Bab 79: Undang-Undang Anti-Penyimpangan
Dalam hati, Lu Yucheng berpikir, setelah membicarakan hal-hal yang tidak penting begitu lama, akhirnya inti permasalahan diungkapkan juga.
Ia memandang Adair dengan senyum samar, "Ketua Pengadilan, Anda mendengar omong kosong dari siapa? Kalau aku benar-benar bisa meramal masa depan, sudah sejak awal aku membawa senjata laser. Masak aku biarkan manusia api itu beraksi sesuka hatinya selama itu?"
Adair menatap Lu Yucheng dengan serius, seolah sedang mengamati apakah ia berbohong. "Dari rekaman CCTV terlihat, kau memang selalu bergerak selangkah lebih cepat dari 'manusia api'."
Lu Yucheng menjawab dengan santai, "Hanya kebetulan saja. Aku memang pandai membaca hati orang. Dari caranya, jelas dia sudah nekat, ingin mengajak orang lain mati bersamanya."
Adair mengangguk. Lu Yucheng melirik arlojinya. "Rapat sebentar lagi dimulai."
"Ya." Mereka berdua berdiri bersamaan. Ketika Adair hendak keluar, ia melihat perban yang mengintip dari kerah kemeja Lu Yucheng, lalu bertanya, "Kau terluka?"
"Iya," jawab Lu Yucheng, menampilkan ekspresi kesakitan. "Tadi kena pecahan kaca, tapi tidak parah, sudah dibebat. Jangan khawatir, Ketua Pengadilan."
"Baiklah."
Setelah berkata demikian, Adair lebih dulu melangkah keluar dari kantor. Lu Yucheng tertinggal beberapa langkah di belakang. Saat itu, ia menahan ekspresi pura-puranya. Ujian dari Adair ini, bisa dibilang baru saja lolos.
Untung ia sudah bersiap-siap sebelumnya, mampir ke apotek membeli perban dan membalut lukanya sendiri di perjalanan.
...
Di vila Lu Yucheng.
Jarum jam sudah bertemu di angka dua belas. Nielson belum juga tidur. Beberapa hari ini ia menuruti perintah Lu Yucheng, tidak pergi ke mana-mana. Malam itu ia bosan, hanya bolak-balik mengganti saluran televisi.
Setelah beberapa iklan berlalu, tiba-tiba siaran berita darurat muncul.
Penyiar cantik berkata, "Kami akan menyampaikan berita mendesak. Dalam beberapa waktu terakhir, di markas Aliansi beredar rumor tentang 'manusia berkekuatan khusus'. Malam ini pukul 18.17, pusat perbelanjaan X Chao diserang oleh manusia berkekuatan khusus. Menurut laporan dari lembaga penelitian, yang disebut manusia berkekuatan khusus itu hanyalah bentuk lain dari mutasi manusia. Untuk itu, Pengadilan Aliansi segera mengeluarkan peraturan baru..."
Su Cheng yang berada di kamar mendengar siaran berita itu, lalu keluar ke ruang tamu.
"...Undang-undang Anti-Mutasi. Siapa pun yang berbeda dari manusia biasa, baik dari segi fisik maupun memiliki kemampuan di luar nalar, akan segera ditangkap. Jika melawan, boleh langsung dieksekusi. Mengingat sifat kasus ledakan 'manusia api' yang khusus, Pengadilan Aliansi telah menunjuk sepuluh hakim istimewa, dan mengizinkan mereka membawa senjata laser. Selain itu, masyarakat dipersilakan saling mengawasi dan melapor. Menjaga keamanan markas adalah tanggung jawab semua orang..."
Mendengar itu, Nielson langsung terduduk di sofa. Ia berbisik tak percaya, "Kenapa... kenapa kekuatan khususku jadi dianggap bentuk mutasi kedua? Aku ini manusia! Aku bukan makhluk mutan! Kenapa harus menangkap aku... Aku... aku kan hanya unjuk kebolehan di rumah sakit..."
Setelah berkata demikian, wajah Nielson pun pucat pasi.
Saat itu, suara pintu mobil terdengar di halaman. Nielson yang mendengarnya hampir saja melompat dari sofa karena kaget.
Su Cheng sudah menduga hasil seperti ini. Ia menepuk bahu Nielson, "Itu komandan yang pulang."
"Oh, oh... Komandan pulang... Baiklah..." Nielson menyeka keringat di dahinya, berusaha menenangkan diri.
Lu Yucheng masuk, melihat dua orang di ruang tamu, satu berdiri satu duduk, lalu berkata, "Malam sudah larut, kenapa belum tidur?"
Nielson langsung berdiri, "Lu Yucheng, apa yang dikatakan di berita itu benar semuanya? Tentang Undang-undang Anti-Mutasi..."
Lu Yucheng melirik ke layar televisi, di mana berita itu masih berulang-ulang diputar. Ia menonton sebentar, lalu berkata, "Gerak Pengadilan cepat sekali. Rancangan undang-undang baru saja disetujui, beritanya langsung disiarkan."
Kalau bukan sudah lama dipersiapkan, ia sendiri takkan percaya. Rapat darurat itu hanya sandiwara.
Mendengar ucapan Lu Yucheng, wajah Nielson makin pucat. "Habis sudah... habis! Kalau ada yang melaporkan aku... aku..."
"Kenapa panik?" Lu Yucheng duduk di sofa, mengangkat kakinya ke atas meja, "Memang kau sempat pamer di rumah sakit, tapi ada yang tahu kau tinggal di mana?"
Nielson mendengar itu, sebuah tanda tanya perlahan muncul di kepalanya, lalu berubah menjadi tanda seru.
Benar juga, walau ia tinggal di sini, saat di rumah sakit ia sengaja tidak pernah memberitahu siapa-siapa soal alamatnya, takut merepotkan Komandan.
Satu-satunya yang tahu alamatnya hanyalah sopir taksi, tapi sopir itu pun tak tahu ia punya kekuatan khusus.
"Eh?" Nielson langsung ceria.
Lu Yucheng melihat Nielson yang tiba-tiba sumringah hanya bisa terkekeh geli. Ia menurunkan kakinya, berdiri, lalu langsung menarik Su Cheng menuju kamar tidur.
Nielson baru sadar, "Kalian mau ke mana? Tidak nonton TV dulu?"
"Nonton saja sendiri!" jawab Lu Yucheng, lalu terdengar suara pintu kamar dibanting.
Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Lu Yucheng menekan Su Cheng ke daun pintu, hujan kecupan pun jatuh bertubi-tubi.
Andai bukan karena harus menenangkan si bodoh Nielson, Lu Yucheng pasti sudah melakukannya sejak tadi.
Di tengah ciuman itu, Su Cheng mendengar Lu Yucheng bertanya dengan napas terengah, "Kamu kangen aku tidak, hmm?"
Nada bicaranya malas, menggoda, dan berbahaya.
Belum sempat Su Cheng menjawab, bibirnya kembali dibungkam ciuman.
Su Cheng mulai merasa kepalanya panas. Ia melamun, apa orang ini tidak waras? Baru saja berpisah beberapa jam, masa sudah harus kangen segala?
Rupanya Lu Yucheng merasa ciuman sambil berdiri masih kurang. Ia mengangkat Su Cheng ke ranjang, lalu menindih tubuhnya.
Tubuhnya yang tinggi besar menimbulkan tekanan luar biasa, Su Cheng secara refleks menciut sedikit.
Ia memejamkan mata, tak tahu Lu Yucheng mau melakukan apa lagi.
Melihat tingkahnya, Lu Yucheng justru tertawa. Ia mencubit pipinya, "Jangan takut, aku cuma ingin mencium kamu."
Benar saja, ciuman berikutnya terasa jauh lebih lembut dan penuh kasih.
Selepas berciuman, Lu Yucheng mandi air dingin. Ketika keluar, Su Cheng sedang duduk di jendela, memandang keluar dengan tenang.
Lu Yucheng sebenarnya paling tidak suka melihat ekspresi Su Cheng yang seperti itu, sebab setiap kali Su Cheng pergi diam-diam, wajahnya selalu seperti itu, seakan dunia ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
"Su Cheng," panggil Lu Yucheng.
"Ya?" Su Cheng menoleh, menatap Lu Yucheng, dan tersenyum tipis.
Sejak itu, dunia Lu Yucheng kembali terasa hidup.
Lu Yucheng baru saja selesai mandi. Ia hanya mengenakan handuk putih di pinggang, dada telanjang. Tetesan air di kulitnya menelusuri garis-garis otot tubuhnya...
Akhirnya menetes ke mana, Su Cheng tak berani lagi melihat.
Ia memalingkan wajah dengan canggung, "Lu... Lu Yucheng, cepatlah pakai baju!"
"Kenapa, malu ya?" Lu Yucheng kembali menunjukkan sifat usilnya. Melihat wajah Su Cheng memerah, ia makin ingin menggoda, "Waktu di mobil toh sudah lihat dan pegang semuanya, kan?" Ia memang suka melihat Su Cheng tersenyum, atau memanggil namanya dengan wajah merona.
Su Cheng hanya bisa terdiam.