Bab 091: Takut Kepadamu, Apa Aku Tak Berani?
Kali ini, kamp musim panas di Sekolah Menengah Atas Terkemuka Peking diikuti oleh sekitar seratus siswa dari seluruh penjuru negeri. Jumlah sebanyak itu tentu tak mungkin cukup hanya dalam satu kelas, sehingga akhirnya dibagi menjadi dua kelas: kelas Timur dan kelas Barat.
Ada nuansa persaingan berdasarkan wilayah yang terasa di dalamnya. Chen Luo, yang berasal dari tanah Shu, secara alami ditempatkan di kelas Barat, sementara teman sekamarnya, Gu Qinghan, Chen Tailun, dan An Ji, semuanya masuk kelas Timur.
Hal ini membuat An Ji sedikit kecewa. Sebenarnya, ia cukup penasaran dengan Chen Luo, ingin tahu sejauh mana kemampuan anak itu. Namun, pembagian kelas sudah ditetapkan, ia pun tak bisa berbuat apa-apa selain menurut dan bergabung ke kelas Timur.
Sistem pendidikan nasional memang menyesuaikan kurikulum berdasarkan kondisi tiap provinsi. Daerah yang lebih maju mendapat materi pelajaran dengan tingkat kesulitan lebih tinggi, sedangkan provinsi yang tertinggal mendapatkan materi yang lebih sederhana.
Kebanyakan provinsi maju berada di wilayah Timur, sehingga setelah pembagian kelas, seolah-olah semua siswa “kurang mampu” dikumpulkan di Barat, sementara para “elit” ditempatkan di Timur. Ini adalah sifat dasar manusia yang sulit diubah, seperti halnya dulu Hitler bisa menjalankan faham fasisme dengan mulus; semua orang menganggap dirinya lebih unggul, dan bila diberi kesempatan, tak pelak lagi mereka akan bersikap angkuh.
Tatapan siswa Timur terhadap siswa Barat pun tak lepas dari sentuhan meremehkan, membuat siswa Barat diam-diam membulatkan tekad untuk membuktikan diri. Sementara siswa Timur, demi mempertahankan keunggulan, tentu akan berusaha lebih keras. Barangkali, inilah salah satu tujuan pihak sekolah membagi kelas seperti ini.
Namun, semua itu tak memengaruhi Chen Luo. Penampilannya di upacara pembukaan yang menakjubkan membuat semua siswa memperhatikannya. Dalam waktu satu pagi, tak hanya siswa Barat yang datang mencari tahu tentang Chen Luo, bahkan beberapa siswa dari Timur pun tak tahan untuk ikut menelusuri.
Akan tetapi, setelah mengetahui latar belakang Chen Luo yang hanyalah anak keluarga buruh miskin, beberapa siswi pun mengurungkan niat kecil yang sempat tumbuh di hati. Wajahnya memang tampan, bakatnya juga menonjol, namun kemiskinan adalah dosa asal yang tak bisa dihapus.
Bersamaan dengan itu, pesona Chen Luo pun memudar. Seperti kata Su Bai, dia hanya lebih pandai bernyanyi, paling banter hanyalah seorang penghibur. Di hadapan mereka, sungguh tak ada yang bisa dibanggakan.
Chen Luo tentu merasakan perubahan sikap orang-orang di sekitarnya, tetapi ia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Menurutnya, tak ada gunanya meladeni pertikaian yang sia-sia semacam itu.
Teman sebangkunya kali ini adalah seorang bernama Peng Guang, siswa dari Qinghai, yang sangat tertarik pada Chen Luo. Sepanjang pagi, Peng Guang selalu menanyai kabarnya, membuat mereka jadi cukup akrab. Meski belum bisa disebut sahabat, setidaknya mereka cukup dekat untuk saling berbicara.
Terlihat jelas, Peng Guang adalah tipe yang sangat terbuka. Ketika satu lagi orang pergi dengan kecewa, ia pun membela Chen Luo, “Apa sih hebatnya mereka, cuma karena keluarganya punya uang? Menurutku, kamu jauh lebih hebat.”
“Aku sendiri tidak merasa hebat,” Chen Luo bersandar di meja, menatap Lin Baizhi yang duduk di sebelah kiri depan dan tengah serius mengerjakan soal, lalu menambahkan dengan nada setengah bercanda, “Lagi pula, punya uang memang sesuatu yang luar biasa. Walau bukan mereka sendiri yang menghasilkan, itu adalah hasil perjuangan generasi sebelumnya. Mereka memang punya hak untuk bangga.”
“Kamu malah membela mereka, benar-benar bikin kesal,” Peng Guang memutar bola matanya. Setelah setengah hari berinteraksi, ia mulai mengerti karakter Chen Luo—seorang yang sangat tenang, seolah tak ada sesuatu pun di dunia ini yang layak ia pedulikan.
Ini benar-benar berbeda dengan sosok remaja pemberani yang semalam memainkan piano di atas panggung utama. Kalau bukan sudah yakin itu orang yang sama, Peng Guang pasti mengira dirinya keliru mengenali.
Peng Guang, yang berpikiran tajam, juga menyadari satu hal lain. Meski Chen Luo selalu bersikap rendah hati dan sama sekali tidak meremehkan orang lain, namun sorot matanya seakan selalu menyimpan rasa angkuh.
Bagaimana menggambarkannya? Seolah dalam alam bawah sadarnya, ia menganggap orang lain bodoh, walau tak pernah memperlihatkannya secara terang-terangan. Itu adalah keangkuhan yang terpendam dalam darah, mirip seperti bangsawan dengan warisan yang sangat dalam.
Secara naluriah, Peng Guang merasa Chen Luo bukanlah orang biasa. Inilah alasan ia menghabiskan pagi itu berbincang dengan Chen Luo. Di Barat sendiri sudah tertinggal dibanding Timur, ia tak mungkin bisa bersaing dengan para jenius dari Timur. Tapi tak ada salahnya mencari sosok kuat untuk dijadikan sandaran.
Ia punya firasat, Chen Luo akan menjadi bintang pada kamp musim panas kali ini. Jika ia bisa menjalin hubungan baik dengannya sejak awal, posisinya pun akan ikut terangkat, sekolah pun mungkin akan memperhatikannya, dan penilaian sepulang nanti bisa jadi lebih bagus.
Begitulah pikiran Peng Guang.