Bab 114 Kejutan Listrik
Su Cheng bergerak cepat. Sulur-sulur tanaman merambat menyusup ke dalam alat pengisap lalu mencabik-cabik daging di sana. Dalam beberapa menit saja, dua pertiga tentakel gurita itu telah terluka. Lukanya memang tidak mematikan, tetapi cukup membuat gurita itu murka.
Ia ingin membalas dendam.
Namun Su Cheng benar-benar terlalu aneh. Gurita itu mengerahkan seluruh tentakelnya hingga menutupi seisi lembaga penelitian, tetapi tetap tidak berhasil menemukan bayangan Su Cheng.
Karena itu, ia menangkap semua rekan Su Cheng—tujuannya hanya untuk memancing perempuan itu datang.
Sementara itu, Su Cheng sendiri entah bersembunyi di mana. Sulur-sulurnya telah menemukan Nelson.
Sulur itu ramping dan tampak rapuh, tanpa tulang, bergerak tanpa suara.
Bahkan ketika merayap naik di sepanjang tentakel, tentakel itu sama sekali tidak menyadarinya.
Pada akhirnya, sulur tersebut melilit tubuh Nelson lalu diam.
Beberapa detik kemudian, sulur itu mulai bercabang. Semua cabangnya menjalar dan tumbuh, semakin banyak sulur mulai membelit tubuh Nelson.
Hingga akhirnya, sulur-sulur itu membentuk siluet seorang perempuan.
Edgar mendongakkan kepala, bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.
Siluet menyerupai perempuan itu bersembunyi di belakang Nelson. Beberapa saat kemudian, wajah Su Cheng muncul dari balik tubuh Nelson. Ia mengangkat jari ke bibir, memberi isyarat agar beberapa orang di bawah tetap diam.
Mata Lu Yucheng berbinar. Ia mengangguk kepada Su Cheng.
Sementara itu, Edgar menutup mulutnya dengan cara yang berlebihan. Dalam hati, ia berulang kali memaki, “Anjir!”
Gou Hongyu dan Pang Feng juga melihat Su Cheng.
Kemunculan Su Cheng tak diragukan lagi berarti harapan telah tiba.
Su Cheng bergelantungan di tubuh Nelson. Ia seolah tidak memiliki berat sama sekali, bahkan tentakel yang melilit Nelson pun tidak menyadari keberadaannya.
Su Cheng mulai mengobati luka Nelson.
Cahaya hijau berpendar menyelimuti Nelson dari kepala hingga kaki.
Di luar jendela, hujan deras telah mengguyur. Kilat dan suara guntur bersahutan dengan rapat—yang satu menyilaukan, yang lain menggelegar memekakkan telinga.
Namun, ruangan itu justru sunyi seolah tidak berpenghuni.
Pada saat itulah Nelson tersadar.
Dan hal pertama yang dilakukannya setelah sadar adalah menggoyangkan tangannya dengan gaya tarian aneh.
Ketika orang-orang di lantai melihat gerakannya, mereka semua langsung tercengang. Namun, Lu Yucheng segera memahami maksud Nelson—
Orang lain tidak tahu bahwa Nelson memiliki kemampuan khusus, tetapi Lu Yucheng tahu.
Luka Nelson pulih dengan cepat, sementara gerakan tangannya semakin lama semakin cepat.
Sialan, gurita itu memilihnya sebagai sasaran empuk. Ia akan membuat makhluk terkutuk itu merasakan bagaimana rasanya disambar petir!
Itulah gagasan berani yang muncul di benaknya sebelum ia jatuh pingsan.
Seiring gerakan Nelson, semua orang di tempat itu tiba-tiba merasakan bulu kuduk mereka berdiri.
Gou Hongyu tanpa sadar meraba kepalanya, tetapi yang disentuhnya adalah helm, bukan rambut.
Tak lama kemudian, ia menyadari bahwa rambut Su Cheng, yang bergelantungan di belakang Nelson, ternyata seluruhnya berdiri tegak ke atas.
Edgar yang berada di sampingnya tiba-tiba berseru, “Sial!”
Dalam suasana tegang seperti itu, semua orang terkejut oleh seruannya yang mendadak.
Mereka pun mengikuti arah pandangan Edgar. Saat itulah mereka melihat kepala gurita raksasa menggantung terbalik. Sepasang matanya yang menyerupai lubang hitam sedang menatap mereka tanpa berkedip.
Edgar tak kuasa memaki, “Dasar makhluk terkutuk! Masih sempat mengintip pula!”
Sambil berkata demikian, ia mengangkat senapan dan hendak menembak kepala gurita itu, tetapi Lu Yucheng segera menahan tangannya.
Pada saat yang sama, gerakan tangan Nelson terhenti.
Terdengar rentetan suara letupan tajam yang melesat turun dari langit.
Sesaat kemudian, kilat yang menyilaukan meledak tepat di atas kepala gurita raksasa itu.
Mata hitam besar gurita tersebut mendadak terbelalak, lalu berubah menjadi tatapan kosong seperti mata ikan mati.
Tentakel yang melilit Nelson pun langsung mengendur. Namun, Nelson dan Su Cheng masih terlilit sulur-sulur tanaman, sehingga keduanya mendarat dengan selamat di lantai.
Tubuh gurita raksasa mulai meluncur turun ke lantai bawah, sementara tentakel-tentakelnya nyaris berhenti bergerak.
Hal pertama yang dilakukan Nelson setelah berdiri tegak adalah kembali menggoyangkan tangannya.
Ia berkata, “Sekali saja masih jauh dari cukup untuk membunuhnya. Kulitnya terlalu tebal!”
Sampai di titik ini, semua orang akhirnya mengetahui bahwa Nelson adalah seorang pemilik kemampuan khusus.
Dan kemampuannya memang sangat cocok untuk menghadapi gurita raksasa tersebut!
Edgar tak kuasa menahan tawa. “Bagus, bagus! Kawan baik, kalau punya kemampuan sehebat ini, kenapa tidak bilang dari tadi?”
Nelson tidak sempat menjawab pertanyaan Edgar. Namun, ia juga memahami bahwa tanpa bantuan langit yang menghadirkan kilat dan guntur, kemampuan khususnya tidak akan banyak berguna di tempat ini.
Sambil terus menggoyangkan tangannya, Nelson mendekati gurita raksasa itu. Seiring gerakannya, kilat demi kilat jatuh dari langit secara beruntun.
Ditambah tubuh gurita itu yang sangat besar dan terbuka di luar bangunan, seluruh kilat menyambar kepalanya, persis seperti yang diharapkan semua orang.
Tubuh gurita raksasa itu semakin melorot. Tampaknya, ia telah kehilangan kendali sepenuhnya atas tubuhnya. Tatapan matanya yang semula kosong kini menyipit.
Melihat keadaan itu, Nelson akhirnya menurunkan tangannya yang hampir terasa putus karena terus digerakkan. Ia mengembuskan napas lalu berkata, “Aku tidak memproduksi listrik, aku cuma pengangkut listrik~”
Saat Nelson memancing kilat, Su Cheng telah menyembuhkan kaki Pang Feng yang terluka.
Ia memeriksa kondisi gurita raksasa itu lalu berkata, “Sekarang ia hanya pingsan karena tersambar petir. Akan sulit bagi kita untuk membunuhnya sepenuhnya. Selagi ia masih tidak sadarkan diri, sebaiknya kita mundur dulu.”
Itulah yang juga hendak dikatakan Lu Yucheng.
Hujan kini telah mereda. Awan di langit pun mulai menunjukkan tanda-tanda akan menipis, sementara kilat dan suara guntur tidak lagi sesering tadi. Kalau cuaca kembali cerah dan gurita itu sadar, mereka akan berada dalam masalah besar.
“Ayo pergi,” kata Lu Yucheng.
Edgar menggaruk belakang kepalanya. “Bagaimana dengan benda itu? Tidak jadi dicari?”
“Tidak,” jawab Lu Yucheng. Dibandingkan dengan Rencana CL, nyawa manusia jauh lebih penting.
Karena Lu Yucheng telah mengambil keputusan, yang lain pun tidak mengajukan keberatan.
Mereka berjalan menuju pintu.
Namun, tepat pada saat itu, Su Cheng mendadak berhenti. Wajahnya berubah tegang.
“Dengarkan—suara apa itu?”
Edgar berdiri tepat di sampingnya. Ia bertanya dengan bingung, “Suara apa?” Ia sama sekali tidak mendengar apa pun.
Namun, wajah Lu Yucheng berubah.
Ia bertukar pandang dengan Su Cheng, lalu keduanya berkata serempak, “Serangga hitam!”
Hampir bersamaan dengan selesainya ucapan mereka, Edgar mendengar suara yang dimaksud Su Cheng—dengungan.
Dengungan serangga hitam yang beterbangan!
Benar. Hujan deras telah berhenti, sementara gurita raksasa itu telah kehilangan kemampuan untuk bergerak.
Serangga-serangga hitam yang sebelumnya bersembunyi kini semuanya keluar!
Lu Yucheng segera meraih pergelangan tangan Su Cheng.
“Mana pakaianmu?!”
Pakaian Su Cheng telah entah terlempar ke mana sejak ia memanggil sulur-sulur tanaman. Kalaupun pakaiannya masih ada, batas waktu penggunaannya sudah lama berakhir.
Sambil berbicara, Lu Yucheng hendak melepas pakaiannya sendiri untuk diberikan kepada Su Cheng, tetapi Su Cheng mencegahnya.
“Aku bisa mengatasinya. Kalian cepat pergi!”
Lu Yucheng tahu bahwa Su Cheng sedang berbohong. Sekalipun tubuhnya dilindungi sulur-sulur tanaman, ia tetap bukan terbuat dari baja.
Ia pasti akan dimakan serangga hitam hingga tidak menyisakan tulang-belulang.
Bibir Lu Yucheng baru saja bergerak dan ia belum sempat berkata apa-apa ketika sulur-sulur Su Cheng telah melilit pinggangnya lalu melemparkannya ke luar pintu.
Serangga-serangga hitam datang membanjiri tempat itu dalam sekejap, menutupi pandangan Lu Yucheng.