Bab 012: Menjual Uang Perak
Sekitar pukul dua dini hari, Muyang baru tiba di rumah. Ia tidak kembali menyeberang ke masa Republik, melainkan langsung tidur di ranjangnya sendiri. Sudah beberapa hari ia tidak beristirahat di sini, rasanya sangat dirindukan.
Keesokan harinya, ia baru bangun lebih dari pukul sepuluh. Hari Minggu, ini adalah akhir pekan terpanjang yang pernah ia jalani. Ia mengambil busur silang milik Si Gendut, membongkarnya, memasukkan ke dalam koper, lalu mengayuh sepeda gunungnya menuju Pasar Guanyuan di Jembatan Zizhu.
Pasar itu tetap ramai seperti biasa. Si Gendut masih bersantai di kursi malasnya yang kokoh. “Bang Gendut, aku datang.”
“Hei, kau tumben datang hari ini, sebelumnya juga tidak telepon dulu.”
“Kalau aku telepon, apa kau bakal menjemputku di depan pintu?”
“Bang Gendut-mu ini terlalu lelah, lebih baik banyak istirahat.”
“Silakan terus pelihara lemakmu saja. Barangnya sudah aku bawa kembali,” katanya sambil mengangkat koper di tangannya.
“Kenapa, tidak jadi dipakai?”
“Awalnya memang janjian dengan teman mau ke gunung, tapi batal, jadi malah merepotkanmu sia-sia.”
“Baguslah, jadi aku lebih tenang, taruh saja di dalam.”
Muyang meletakkan koper itu di bawah meja dalam ruangan, lalu keluar mengobrol dengan Si Gendut.
“Bang, aku mau tanya sesuatu. Ada kenalan yang biasa jual-beli uang perak nggak?”
“Kau mau beli atau jual?” tanya Si Gendut bingung.
“Jual. Ada beberapa uang perak, sayang kalau cuma disimpan. Pengeluaran akhir-akhir ini besar, jadi mending dijual saja.”
Baru di perjalanan tadi Muyang terpikir soal ini. Uang sakunya dikirim rutin setiap bulan, jumlahnya cukup untuk hidup sebagai mahasiswa. Tapi, belakangan ini pengeluaran membengkak. Ia tidak mau langsung minta tambahan dari ayahnya, malas kalau harus menjelaskan alasannya. Akhirnya ia berniat menjual beberapa uang perak, sisakan satu-dua untuk keadaan darurat, enam keping siap dilepas agar bisa sedikit bernafas.
“Walaupun Bang-mu ini dagang barang antik, uang perak dan barang antik itu satu dunia juga. Tentu aku punya kenalan. Ada teman masa kecilku, buka toko barang antik dan batu permata di Liulichang. Spesialisasinya batu giok, uang kuno, cap, dan semacamnya. Nanti aku minta dia kasih harga pantas.”
Sambil bicara, ia langsung mengeluarkan ponsel, menelpon temannya itu. Setelah ngobrol sebentar, ia bilang saja kalau ada teman baik yang mau jual beberapa uang perak, sebentar lagi akan mampir ke tokonya.
Kemudian ia menuliskan alamat, nomor rumah, nama toko, bahkan nomor telepon temannya itu di selembar kertas untuk Muyang. Walau tubuhnya gendut, urusan begini Si Gendut sangat cekatan, tak pakai bertele-tele, semuanya beres dalam sekejap.
“Bang, aku berangkat dulu, lain kali main lagi ke sini.”
“Oke, aku nggak antar ya.”
Menyuruh Si Gendut bangun, sama sulitnya seperti minta uang padanya. Istrinya pasti sangat sabar atau benar-benar memaksanya diet sampai ia mau mulai menurunkan berat badan. Itu saja sudah cukup membuktikan betapa dia menyayangi istrinya.
Dari Pasar Guanyuan ke Liulichang berjarak sekitar dua belas-tiga belas li. Muyang berpikir sejenak, akhirnya memilih naik sepeda saja, sekalian olahraga. Kalau naik kendaraan umum, menunggunya malah lebih lama daripada bersepeda.
"Inyu Xuan", inilah tempatnya. Muyang memarkir sepedanya di samping, lalu masuk ke dalam. Tokonya tidak besar, kira-kira dua puluh meter persegi. Di kedua sisi penuh dengan rak barang, semuanya terkunci kaca. Isinya berbagai macam batu giok, juga bahan mentah untuk ukiran. Muyang kurang paham soal itu, jadi tak terlalu memperhatikan.
Di dalam ada dua etalase menempel dinding, rangka kayu merah dengan kaca, beralas kain beludru sutra hijau, di atasnya berjajar berbagai liontin giok asli—giok putih, giok hijau, semuanya ada. Satu etalase lagi berisi macam-macam uang logam antik, termasuk uang perak Yuan Shikai yang hendak Muyang jual.
Di kawasan barang antik, ada aturan sendiri. Kebanyakan pemilik toko tidak akan menanyakan keperluan tamu. Pembeli melihat-lihat sendiri, kalau ada yang tertarik baru memanggil pemilik toko untuk membicarakan harga.
Muyang melirik sebentar ke etalase, lalu melihat pria di belakang meja memperhatikannya. Ia langsung bertanya, “Permisi, apakah Tuan Liu Chengdong ada di sini?”
“Aku sendiri. Kau dari Si Gendut, kan?”
“Benar, aku teman baik Bang Gendut. Dia yang mengenalkanku ke sini.”
“Oh, berarti bukan orang asing. Mari duduk, kita ngobrol.” Ia lalu keluar dari balik meja, mengambil bangku untuk Muyang, dan mereka duduk bersama.
“Aku dan Si Gendut teman SD, sudah tumbuh besar bareng, hubungan lama. Kalau kau temannya, berarti temanku juga. Ada urusan, bilang saja, pasti nggak akan rugi,” kata Liu Chengdong dengan logat khas Beijing.
Muyang mengeluarkan enam keping uang perak dari sakunya dan menyerahkannya kepada Liu.
Liu menerima uang perak itu satu-satu, memeriksa dengan teliti. Setelah beberapa saat, ia menunjuk ke uang logam itu dan berkata, “Empat keping ini adalah Yuan Shikai tahun ke-10. Di pasaran, yang paling banyak beredar itu tahun ke-3, ke-9, dan ke-10, jadi harganya paling rendah, sekitar 400 sampai 450 yuan. Yang satu ini tahun ke-8, sedikit lebih mahal, di kisaran 500 sampai 550 yuan.”
Akhirnya, Liu menunjuk ke keping terakhir. “Yang ini bukan Yuan Shikai.”
Muyang heran, “Apa palsu?”
Liu Chengdong tertawa, “Bukan palsu, justru lebih berharga. Ini uang perak Guangxu, buatan Biro Pencetakan Yunnan. Jumlahnya di pasaran sedikit, harganya antara 2.800 sampai 3.000 yuan. Satu ini saja nilainya lebih besar dari lima keping yang lain digabung.”
“Kenapa bisa beda jauh begitu harganya?”
“Itu dia, urusannya panjang. Di pasar, jenis uang perak saja ratusan, harganya beda-beda. Yang paling mahal bisa puluhan ribu sampai ratusan ribu yuan. Pedagang kecil sering memanfaatkan ketidaktahuan orang. Mereka beli semua dengan harga Yuan Shikai termurah, kalau dapat yang langka, bisa untung berkali-kali lipat.”
Muyang berpikir, ternyata benar ia tidak salah menitipkan barang lewat Si Gendut. Kalau tidak, bisa-bisa ia tertipu tanpa tahu.
“Terima kasih banyak, Bang Liu, sudah dijelaskan. Hari ini benar-benar dapat ilmu baru. Jadi, Anda mau ambil semuanya?”
“Tentu saja. Empat keping Yuan Shikai tahun ke-10 aku bayar 450 yuan per keping, yang tahun ke-8 aku bayar 550, lalu Guangxu Yunnan ini aku bayar 3.000. Gimana?”
Semua sudah ditawar dengan harga tinggi. Muyang langsung setuju. Akhirnya, ia mendapat lebih dari lima ribu yuan, cukup untuk menutup pengeluaran beberapa hari ini, bahkan masih ada sisa.
Menjelang tengah hari, saat toko sepi, Muyang tertarik melihat-lihat barang di rak.
“Bang Liu, giok-giok ini mahal nggak?”
“Yang bagus mahal, yang jelek cuma batu, harganya bisa jauh banget. Yang di etalase ini biasa saja, paling mahal juga cuma puluhan ribu yuan, itu pun karena embel-embel kuno.”
“Maksudnya ada koleksi yang lebih bagus lagi?”
“Buka toko, tentu harus punya barang andalan. Tapi tidak aku pajang di sini. Yang paling bagus, giok lemak domba, pernah ditawar 1,2 juta yuan, tapi belum aku jual.”
Muyang melongo, rupanya giok bisa sangat mahal.
“Kalau di rak luar itu apa saja?”
“Di situ ada batu giok dan batu lain, seperti batu Shoushan, batu darah ayam, batu Balin, macam-macam. Jenisnya banyak, dijelaskan tiga hari tiga malam tidak habis. Dibilang giok juga tidak sepenuhnya, harganya tidak mahal, kecuali yang benar-benar langka. Biasanya dipakai untuk cap atau pajangan.”
Dapat banyak pengetahuan baru, Muyang pun betah berlama-lama di Inyu Xuan. Dua jam ia di sana, otaknya penuh dengan informasi seputar batu giok. Ia pun berpamitan, tapi obrolan mereka membuahkan satu lagi pertemanan baru.
Ia mengayuh sepeda pulang. Begitu sampai di depan rumah, ponselnya berdering. Muyang melihat nomor yang masuk, langsung mengangkat, “Ayah, ada apa?”
“Tidak apa-apa, cuma ingin tanya, malam ini kau ada acara? Kalau tidak, pulang makan di rumah.”
Muyang berpikir sebentar, “Kebetulan tidak ada. Sore nanti aku pulang. Adik di rumah, kan?”
Nada suara ayahnya langsung berbunga, “Adikmu pagi ini ada les piano, sore sudah di rumah. Dia sudah beberapa kali bilang kangen, tanya kapan kau pulang.”
“Baik, sebentar lagi aku pulang.”
Muyang pulang dulu, mandi dan ganti baju, lalu naik bus menuju rumah baru yang letaknya hampir sampai lingkar luar kelima, cukup jauh kalau naik sepeda.
Dengan kunci sendiri, ia membuka pintu rumah. Dari dalam, kepala kecil mengintip di ambang pintu kamar. Begitu melihat Muyang, wajah manisnya langsung berseri, ia berlari dan memeluk kakaknya.
“Kakak, kau pulang!”
Seorang wanita dewasa dengan pesona anggun juga keluar dari dalam, “Muyang, kau pulang. Barusan ayahmu telepon, katanya malam ini kau makan di rumah.”
“Iya, Bibi, malam ini aku makan di rumah.”
“Kak, temani aku main keluar, yuk,” katanya sambil menarik tangan Muyang.
Sambil tersenyum, Muyang mengikuti tangan adik kecilnya ke luar.
“Ibu, kami main keluar sebentar.”
“Hati-hati, jangan terpisah dari kakakmu.”
“Siap, Bu!”