Bab 061: Dipecat
Beberapa hari berikutnya, Chen Luo benar-benar merasa lebih santai. Meski ia masih pergi ke sekolah, alasannya hanya karena dokumen resmi dari SMA Eksperimen belum turun. Jika sudah turun, Chen Luo pasti akan malas untuk datang lagi, sebab memang sudah tidak ada keperluannya.
Di sisi lain, para pembaca Majalah Cerita Shudu mendapati edisi kali ini agak berbeda dari biasanya. Perbedaan itu tampak jelas pada sampul majalah. Sampul majalah Cerita Shudu yang biasa mereka kenal biasanya menampilkan lukisan karakter bernuansa kuno dengan goresan arang.
Namun, sampul edisi kali ini menampilkan ilustrasi kobaran api sebagai latar belakang. Di tengah api yang digambar dengan tangan itu, terdapat angka hitam, 5. Tepat di depan angka itu, tertulis sebuah kalimat yang cukup membuat adrenalin pembaca melonjak.
“Kita terlahir merdeka, siapa yang berani berdiri di atas kita!”
Apa maksudnya ini? Tak seorang pun mengerti apa yang hendak disampaikan—baik kalimat itu, angka tersebut, maupun gambar utama berlatar api. Semuanya menimbulkan perasaan, meski tidak paham maksudnya, namun tampak sangat istimewa dan mengundang penasaran.
Chen Luo, atas saran Liu Banxia, juga membeli edisi kali ini. Setelah menatap sampulnya, Chen Luo mengatupkan bibirnya. Ini jelas sedang membangun rasa penasaran. Menggunakan angka 5 sebagai permulaan, lalu perlahan menghitung mundur 4, 3, 2, 1. Mungkin para pembaca yang belum tahu apa yang terjadi akan segera mengerti di edisi selanjutnya—ini adalah hitung mundur dari Majalah Cerita Shudu.
Tak bisa dipungkiri, sisi promosi dari majalah ini memang digarap dengan sangat serius. Gaya promosi yang unik dan baru seperti ini jauh lebih baik daripada sekadar mengumumkan “Kisah Wukong” akan segera terbit secara berseri. Pertama-tama, cara ini sudah cukup untuk membangkitkan rasa ingin tahu pembaca. Mereka pasti penasaran, karya macam apa yang membuat pihak majalah rela berusaha sedemikian rupa.
Chen Luo juga yakin, “Kisah Wukong” tidak akan mengecewakan siapa pun. Maka, setelah melihat sampul, ia mengangguk dan berbicara pada Liu Banxia di telepon, “Sudah aku lihat, bagus juga.”
“Itu idemu aku pakai, bagaimana, mau traktir aku makan nggak?” sahut Liu Banxia. Entah kenapa, ia tiba-tiba teringat pada Chen Luo yang pernah memasak di rumahnya. Jujur saja, ia jadi ingin kembali mencicipi masakan Chen Luo.
“Laku atau tidaknya sudah bukan urusanku. Royalti juga sudah aku terima. Sebaliknya, kalau laku keras, kamulah yang harus traktir aku makan, kan?” Chen Luo menanggapi, seolah-olah menuangkan air dingin ke kepala Liu Banxia.
Liu Banxia pun merasa sedikit kesal, ia memutar bola matanya, “Orang lain mau traktir aku makan saja aku tak peduli, ini aku kasih kesempatan, malah kamu tolak.”
“Orang lain ya orang lain, aku ya aku. Aku memang apa adanya,” jawab Chen Luo santai, sambil berbalik badan di atas ranjang. “Malam-malam kamu suruh aku beli majalah ke bawah, jangan-jangan cuma buat promosi ini?”
“Ya jelas bukan. Kudengar kamu diterima khusus di SMA Eksperimen?” tanya Liu Banxia penasaran. “Nilaimu ternyata sebagus itu? Wah, bocah, apalagi yang tak bisa kamu lakukan?”
“Banyak yang belum bisa,” Chen Luo mengatup mulut, lalu lanjut berbicara, “Tapi kurasa kamu masih punya maksud lain.”
“Hehe,” Liu Banxia terkekeh malu, “Kalau kamu sudah diterima khusus, berarti nanti nggak perlu sekolah lagi dong?”
“Hampir seperti itu,” Chen Luo mengangguk.
“Baguslah. Akhir pekan ini kamu ada waktu? Aku mau ke Kota Yu. Kalau kamu bisa, bisakah kamu bantu nyetir mobil?”
“Jadi maksudmu aku sudah terbiasa dijadikan sopir, ya?” Chen Luo menanggapi dengan nada setengah bercanda. “Aku ini masih di bawah umur, lho. Kalau ketahuan bawa mobil tanpa SIM, bisa-bisa masuk bui beberapa hari.”
“Di dalam kota saja polisi jarang, apalagi di jalan tol. Jadi, kamu bisa atau tidak?” Liu Banxia langsung memberi ultimatum.
Barulah Chen Luo sadar, ini tahun 1997. Saat itu, di Kota Mi, yang punya mobil masih bisa dihitung jari, kebanyakan orang kaya atau pejabat. Polisi lalu lintas pun belum terlalu ketat. Chen Luo sebenarnya memang punya waktu luang, dan berteman lebih dekat dengan Liu Banxia juga baik untuk memperluas relasi. Lagi pula, pergi berdua dengan gadis cantik jelas bukan kerugian. Tak ada alasan baginya untuk menolak, jadi ia mengangguk, “Seharusnya tidak ada kegiatan, nanti kita hubungi lewat telepon saja.”
Mendengar jawaban pasti dari Chen Luo, entah kenapa, Liu Banxia merasa hatinya jauh lebih lega. Ia pun jadi tersenyum senang, “Baiklah, nanti aku telepon.”
Setelah menutup telepon dengan Liu Banxia, Chen Luo refleks menoleh ke laci meja belajar. Di situ masih ada lima belas juta uang yang diberikan Liu Banxia padanya. Sudah cukup lama ia pegang, namun belum sempat digunakan.
Chen Luo sadar, mulai saat ini, nilai uang semakin menurun. Ia harus segera menggunakan uang itu sebelum nilainya makin kecil.
Saat Chen Luo sedang memikirkan hal itu, pintu rumah berbunyi. Ternyata He Peng datang. Ibu Chen yang membukakan pintu. Melihat He Peng datang dengan wajah tergesa-gesa, ia pun bertanya, “Peng, kenapa kamu datang terburu-buru begini, ayo masuk dulu, istirahat sebentar.”