Sejak kita mulai perkuliahan, setiap hari semua orang berada dalam kondisi belajar yang sangat intens, dan prestasi kalian pun meningkat pesat.
Saya dan para dosen lainnya sudah berdiskusi, dan akhirnya berhasil memperjuangkan libur setengah hari besok pagi untuk kalian, tapi hanya pagi saja, siang harinya harus kembali ke kelas.”
Para mahasiswa terdiam sejenak, lalu ketua kelas berseru, “Bu, menurut saya seharusnya mahasiswa mengutamakan belajar, jadi libur setengah hari ini sebaiknya dibatalkan saja.”
Su Chen langsung ingin menghajar anak itu.
Beberapa orang menimpali, “Bu, sebaiknya kita lanjut saja kuliah, libur hanya akan membuang waktu belajar yang berharga.”
“Teman-teman.” Cheng Shuhui mengangkat tangan di podium, lalu menenangkan mereka dengan senyum puas:
“Saya sangat senang kalian punya semangat seperti ini. Tapi libur ini diberikan agar kalian punya waktu jeda, agar bisa menyesuaikan diri dengan lebih baik. Jadi, sudah diputuskan, besok siang tepat waktu kembali ke kelas.”
Karena wali kelas sudah bicara begitu, bahkan mahasiswa yang sangat suka belajar pun tak bisa membantah lagi, hanya bisa saling berjanji mungkin besok pagi tetap datang ke kampus.
Di perjalanan pulang ke asrama, Zhou Wei bertanya pelan, “Kalian besok pagi tetap ke kampus?”
“Tidak.” Pan Yuehua menggeleng, “Aku mau ke perpustakaan pinjam beberapa buku.”
Liu Hui berpikir sejenak, “Sepertinya aku tak ada tempat lain, jadi besok pagi tetap ke kelas saja, lagipula nilaku jelek, kalau sampai memberatkan kalian semua, aku benar-benar malu.”
“Kamu sendiri?” Ketiganya serempak menatap Su Chen.
Su Chen menggeleng, “Besok pagi aku mau keluar sebentar.”
Tiga pasang telinga langsung siaga:
“Mau ke mana?”
“Bareng Bu Xue ya?”
“Bu Xue masih muda, orangnya juga lembut...”
Ih, lihat saja kelakuan mereka.
Padahal Su Chen cuma ingin keluar mencari udara segar, tapi mereka malah berpikiran aneh-aneh.
Ia menghela napas, “Kalian ini, aku dan Bu Xue itu sama sekali tak ada apa-apa, jangan sembarangan fitnah. Aku sih tak masalah, kulit tebal daging keras, tapi Bu Xue itu gadis baik-baik, kalau sampai timbul salah paham...”
Belum sempat selesai bicara, Xue Yu sudah muncul di depan, “Su Chen, besok pagi ada urusan?”
Tiga teman sekamar langsung melirik Su Chen, “Dasar tukang bohong.”
Lalu mereka serempak menyapa Xue Yu,
“Bu Xue, kami duluan ya, sampai jumpa.”
“Sampai jumpa.”
Su Chen sendiri tak tahu kenapa Xue Yu mencarinya, jangan-jangan disuruh tetap datang kuliah?
Ia buru-buru berkata, “Bu Xue, besok pagi saya ingin ke toko barang titipan, jadi tidak ikut kuliah.”
“Kebetulan sekali! Besok pagi saya juga mau belanja, tadinya saya mau tanya apa kamu punya waktu, ternyata kamu juga mau keluar.” Xue Yu tersenyum, “Boleh kita pergi bareng?”
Sudah ditawari begitu, Su Chen tentu tak bisa menolak, “Jadi besok pagi jam delapan kita berangkat sama-sama, bagaimana?”
“Setuju, besok pagi jam delapan kita bertemu di gerbang kampus, sekarang kita makan dulu yuk.”
Keduanya lalu makan bersama di kantin, kemudian kembali ke asrama masing-masing.
...
Keesokan paginya, teman-teman sekamar Su Chen sudah keluar satu per satu, ada yang ke perpustakaan, ada yang ke kelas.
Sementara Su Chen menunggu Xue Yu di gerbang kampus.
Sekitar pukul delapan pagi, Xue Yu muncul dari dalam kampus, rambut diikat, mengenakan gaun putih berlapis dalam berbahan kain katun, setiap langkahnya membuat ujung rok berkibar, ada keelokan sederhana yang memancarkan pesona hidup.
“Maaf ya, bikin kamu menunggu.” Xue Yu berkata dengan sedikit rasa bersalah.
Su Chen tersenyum, “Saya juga baru sampai, Bu Xue, kita mau ke mana?”
Kalau bicara soal toko barang titipan, kebanyakan orang pasti teringat Dongdan.
Padahal di ibu kota toko semacam itu ada di banyak tempat, bukan hanya Dongdan, tapi juga Qianmen, Xidan, Beixin Qiao, dan Pasar Bunga.
Tentu saja, toko barang titipan pun terbagi-bagi; kalau memang benar-benar mau belanja sesuatu, harus ke toko yang sesuai kebutuhan. Tapi kalau cuma ingin jalan-jalan, di mana saja bisa.
Orang-orang di ibu kota zaman ini sangat suka keliling toko barang titipan, setiap hari selalu ramai pengunjung.
Di masa ini, kota penuh dengan harta karun, barang yang harganya cuma satu-dua yuan, suatu hari nanti bisa jadi sangat mahal.
Seperti kisah Pak Ma yang membantu mengangkut briket dan diberi guci cantik oleh majikannya, belakangan barang itu jadi sangat berharga, Pak Ma sampai senang bukan main.
“Kita ke Xidan saja.” Xue Yu tersenyum, “Ayo, naik bus.”
Keduanya langsung naik bus menuju Xidan.
Begitu sampai, wah, ternyata ramai juga.
Suasana toko barang titipan agak ‘abu-abu’, terbagi jadi dua bagian: bagian penjualan dan bagian pembelian. Bagian penjualan khusus menampilkan dan menjual barang, bagian pembelian bertugas menerima barang titipan dan membeli dari pelanggan.
Di rak dan etalase bagian penjualan, berderet-deret aneka perabot bekas, porselen, barang tembaga, pakaian, barang kulit, jam, sepeda, dan benda antik lainnya.
Pengunjung bebas mencari dan membeli barang di bagian penjualan, tapi kalau tidak ada barang untuk dijual atau dititipkan, tak boleh berkeliaran di bagian pembelian, apalagi menunggu di pintu bagian pembelian untuk menawar barang yang hendak dijual atau dititipkan orang lain.
Ada istilah khusus untuk itu, namanya ‘mengambil rejeki orang’.
Su Chen mengikuti di belakang Xue Yu, melihat tumpukan perabot kuno, porselen, barang tembaga, dan label harga di sampingnya, rasanya ia hampir gila!
Ini semua barang berharga!
Jantung Su Chen berdegup kencang, ia hanya bisa memandang dengan penuh harap.
Xue Yu menoleh, “Su Chen, kamu ingin beli apa?”
Aku ingin beli semuanya.
Tapi apa daya, kantong kosong, tak punya uang.
“Aku...”
Belum sempat Su Chen melanjutkan, tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang, “Hei, anak muda...”