Bab 15: Kejadian Tak Terduga
Setelah Su Cheng selesai bicara, Lu Xiaoqin dan Fan Meier tampak sangat terkejut. Keduanya saling bertukar pandang.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Kok semua ini tidak sesuai dengan info yang kudapat?”
“Tapi, apa mobil komandan memang bisa disewakan?”
“Pasti ada sesuatu yang salah dengan cara kita mendengarkan!”
Su Cheng menggigit roti dengan kesal, pipinya sedikit memerah. Melihat itu, Lu Yucheng tampak puas, ia pun melangkah pergi dengan santai.
Lu Xiaoqin memandang ke arah Lu Yucheng yang menjauh, memastikan bahwa komandan sudah cukup jauh hingga tak bisa mendengar percakapan mereka. Ia lalu berjongkok dan menabrakkan bahunya ke Su Cheng, “Sebenarnya, ada apa ini?”
Begitu mengingat sepuluh ribu koin markas yang hilang dan lima ribu tunjangan misi yang dibawa kabur oleh Lu Yucheng, perasaan kesal dan sedih pun membuncah di dada Su Cheng.
Dengan nada gemas, ia berkata, “Demi membayar ongkos mobil komandan, kartu identitasku sampai limit!”
Mendengar itu, Lu Xiaoqin dan Fan Meier kembali bertukar pandang—
“Biaya diantar pulang oleh komandan ternyata sebesar itu?”
“Sampai kartu identitasnya limit?”
“Tiba-tiba aku jadi nggak iri lagi...”
Menyadari bahwa Su Cheng yang kartu identitasnya limit pasti sedang tidak mood, Lu Xiaoqin dan Fan Meier pun berinisiatif memberi ruang untuknya menenangkan diri. Mereka berdua pergi dengan alasan mencari tempat untuk buang air kecil.
Suasana di sekitar kembali hening. Su Cheng menarik napas dalam-dalam, ia pun merenung. Tadi emosi terlalu besar, ini tidak baik, ia harus mengendalikan diri.
Ia menurunkan sedikit resleting kerah jaketnya, lalu melihat Park Siwoo membawa ransel mendekat.
Ia mengeluarkan peralatan tenda, tampaknya berniat mendirikan tenda di samping Su Cheng dan kawan-kawan.
Mungkin menyadari tatapan Su Cheng, Park Siwoo pun melirik ke arahnya saat meletakkan barang.
Kini Park Siwoo sudah melepas masker yang ia kenakan di mobil, membuat Su Cheng tak bisa menahan diri untuk memperhatikannya. Sebab, Park Siwoo memang tampan—di masa sebelum bencana besar, wajahnya pasti cocok jadi anggota boyband idola.
Demi sopan santun, Su Cheng tersenyum dan mengangguk ke arahnya.
Entah kenapa, Park Siwoo malah tercenung sejenak lalu buru-buru menunduk.
Su Cheng meraba wajahnya, dalam hati bertanya-tanya, ada apa ini?
Namun Park Siwoo sudah meletakkan barang dan langsung berjalan mendekat. Gayanya itu membuat Su Cheng curiga ia akan mengajaknya berkelahi, hingga ia refleks hendak berdiri.
Namun bahunya langsung ditekan oleh Park Siwoo.
Dengan satu lutut bertumpu di tanah, Park Siwoo menatap Su Cheng lekat-lekat, lalu berkata sesuatu yang hampir membuat jiwa Su Cheng melayang.
Ia berkata, “Kakak, akhirnya kau mau bicara padaku lagi?”
“Kak... Kakak...?” Su Cheng benar-benar bingung.
Nie Shuang bermarga Nie, Park Siwoo bermarga Park. Bagaimana mungkin Nie Shuang adalah kakaknya? Atau mereka saudara tiri, atau orang tua mereka cerai...
Park Siwoo tidak tahu kalau otak Su Cheng sekarang sudah seperti mesin yang berputar kencang hingga mau meledak. Wajahnya tampak agak sedih, “Kak, aku janji tidak akan menempelimu lagi seperti dulu, juga tidak akan melarangmu berteman... Kak, ayo kita baikan lagi, ya?”
Su Cheng: “...!!!”
Pacar lama!?
“Aku... otakku rusak, aku... aku tidak ingat apa-apa lagi...” Dengan gugup Su Cheng akhirnya bisa mengucapkan satu kalimat.
“Kepalamu rusak?” Wajah Park Siwoo berubah sedih mendengar itu, “Aku tahu kita sudah putus, Kakak tidak perlu mencari-cari alasan seperti itu untuk menolakku.”
“Atau... waktu di mobil aku tidak membelamu, kau marah padaku? Tapi kan kau sudah memperingatkanku untuk tidak ikut campur... Ron memang menyebalkan, Kak, nanti aku bantu kau hadapi dia, ya?”
“Bukan... Aku sungguh...” Belum sempat Su Cheng menyelesaikan kalimatnya, Park Siwoo sudah memotong, “Apa Kakak sudah punya orang yang kau suka?”
“...Tidak masalah.” Park Siwoo seperti menenangkan diri, “Meski kau sudah suka orang lain, aku tetap akan berusaha!”
Dari belakang terdengar suara Lu Xiaoqin dan Fan Meier, Park Siwoo sama sekali tidak memberi Su Cheng kesempatan untuk menolak atau bereaksi. Ia langsung mendekat dan mengecup kening Su Cheng.
Setelah itu, ia melepaskan Su Cheng dan kembali mendirikan tenda.
Su Cheng hanya bisa melongo, otaknya terasa berdengung.
Ia memang sudah membayangkan kemungkinan bertemu orang yang mengenal Nie Shuang, tetapi ia tidak pernah menyangka akan berhadapan dengan mantan pacar Nie Shuang!
Mengingat Nie Shuang yang sudah tiada, hati Su Cheng diliputi duka. Ia tahu harus mencari kesempatan bicara terus terang dengan Park Siwoo. Mungkin ia akan berkata... otaknya benar-benar rusak dan sudah mati rasa pada cinta...
Tenda Su Cheng dan kawan-kawan berdiri di dalam kawah bekas ledakan. Lu Yucheng dan Dokter Nelson tidak memasang tenda, mereka berencana tidur di dalam kendaraan lapis baja.
Kedua orang itu kini bersandar di samping kendaraan sambil memegang makanan dan air.
Karena letaknya yang strategis, mereka bisa melihat jelas semua kejadian di tempat Su Cheng tadi.
Meski tak jelas apa yang dibicarakan, adegan saat Park Siwoo mencium Su Cheng di kening, jelas terlihat oleh mereka.
Nelson menyenggol Lu Yucheng dengan siku sambil tersenyum, “Hei, Komandan, bukankah di militer aliansi ada aturan larangan pacaran? Anak buahmu malah pacaran terang-terangan di depanmu, kamu nggak mau menegur?”
Lu Yucheng menatap ke arah Su Cheng, minum air dengan santai, seolah kejadian tadi tak berarti apa-apa baginya, ia menjawab dengan nada malas, “Aturan tetap aturan, mereka masih muda, asal tak ketahuan atasan, kan tak masalah.”
“Kamu bicara kok sampai menggeretakkan gigi?” Nelson menatap Lu Yucheng, merasa ada sesuatu yang aneh tapi tak tahu apa, lalu tersenyum, “Ini bukan lagi sembunyi-sembunyi, ini sudah terang-terangan di depan Komandan Lu, lho. Masih mau dibiarkan?”
Nelson memang suka melihat kehebohan. Tak disangka Lu Yucheng berkata, “Laboratorium juga melarang alat uji dibawa keluar, tapi kamu tetap saja bawa satu koper.”
Nelson hampir tersedak air minumnya, ia batuk dua kali, dalam hati mengeluh, kenapa obrolan malah berbalik menyerang dirinya?
“Ah—”
Tiba-tiba, sebuah jeritan melengking menembus langit.
“Lu Xiaoqin!”
Su Cheng lebih dulu mendengar jeritan, lalu teriakan panik Fan Meier. Ia langsung berbalik dan berdiri.
Lu Xiaoqin dan Fan Meier berada di tepi kawah, tak jauh dari Su Cheng.
Seekor sulur merambat melilit betis kiri Lu Xiaoqin, menariknya hingga terjatuh. Fan Meier juga tersungkur ke tanah, memegangi tangan Lu Xiaoqin erat-erat.
Namun sulur itu tetap menarik keduanya dengan cepat ke arah asalnya.
Su Cheng segera mencabut belati dari pinggang, berlari beberapa langkah dan meluncur di tanah. Saat berhenti, belatinya sudah membelah sulur itu.
Ia segera berputar, menyelipkan belati ke celah sulur di betis Lu Xiaoqin, lalu menarik dan melempar potongan sulur ke tanah dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya dengan sigap menghujamkan belati berkali-kali ke bagian ujung sulur yang seperti mulut makhluk itu.