Bab 41: Mati Tapi Belum Mati
Malam itu, Su Cheng terbaring di atas selimut lembut milik Lu Yucheng.
Setelah makan malam, Lu Yucheng pergi keluar karena ada urusan.
Sebelum pergi, ia mengganti sprei dan selimutnya dengan yang baru. Su Cheng mencium aroma asing dari deterjen yang menempel di sana, lalu menatap lampu neon di luar jendela dengan pikiran melayang.
Lu Yucheng tampaknya... terlalu baik padanya?
Apakah dia telah menyadari sesuatu?
Lalu kenapa dia mengizinkannya tinggal di vila ini?
Memikirkan hal itu, Su Cheng duduk dengan gelisah. Kegelisahan itu berubah menjadi kecemasan, membuatnya mondar-mandir di lantai.
Ia mulai berbicara pada dirinya sendiri.
“Harus membunuh Lu Yucheng, hanya dengan membunuhnya aku bisa selamat. Kalau tidak, begitu dia tahu aku seorang yang telah dikeluarkan...”
“Tidak, tidak! Aku tidak boleh membunuhnya!”
“Benih Raja Rotan...!”
Su Cheng cemas menggigit-gigit kuku jarinya hingga berdarah. Rasa sakit tipis itu perlahan menenangkan detak jantungnya yang kacau.
Namun, pikirannya kembali dikuasai kecemasan.
Berada di kamar Lu Yucheng, ia seolah bisa merasakan jejak kehidupan pria itu di mana-mana—semuanya tentang dirinya!
“Menjauh dariku!”
“Jangan dekati aku! Lu Yucheng, kumohon jangan mendekat...”
Su Cheng berteriak pada bayangan imajinasi Lu Yucheng, sambil menerjang ke depan dengan ganas.
Di bawah serangannya, sosok Lu Yucheng pun lenyap.
Kesadarannya mendapatkan kejernihan sejenak.
Rasa sakit—ia membutuhkan rasa sakit untuk tetap sadar.
Ia cepat-cepat membuka perban di tangan kirinya, lalu mencengkeram luka itu erat-erat. Saat darah menetes, air matanya pun jatuh.
Ia terjatuh di pojok ruangan, tak kuasa menahan tangis.
Ia tak menyangka, kekuatan pengendalian Benih Raja Rotan begitu hebat, benar-benar tak mampu ia lawan.
Tapi ia tak ingin mengambil nyawa Lu Yucheng.
Ia juga tak ingin jadi boneka mutan.
Su Cheng mengusap air matanya, terus mencengkeram lukanya agar tetap sadar. Namun Benih Raja Rotan seakan menyadari niat itu, karena luka di tangannya segera menutup.
Ia menatap kedua tangannya, lalu berbalik membuka laci nakas, mengambil sebuah gunting dari dalamnya.
Tanpa banyak ragu, ia menusukkan gunting itu menembus telapak tangan kirinya.
Dan tak mencabutnya.
Di laci bawah nakas ada kertas dan pena. Su Cheng mengambilnya, membentangkannya di atas nakas, lalu berlutut di lantai. Dengan tangan kanan yang berlumuran darah, ia mulai menulis.
Itu adalah surat perpisahan yang ia tinggalkan untuk Lu Yucheng.
Selesai menulis, ia berdiri dan masuk ke kamar mandi.
Di sudut lemari kamar mandi, ada sebuah pistol.
Pistol itu ia temukan secara tak sengaja saat mencari pengering rambut.
Ia mengambil pistol itu, mengokang, dan tanpa ragu menodongkannya ke jantungnya sendiri.
Menarik pelatuk.
Satu suara letusan menggema.
Nielsen yang sedang bersantai di ruang tamu tersentak kaget.
Ia sangat mengenal suara itu—tembakan.
Nielsen terpaku sejenak, lalu bergegas ke depan kamar Lu Yucheng. Awalnya ia mengetuk pelan, tapi karena tak ada reaksi dari dalam, ia mulai menggedor pintu dengan keras.
“Nie Shuang kecil? Nie Shuang? Kau baik-baik saja?”
“Di mana kau?! Sebenarnya ada apa?!”
Saat Nielsen hendak mendobrak, tiba-tiba pintu yang tadinya terkunci perlahan terbuka.
Cahaya lampu neon berwarna-warni dari luar jendela, bercampur hijau, menari di wajah Nielsen.
Celah pintu makin melebar. Ketika Nielsen melihat jelas apa yang ada di dalam, mulutnya terbuka lebar karena syok.
Ia ingin lari, tapi sudah terlambat.
Tubuh Su Cheng melayang aneh di udara kamar.
Tak terhitung banyaknya sulur hijau tipis menjulur keluar dari lubang di jantungnya, menjalar ke seluruh penjuru ruangan.
Setiap sulur memancarkan cahaya hijau lembut, dan cahaya itu mengalir melawan arus di sepanjang batang, perlahan mengisi kembali lubang di jantung Su Cheng yang dihancurkan peluru.
Perlahan, jantung Su Cheng yang semula telah berhenti berdetak, kembali mengeluarkan suara denyut kehidupan.
Bila inangnya mati sebelum Benih Raja Rotan benar-benar matang, maka benih itu pun akan mati.
Namun karena sifat khusunya, masa pematangan Benih Raja Rotan sangatlah panjang.
Karena itu ia harus menyelamatkan Su Cheng.
Seiring luka di jantungnya menutup, kulitnya pun pulih seperti semula. Tubuhnya perlahan turun kembali ke atas ranjang, dan seluruh sulur hijau itu pun masuk lagi ke tubuhnya.
Su Cheng membuka mata.
Hanya dalam belasan menit, ia hidup kembali.
Lukanya hilang tanpa jejak.
Su Cheng tiba-tiba merasakan keputusasaan—bahkan mati pun ia tak bisa?
Tidak!
Ia segera bangkit dari ranjang, berlari ke kamar mandi dan mengambil pistol yang tergeletak di lantai.
Kali ini, ia menodongkan moncongnya ke kepalanya sendiri.
Tepat saat jari telunjuknya hendak menarik pelatuk, suara Benih Raja Rotan bergema di benaknya, “Aku sudah menyelamatkanmu sekali, tak sanggup lagi untuk kedua kalinya!”
Su Cheng mengabaikannya, tetap hendak menarik pelatuk. Kali ini suara Benih Raja Rotan terdengar cemas, “Jangan, jangan! Aku tak akan mengendalikanmu lagi. Kau tak ingin membunuh Lu Yucheng, aku pun takkan memaksamu!”
Jari Su Cheng sedikit mengendur, tapi belum melepas pelatuk.
Benih Raja Rotan terpaksa berkata, “Barusan saat kau pingsan, Nielsen itu tanpa sengaja masuk, dan aku tak sengaja membuatnya mati...”
“Apa?!”
“Tidak, tidak! Belum mati!” Benih Raja Rotan buru-buru mengoreksi, “Masih bisa diselamatkan...”
Su Cheng menemukan Nielsen yang berlumuran darah di balik pintu.
Tadi ia berdiri di depan pintu, lalu langsung diseret masuk oleh sulur dan tubuhnya penuh lubang-lubang berdarah. Meski jantungnya masih berdetak, tapi nyawanya tinggal sedikit.
“Dokter Nielsen...”
Mata Su Cheng memanas, bagaimana bisa menyelamatkan orang yang sudah seperti ini?
Ia sama sekali tak berniat menyakiti siapa pun, tapi Nielsen hampir mati karenanya.
Benih Raja Rotan berkata, “Letakkan tanganmu di tubuhnya.”
Dengan tangan gemetar, Su Cheng menurut. Ia meletakkan tangannya di atas tubuh Nielsen.
Cahaya hijau lembut mengalir terus-menerus dari kulitnya, masuk ke tubuh Nielsen.
Luka-luka di tubuh Nielsen menutup dengan kecepatan yang dapat dilihat mata telanjang.
Saat Su Cheng menarik tangannya, ia merasa pusing, dan bisa merasakan Benih Raja Rotan pun kelelahan, masuk ke semacam tidur setengah sadar.
Setelah memastikan Nielsen tak lagi dalam bahaya, Su Cheng meneteskan air mata dan menatap kamar Lu Yucheng untuk terakhir kalinya, lalu tanpa ragu meninggalkan vila itu—
Ia tak bisa lagi bertahan di sana, karena semua yang terjadi tak bisa ia jelaskan.
Su Cheng berlari sejauh mungkin sebelum akhirnya berhenti.
Melihat sekeliling, ia baru sadar berada di area yang sangat asing. Namun karena di kota dalam tak ada jam malam, meski sudah larut, suasananya masih ramai.
Jalanan dipenuhi kendaraan dan orang berlalu-lalang. Di depan sana, berdiri sebuah bangunan besar dan mewah.
Su Cheng melihat papan neon tinggi bertuliskan “Malam Larut”.
Ia menyeka air matanya. Di depan pintu “Malam Larut” sekelompok orang keluar, dan di antara mereka ia melihat Lu Yucheng.
Celana panjang hitam dipadu kemeja putih, rambut rapi sempurna.
Di lengannya bergelayut seorang wanita dengan tubuh dan wajah yang menawan.
Pasangan serasi, benar-benar cocok.