Bab 037: Para Pewaris
Sebenarnya, tindakan Xue Ling sangatlah kekanak-kanakan. Apa yang dilakukannya bukannya membantu Li Dangxin, malah seolah-olah menempatkan Li Dangxin di atas bara api. Andai Chen Luo yang berada di posisi itu, ia pasti tidak akan memilih cara penyelesaian yang sebodoh itu. Begitulah kenyataannya, sejak Xue Ling pergi, tatapan para siswa kelas tiga dua yang mengarah pada Li Dangxin pun sudah menunjukkan segalanya.
Persainganmu dengan Chen Luo, itu urusan kalian berdua. Tetapi ketika kau memanggil siswa dari kelas lain untuk membuat keributan di kelas tiga dua, itu rasanya sudah seperti penghianatan.
“Aku tidak peduli kau percaya atau tidak, Xue Ling bukan aku yang memanggil,” ucap Li Dangxin setelah melangkah di hadapan Chen Luo, lalu langsung pergi begitu saja. Sifatnya memang meledak-ledak, ia malas menjelaskan banyak hal. Itulah dirinya; bisa mengucapkan kalimat itu saja sudah merupakan batas kesabarannya. Apalagi kalau harus membela Chen Luo, itu jelas mustahil. Tidak menyerang Chen Luo saja sudah merupakan kemurahan hati baginya. Kalau harus membelanya, mungkin ia sendiri akan menganggap dirinya bodoh.
Chen Luo tersenyum tipis. Tak heran Li Dangxin dulu gagal mendekati Xu Yingying. Kepribadian orang ini memang bermasalah. Jika ia yang berada di posisi itu, selama orang itu adalah yang ia sukai, ia tidak akan pernah memilih untuk melepaskan. Sekalipun akhirnya kalah, ia tidak akan berpura-pura legawa demi harga dirinya. Apalagi Li Dangxin sebenarnya belum kalah. Ia menyerah hanya karena urusan harga diri.
Itu adalah tindakan sangat kekanak-kanakan. Dalam menghadapi cinta sejati, harga diri bukanlah apa-apa.
Setelah Li Dangxin pergi, sahabat Xu Yingying membuka suara dengan nada kesal, “Sok keren sekali, apa dia pikir dirinya preman? Aku tidak percaya kalian bisa berbuat sesuka hati di sekolah ini.”
Siswa lain pun marah. Mereka menyarankan Chen Luo untuk melaporkan kejadian itu kepada guru. Menurut mereka, biarkan pihak sekolah yang menyelesaikan.
Memang, itu cara paling dewasa. Namun Chen Luo merasa sulit menerima. Ia yang sudah dewasa, dipaksa oleh anak-anak untuk mengadukan masalah kepada guru? Sungguh memalukan.
Menurut Chen Luo, anak laki-laki seusia itu memang suka bersaing, tapi biasanya tidak terlalu berani. Ia yakin kalau ia mendatangi mereka, belum tentu mereka berani melawannya. Tidak perlu sampai melibatkan guru.
Chen Luo hanya tersenyum dan berkata, “Terima kasih atas perhatian kalian, tapi aku punya cara sendiri untuk mengatasi masalah ini.”
Kalaupun akhirnya ia dipukuli, itu bukan masalah besar. Bagi Chen Luo yang di kehidupan sebelumnya tidak pernah suka bersaing, rasa ingin tahunya terhadap pengalaman ini jauh lebih besar daripada ketakutan akan sakit. Ia benar-benar ingin merasakan sendiri, seperti apa rasanya itu.
Saat itu He Peng juga masuk ke kelas. Chen Luo merapikan barang-barangnya dan berjalan menghampiri He Peng. Belum jauh melangkah, Xu Yingying mengejar, “Apa yang akan kau lakukan untuk menyelesaikannya?”
Chen Luo tertegun. Ia tak menyangka Xu Yingying akan mencarinya. Melihat ekspresi terkejut He Peng di sampingnya, Chen Luo tahu, sekarang urusannya dengan Xu Yingying pasti sudah melekat dalam benak He Peng. Ia hanya bisa pasrah, “Hanya urusan anak-anak, tak ada yang perlu ditakuti.”
“Chen Luo, apa kau tidak bisa berhenti bersikap sombong seperti itu?” Xu Yingying tiba-tiba meledak, langsung menegurnya.
Sebenarnya, akhir-akhir ini Xu Yingying juga memperhatikan Chen Luo. Kalau ia bilang tidak punya perasaan pada Chen Luo, itu jelas bohong. Perubahan Chen Luo yang begitu pesat dan mencolok, ditambah pengakuan tidak langsung Chen Luo sebelumnya, membuat Xu Yingying yang memang sedang dalam masa remaja tidak bisa berhenti memikirkannya.
Teman-temannya juga sering menghubung-hubungkan dirinya dengan Chen Luo. Walau di permukaan Xu Yingying selalu berkata tidak ada apa-apa, dalam hatinya ia sempat bertanya-tanya: kalau saat itu ia tidak menolak Chen Luo, melainkan menerima, apa yang akan terjadi?
Tapi ia tidak suka melihat Chen Luo yang selalu terlihat tenang. Setelah ditolak, Chen Luo juga seolah-olah tidak ada reaksi. Waktu ia mengajak makan bersama, reaksi Chen Luo juga biasa saja.
Seolah semuanya sudah ada dalam perkiraan Chen Luo. Hal ini membuat Xu Yingying merasa sangat tidak nyaman. Ia sendiri tidak tahu pasti apa perasaannya, kadang bahkan seolah-olah ia merasa seperti orang yang kembali mengejar cinta lama.
Bukankah kau menyukaiku? Setelah gagal, kau langsung menyerah? Tak bisakah kau lebih berani sedikit? Mengapa sikapmu begitu dingin? Apa kau ingin aku yang merendahkan diri meminta padamu?
Chen Luo tentu saja tidak memahami kerumitan perasaan gadis remaja. Dalam hal cinta, ia pun masih amatir, jadi ia benar-benar tak mengerti kenapa Xu Yingying tiba-tiba meledak.
Xu Yingying menarik napas panjang, sadar dirinya sudah kehilangan kendali. Ia memandang Chen Luo,