Bab 045: Serangan – Bagian Pertama
Di bawah cahaya matahari senja, di taman bunga di belakang gedung sekolah, seorang gadis dengan wajah merah padam memberanikan diri mengungkapkan perasaannya, sementara seorang pemuda tampak canggung dan kebingungan. Mereka berdua membentuk pemandangan yang indah, sehingga siapa pun akan merasa enggan untuk mengusiknya.
Bisa dibilang ini adalah kejadian paling mengejutkan yang dialami oleh Chen Luo sejak ia terlahir kembali. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa tiba-tiba saja ia menerima pernyataan cinta tanpa sebab yang jelas? Yang lebih parah lagi, siapa sebenarnya gadis itu? Meski wajahnya terasa cukup familiar, Chen Luo sama sekali tidak tahu siapa nama gadis di hadapannya ini.
Setelah mengungkapkan perasaannya, Du Xiaoyuan merasa seluruh tenaganya terkuras habis. Dengan pipi yang semakin memerah, ia berlari pergi, bahkan tanpa memberi kesempatan bagi Chen Luo untuk menjawab sepatah kata pun.
Akibatnya, Chen Luo hanya bisa terpaku di tempat, menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan bingung. Sungguh kejadian yang membingungkan...
Apakah pesonanya memang sebesar itu? Chen Luo mulai sedikit besar kepala.
Pernyataan cinta ini menimbulkan kehebohan di seluruh angkatan. Tidak ada yang menyangka bahwa situasi akan berkembang ke arah seperti ini.
Sebelumnya, ketika Chen Luo dengan berani membela Xu Yingying, semua orang mengira ia akan segera bersama gadis itu. Namun, sebelum kabar tentang hubungan Chen Luo dan Xu Yingying menyebar, justru Du Xiaoyuan dari kelas satu tingkat tiga lebih dulu menyatakan cinta pada Chen Luo.
Apa ini? Apakah ini yang disebut menikung di tikungan terakhir? Apalagi kabarnya, Xu Yingying dan Du Xiaoyuan adalah teman satu SD, ternyata hubungan pertemanan pun bisa diabaikan demi cinta?
Para siswa laki-laki semakin dibuat gigit jari. Kenapa semua keberuntungan seperti ini selalu jatuh ke tangan Chen Luo? Perlu diketahui, Du Xiaoyuan adalah sosok yang sangat terkenal di sekolah, seorang dewi yang mempunyai pesona lembut dan anggun yang tak dapat disaingi gadis lain.
Dulu, ada polling iseng, jika bicara soal dewi, Lin Baizhi sudah pasti menempati posisi pertama. Namun bila bicara tentang gadis yang paling diidamkan untuk dijadikan pacar atau istri, Du Xiaoyuan-lah juaranya. Ini cukup membuktikan betapa besar pengaruh dan daya tarik Du Xiaoyuan.
Namun, justru gadis seperti Du Xiaoyuan kini malah menyatakan cinta pada Chen Luo? Apa-apaan ini? Dunia rasanya sudah jungkir balik. Sekarang, apakah benar-benar zamannya angsa turun sendiri memberikan dagingnya pada katak jelek?
Apakah Chen Luo pantas disebut katak jelek, itu masih bisa diperdebatkan. Setidaknya di SMP Anyang saat ini, Chen Luo memang termasuk yang paling menonjol di antara para siswa laki-laki. Tapi Du Xiaoyuan jelas layaknya seekor angsa, bahkan angsa di antara para angsa.
Dalam waktu singkat, berita tentang Chen Luo dan Du Xiaoyuan menyebar ke seluruh sekolah. Nama Xu Yingying yang sebelumnya sangat hangat diperbincangkan, tiba-tiba saja menghilang dari peredaran.
Pada hari Kamis siang, rumor ini benar-benar mencapai puncaknya. Saat itu, Chen Luo sedang makan siang di kantin bersama He Peng. Sambil makan, He Peng berkata, “Kau ini benar-benar sedang dilimpahi keberuntungan asmara. Sebelumnya soal Xu Yingying, itu masih wajar. Tapi sekarang ada Du Xiaoyuan yang datang sendiri padamu, kau tidak terpikir untuk mempertimbangkannya?”
Dalam dua hari ini, Chen Luo juga sudah tahu bahwa gadis yang menyatakan perasaannya hari itu adalah Du Xiaoyuan. Tak heran wajahnya terasa begitu familiar, ternyata ia memang cukup terkenal. Di angkatan Chen Luo di SMP Anyang, sebenarnya tidak banyak yang benar-benar dikenal, tapi Du Xiaoyuan jelas termasuk salah satunya.
Setelah lulus nanti, Du Xiaoyuan di masa depan mulai menekuni dunia ilustrasi bertema budaya Tiongkok. Karyanya bahkan cukup berpengaruh di dunia internasional; salah satu lukisan bertema Sun Wukong mengacaukan langit pernah memenangkan penghargaan seni rupa tingkat dunia yang cukup bergengsi.
Saat reuni sekolah, ada yang sempat membicarakan tentang Du Xiaoyuan, hanya saja waktu itu sudah lama berlalu, dan Chen Luo sudah melupakan seperti apa rupa gadis cantik yang selalu membawa papan gambar itu. Kini, ingatan itu kembali muncul, membuat Chen Luo merasakan betapa waktu mengubah segalanya.
“Sudahlah, aku ini orang biasa, rasanya tak pantas untuk gadis seni sepertinya,” ujar Chen Luo, sedikit merendah.
“Kau bukan orang biasa. Esai yang kau tulis, 'Masa Lalu yang Tak Bisa Kembali', masih jadi buah bibir di kalangan siswi kelas kita. Lagipula, dalam ujian simulasi terakhir, karanganmu yang berjudul 'Orang-Orang yang Berdiri Memberi Tepuk Tangan' juga dapat nilai sempurna, bahkan mengungguli Ye Feiyu. Kudengar Ye Feiyu sampai hampir stres karenamu, setiap hari hanya menulis dan menulis, berusaha mengalahkanmu,” timpal He Peng, seolah ingin menambah keramaian.
“Sudahlah, daripada membahas soal nilai, lebih baik kita bicarakan tentang fungsi trigonometri,” balas Chen Luo dengan nada menggoda.
Benar saja, He Peng langsung ciut, “Jangan, jangan, ada pepatah: makan jangan sambil bicara, tidur jangan sambil bercakap. Waktu makan sebaiknya fokus makan saja, jangan bahas hal yang aneh-aneh.”
“Kalau tahu, kenapa masih saja cerewet,” Chen Luo memutar bola matanya, kesal.
Saat itu, Chen Luo menyadari He Peng yang duduk di depannya tiba-tiba melongo, menatap ke arahnya—tepatnya, ke arah belakang Chen Luo.
Chen Luo pun menoleh, dan melihat Du Xiaoyuan berdiri di sana dengan dua botol minuman dingin di tangannya.