Seorang anak desa biasa, yang memegang Menara Liuli Tiga Harta, mengalami nasib tak terduga ketika diculik oleh seorang tokoh sesat untuk dijadikan pelayan percobaan obat. Namun, malapetaka itu beruba
"Anak-anak! Telanlah pil ini, lalu duduk di tempat masing-masing. Jika aku memanggil nomor kalian, segera maju ke depan…"
Di sebuah tanah lapang di luar Kota Naga, seorang tetua berjubah yang tampak seperti pertapa, berdiri dengan satu tangan di belakang punggungnya, memandang lebih dari tiga puluh anak-anak di hadapannya dengan sorot mata penuh harapan.
Anak-anak itu, ada yang berusia delapan atau sembilan tahun, dan yang tertua sekitar tiga belas atau empat belas tahun. Masing-masing memegang sebuah pil dengan lima warna: emas, hijau, biru, merah, dan coklat. Wajah mereka semua terlihat bersemangat.
Di sekitar tetua dan anak-anak, orang-orang dari Kota Naga dan desa-desa sekitarnya berkerumun, kebanyakan adalah orang tua dari anak-anak tersebut. Mereka berharap anak mereka terpilih, bukan hanya demi harapan menjadi insan spiritual, tapi yang terpenting adalah mendapatkan uang.
Benar sekali, Kota Naga terletak di ujung timur laut Negeri Agung di wilayah terpencil Liangzhou, di mana penduduknya sering kekurangan makanan. Meskipun mereka tidak benar-benar memahami arti menjadi insan spiritual, mereka tahu bahwa jika anak mereka terpilih, mereka akan langsung menerima seribu tael perak, dan bisa meninggalkan desa yang miskin untuk hidup di kota atau tempat yang lebih baik.
Inilah yang diinginkan para orang tua. Sedangkan apa yang dipikirkan anak-anak itu sendiri, tak ada yang tahu pasti.
Di tengah tatapan penuh harapan dan keributan orang banyak, anak-anak pun satu per satu menelan pil yang mereka pegang, lalu duduk patuh di tan