Bab Delapan Puluh Empat: Jimat Lima Petir Langit
“Bukankah dia seorang petarung? Tadi aku melihat energi meledak...” tanya Meng Chen sambil memiringkan kepala.
“Penyandang kemampuan supernatural tingkat C bintang dua, sekaligus petarung tahap Yuan Sheng bintang dua,” jawab Fu Yue dengan senyum tipis.
Meng Chen terdiam. Ini adalah orang aneh kedua yang ditemuinya.
Sementara mereka berbincang, Feng Ye telah berputar di udara dan mendarat dengan mantap di atas tebing.
“Ayo, kita bersihkan tempat ini, periksa apakah masih ada yang belum sepenuhnya mati,” ucap Fu Yue.
Meng Chen dan Feng Ye sama-sama mengangguk. Sebenarnya, sebelum Fu Yue tiba di tepi tebing tadi, ia sudah mengendalikan pisau terbangnya untuk memastikan semua gagak kegelapan yang sayapnya terluka telah menerima satu tusukan terakhir.
Setelah pembersihan, selain satu gagak kegelapan raksasa yang jatuh ke bawah tebing, masih ada 72 ekor lainnya.
Tadi Meng Chen sudah menghitung, tidak semua gagak kegelapan itu menghasilkan energi spiritual iblis; hanya yang panjang tubuhnya sekitar satu meter atau lebih yang mengeluarkan asap kelabu. Sedangkan gagak kegelapan terbesar dengan panjang tubuh satu meter dua puluh, memberinya dua poin energi spiritual iblis sekaligus.
Meski begitu, kawanan gagak kegelapan yang sangat banyak ini setidaknya memberinya sekitar dua puluh lebih poin energi spiritual iblis.
Setelah pembersihan selesai, Fu Yue menelepon kantor polisi, meminta mereka mengirim personel untuk mengumpulkan bangkai gagak kegelapan itu.
“Gagak-gagak kegelapan ini, selain pemimpinnya, nilainya sedikit di bawah ngengat siluman. Hasil perburuan kali ini kira-kira bernilai antara dua juta empat ratus ribu hingga tiga juta,” ujar Fu Yue setelah menyimpan ponselnya.
“Kali ini, hasilnya akan kita bagi rata bertiga,” kata Feng Ye sambil mengangguk.
“Aku tidak berbuat banyak, seharusnya aku mendapat bagian lebih sedikit,” ujar Meng Chen buru-buru.
Fu Yue dan Feng Ye saling pandang dan tertawa kecil, lalu Feng Ye berkata, “Meng Chen, peranmu sangat besar! Jika hanya kami berdua, hari ini kami pasti tidak bisa memberantas seluruh gagak kegelapan ini. Ini memang hakmu.”
“Baiklah,” Meng Chen akhirnya tidak bersikeras. Saat ini, ia memang sangat membutuhkan nilai kontribusi tersebut.
Masih ada waktu sebelum polisi datang, mereka bertiga duduk bersandar di motor masing-masing menunggu.
“Feng Ye, apakah banyak penyandang kemampuan supernatural yang juga berlatih bela diri?” tanya Meng Chen kepada Feng Ye.
“Tidak banyak, hanya yang cocok saja yang menjalani keduanya. Seperti ‘Tubuh Baja’ milik Zhang Sanfeng, dan ‘Pengendalian Angin’ milikku. Jujur saja, kebanyakan penyandang kemampuan supernatural tubuhnya terlalu rapuh, jika lawan mendekat, sangat berbahaya. Selain itu, sebagian besar kemampuan supernatural punya kelemahan, bisa dikalahkan oleh jenis makhluk aneh tertentu,” jelas Feng Ye.
Fu Yue yang berada di sampingnya hanya melirik sekilas tanpa membantah. Jelas, apa yang dikatakan Feng Ye adalah kenyataan.
Meng Chen mengangguk pelan dan kembali bertanya, “Feng Ye, Fu Yue, bagaimana kalian membangkitkan kekuatan supernatural itu?”
“Tidak ada pola tertentu, caranya bermacam-macam. Aku waktu itu sempat demam tinggi hingga pingsan, setelah sadar, entah kenapa, aku merasa ada hubungan aneh dengan ‘angin’,” jawab Feng Ye sambil mendongak merasakan angin gunung di sekitarnya.
Malam ini, angin gunung tidak kencang, hanya cukup untuk menerbangkan helai rambut. Namun sesaat kemudian, kekuatan angin di sekitar Feng Ye meningkat tajam, hingga mantelnya berkibar keras.
“Kemampuan supernatural-ku saat ini baru tingkat C bintang dua, masih cukup lemah dan terbatas,” Feng Ye menghentikan kekuatannya, lalu memasukkan sebutir pinang ke mulutnya. Ia memandang Fu Yue sambil tersenyum, “Kekuatan mental Fu Yue sudah di puncak tingkat C bintang tiga, tidak lama lagi bisa menembus ke tingkat B... Jika Fu Yue berhasil menembus tingkat B, tim kecil kita ini bisa ikut serta dalam ekspedisi ke ranah rahasia.”
“Tidak semudah itu, menembus tingkat B bukan perkara gampang!” ujar Fu Yue sambil menggeleng.
“Ekspedisi ranah rahasia? Ranah rahasia itu apa?” tanya Meng Chen penasaran.
“Dasar kurang baca...” Feng Ye meliriknya, lalu menghela napas, tampak malas menerangkan.
Fu Yue tersenyum menggeleng, lalu berkata, “Yang disebut ‘ranah rahasia’ adalah tempat-tempat misterius yang sulit dieksplorasi. Hal ini pernah dijelaskan di forum bela diri... Dengan bakat dan latihan kerasmu tiap hari, wajar saja kau tidak sempat membuka forum itu.”
Meng Chen agak malu. Jujur saja, ia memang sangat mementingkan latihan. Tapi kalau disebut latihan keras, sebenarnya tidak juga. Setiap hari hanya berjemur dan mengatur pernapasan, apakah itu bisa dibilang latihan keras?
“Sebagai gambaran, beberapa ranah rahasia terkenal di dalam negeri antara lain ‘Gua Dewa Pertanian’, ‘Nadi Bumi Kunlun’, ‘Kota Bawah Tanah Lop Nor’, dan ‘Istana Kaisar Pertama’,” lanjut Fu Yue.
“Apakah tempat-tempat itu berubah karena kebangkitan energi spiritual?” tanya Meng Chen dengan penuh rasa ingin tahu.
“Ada yang memang berubah, ada pula yang sejak dulu memang sudah misterius, hanya saja pengaruh kebangkitan energi spiritual membuatnya makin ajaib... Bahkan hingga kini, eksplorasi manusia baru di permukaan, masih sangat jauh dari mengungkap misteri sesungguhnya!” jelas Fu Yue.
...
Setengah jam kemudian, suara sirene polisi samar-samar terdengar dari jalan lingkar pegunungan. Tak lama sesudah itu, pasukan polisi dan tentara datang, lalu menutup area tersebut.
Sisanya sudah bukan urusan Meng Chen dan teman-temannya. Setelah semua selesai, mereka kembali ke kantor polisi.
Setelah mengembalikan senjata ke gudang senjata, Meng Chen langsung keluar dan pulang ke Perumahan Matahari.
Saat itu sudah lewat pukul satu dini hari. Setiba di rumah, Meng Chen mengambil ponsel dan membuka antarmuka dunia spiritual.
Ia merasakan, akumulasi energi spiritual iblis kini mencapai 32 poin. Dikurangi sisa 7 poin sebelumnya, berarti hari ini ia memperoleh 25 poin.
Ia kembali mengambil sebutir Pil Darah dan mulai berlatih.
...
Keesokan paginya, Meng Chen bangun lebih awal, naik ke atap untuk berlatih di bawah cahaya pagi.
Tadi malam, Fu Yue sudah memberitahu bahwa siangnya boleh istirahat, malamnya mereka akan survei ke kampus lama SMP Empat.
Menjelang siang, ia turun dari atap, membuka antarmuka dunia spiritual dan mengambil sebutir Pil Darah.
Setelah beberapa hari percobaan, Meng Chen menemukan bahwa setelah mengonsumsi Pil Darah secara rutin, kemajuan jurus Zhiyang yang semula lambat kini mulai meningkat lagi. Ia menduga ini karena fisiknya yang semakin kuat.
Saat hendak menelan pil dan mulai berlatih, ponselnya kembali bergetar.
Wu Da: ikon secarik kertas emas.
Wu Da: pesan suara.
“Anak ini akhirnya ingat menghubungiku... Tapi, apa maksud kertas emas ini?” gumam Meng Chen sambil menatap kertas emas tersebut.
“Jimat Lima Petir Langit ×1”
“Jimat Lima Petir Langit? Ditempa oleh Guru Luo?” Meng Chen berdebar, namun ia belum mengambilnya, melainkan membuka pesan suara dari Wu Da.
“Meng Chen, pasti sudah tidak sabar, ya... Aduh, aku ada masalah, jadi tertunda sebulan! Sebenarnya aku berharap bisa menukar Kitab Qīngnáng dengan satu jurus, tapi guru tua itu bilang ‘ilmu tidak boleh sembarangan diajarkan’, kalau mau belajar ilmunya harus jadi murid dulu...
Ya sudah, aku setuju saja jadi murid, pikirku lumayan. Eh, ternyata sebelum diterima, aku harus menjalani ujian mental. Disuruh membersihkan kuil dan mengangkut air di Gunung Dua Dewa selama tiga tahun, baru setelah lulus ujian bisa jadi murid...
Ampun dah, mana aku punya waktu segitu! Lagi pula, setelah tiga tahun kerja serabutan di sana, belum tentu juga bisa diterima... Akhirnya guru tua itu setuju membuatkan tiga ‘Jimat Lima Petir Langit’ dan satu ‘Jimat Pelindung Daya Spiritual’ sebagai tukaran Kitab Qīngnáng salinan.”
Suara Wu Da terdengar, terus saja berbicara panjang lebar.