Bab 17: Berpindah ke Permainan Ketiga
“Ya, aku setuju dengan pendapat Kak Jing. Mengenai permainan pencocokan gambar, menurutku mengganti gambar bukanlah ide yang terlalu bagus, karena hal itu bisa membuat tema jadi kacau. Kita bisa memikirkan, bagaimana jika kita membuka mode baru yang berjalan bersama mode yang sekarang, namun pemain bisa memilih mode mana yang ingin dimainkan? Tidak tahu apakah secara teknis itu memungkinkan atau tidak,” ujar Feng Xi sambil menatap Li Fangcheng dan Ling Donghua.
“Secara teknis tidak masalah, tenang saja. Apakah ada masalah lain?” Li Fangcheng tersenyum, memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja.
“Menurutku tampilan gambarnya bisa dibuat lebih detail lagi. Tadi aku sempat berbincang dengan beberapa teman, ada yang dari jurusan seni rupa juga, dan mereka menyarankan agar beberapa detail perlu diperbaiki,” usul Bai Hongjing.
“Koneksi garis pada permainan pencocokan itu, bisa dibuat lebih menarik, misalnya seperti sulur tanaman,” kata seorang gadis dari bagian seni.
“Ada juga tampilan permainan mencari perbedaan, ada dua gambar dengan tema yang sama dan perbedaannya tidak terlalu banyak. Mungkin salah satu bisa diganti atau dipindah ke level lain.”
“Bagaimana kalau gambar pada pencocokan dibuat sedikit tiga dimensi? Supaya terlihat lebih penuh.”
“Lingkaran pada permainan mencari perbedaan, apakah tidak terlalu tebal? Saat melingkari, rasanya agak kaku.”
“Titik perbedaan setiap level, sekarang lima, bagaimana kalau ditambah supaya lebih menantang dan terasa prestasinya?”
“Menurutku tidak perlu, kalau terlalu banyak juga kurang baik.”
Semua orang pun mulai berdiskusi dengan antusias.
Li Fangcheng tak bisa menahan kekagumannya. Lulusan-lulusan unggulan memang luar biasa, cara berpikir mereka begitu cepat, seketika saja sudah muncul banyak masukan.
“Baik, kalau begitu, karena kalian sudah punya banyak ide, aku akan sedikit merangkum beberapa poin yang bisa segera kita perbaiki. Selebihnya, Zhou Dongliang akan bertanggung jawab untuk pengujian akhir dua permainan ini, dan harus segera diselesaikan. Pertama, optimalkan masalah kelambatan pada permainan mencari perbedaan, waktu tetap, jumlah perbedaan tetap lima, jangan dilebihkan. Kedua, pada permainan pencocokan, sebelum mulai, sediakan tiga mode pilihan: Mode Senjata Dewa, Mode Kerajaan Binatang, dan Mode Dapur Manis. Kumpulkan gambar untuk masing-masing mode secepatnya, sekaligus optimalkan garis penghubung. Bagian ini menjadi tanggung jawab Feng Xi,” Li Fangcheng menatap semua orang.
“Untuk masukan-masukan lain yang tadi disebutkan, aku serahkan sepenuhnya pada Zhou Dongliang. Aku beri waktu lima hari, setelah itu aku ingin melihat hasil akhirnya. Sekarang, dari bagian teknik, satu orang tetap membantu bagian seni, dari bagian seni dua orang dipilih khusus, sisanya bergabung dengan bagian teknik membentuk tim proyek. Kita akan mulai membuat permainan ketiga, yang menjadi inti pada tahap ini,” jelas Li Fangcheng.
“Permainan Anggota Keluarga ini akan membawa pemasukan yang tak terhitung jumlahnya bagi kita. Dana ini nantinya akan mendukung pengembangan permainan berikutnya dan satu proyek lain. Lin Ying’er, urusan rekrutmen akan dimulai resmi setelah dua permainan ini laku. Semakin banyak orang yang kita rekrut semakin baik, tapi prinsipnya lebih baik kurang daripada memilih sembarangan. Ini juga masuk dalam penilaianmu.”
“Ying Qinglian, nanti kita diskusikan masalah logo. Jadi sekarang, tim proyek Anggota Keluarga resmi dibentuk. Apakah ada yang ingin ditanyakan?” tanya Li Fangcheng.
“Tidak ada!” semua menjawab serempak.
Ying Qinglian membawa beberapa desain logo yang dibuatnya dalam beberapa hari terakhir dan menyerahkannya pada Li Fangcheng. “Sekarang ada beberapa opsi: yang pertama gambar kartun manusia, yang kedua panda, yang ketiga murni tulisan, yang keempat monyet, yang kelima berbentuk hati.”
Melihat beberapa sketsa itu, mata Li Fangcheng tampak berbinar. Desainnya memang matang, setiap gambar menunjukkan kesungguhan.
“Coba jelaskan idemu.”
“Yang pertama, kartun manusia, menonjolkan kesan lucu dan menarik. Kedua, panda, ikon khas negeri Tiongkok, polos, sederhana, juga lucu. Ketiga, tulisan kaligrafi, menonjolkan warisan budaya. Keempat, terinspirasi dari Sun Wukong, dengan semangat tak kenal takut. Kelima, ingin menyampaikan bahwa kami akan bekerja sepenuh hati untuk membuat permainan yang lebih baik,” ujar Ying Qinglian perlahan.
“Desainnya bagus, bahkan melebihi harapanku. Tapi untuk gambar manusia, kita tak usah pakai. Permainan kita akan mendunia, sehingga karakter manusia, jika sedikit saja salah penanganan, akan sulit diterima,” kata Li Fangcheng sambil memegang gambar pertama.
“Untuk panda, idenya bagus juga, tapi panda terlalu lembut dan imut. Mungkin cocok untuk permainan kecil kita sekarang, namun untuk permainan lain, karakter seperti itu terlalu kekanak-kanakan.”
“Kaligrafi, desainnya sangat indah, tapi secara global, pengenalan terhadap kaligrafi Tiongkok sangat rendah, meski secara pribadi aku sangat suka.”
“Gambar Sun Wukong, idenya menarik. Semangat tak kenal takut sangat bagus. Namun penampilan dan warna Sun Wukong bisa disesuaikan lagi, kurangi nuansa budaya yang terlalu kental. Kamu juga bisa bertanya pendapat guru atau teman asing di kampus, apakah mereka suka atau tidak, karena ada perbedaan budaya, jadi usahakan netral.”
“Untuk logo hati, sebenarnya juga menarik, meski agak kurang menonjol, tapi dari sisi daya sebar, cukup baik. Aku sarankan, elemen hati ini digabungkan dengan unsur teknologi, dibuat lebih tegas, tidak terlalu lembut, seperti ini contohnya.”
Li Fangcheng menunjukkan logo klub Hati Bahagia milik perusahaan penguin dari masa depan pada Ying Qinglian.
“Kedua opsi ini menurutku sangat bagus. Silakan optimalkan dulu, beberapa hari lagi aku akan pastikan, juga akan kutunjukkan pada teman-teman lain. Aku pikir-pikir dulu,” ujar Li Fangcheng sambil mengusap kening.
“Teman-teman?” Ying Qinglian tampak bingung.
“Oh, maksudnya pegawai di perusahaan kita, orang-orang di sekelilingmu, semuanya bisa disebut teman, haha,” jawab Li Fangcheng sambil tertawa, hampir lupa istilah itu belum populer di masa ini.
“Oh begitu, teman-teman…” Ying Qinglian pun pergi.
Malam berlalu tanpa kata.
Keesokan harinya, Li Fangcheng dengan bantuan Lin Ying’er mencari orang dari jurusan teknik mesin dan elektro. Setelah menjelaskan kebutuhannya, mereka menggunakan sisa-sisa bahan untuk membuat sebuah alat yang sangat jelek. Setelah dipastikan layarnya bisa menyala, Li Fangcheng membawa alat seharga lima puluh yuan itu untuk ditunjukkan pada yang lain.
“Eh, Bos, bukan aku mau bilang, kamu bawa barang aneh itu buat apa? Jelek banget, ya?” Ling Donghua langsung tidak bisa menahan diri saat melihat benda kecil di tangan Li Fangcheng.
“Jelek? Jelek kepala semangkamu! Sudahlah, toh bukan aku yang pakai. Selanjutnya, tim Anggota Keluarga akan menjadikan benda ini sebagai basis, programnya dimasukkan ke chip ini, dan tiga tombol ini adalah tombol fungsi.” Mendengar ini barulah Ling Donghua paham, benda itu dipakai untuk uji coba transmisi data mereka.
Ling Donghua pun jadi tak berani menyepelekan alat itu, dan segera mengajak tim teknik untuk meneliti bersama.
Rencana sudah diberikan oleh Li Fangcheng, jadi tinggal bagaimana membuat program dan menanamnya ke chip.
Jika hanya mengandalkan Ling Donghua, tanpa beberapa bulan dan menghabiskan puluhan ribu, jangan harap bisa selesai.
Tapi dengan Li Fangcheng, semua jadi mudah. Ia mendemonstrasikan teknologi kunci di komputer dan menjelaskan poin-poin penting. Dalam hitungan hari, mereka sudah menguasai teknik pembuatan permainan Anggota Keluarga.
Logo akhirnya dipilih yang berbentuk hati dengan nuansa teknologi, bahkan slogan iklannya langsung digunakan: “Dengan hati menciptakan kebahagiaan.”
Sedangkan logo monyet juga dipakai sebagai maskot, namanya Si Monyet Kecil, seekor monyet lincah, cerdik, berani melawan kejahatan, dan penuh semangat.
Saat logo hati dan Era Keajaiban muncul di dua mesin arcade, semua orang kembali dibuat kagum. Sedangkan Si Monyet Kecil menjadi karakter pengingat level, dan langsung disukai serta diterima semua orang.
Setelah memastikan permainan mencari perbedaan dan pencocokan gambar selesai, Li Fangcheng pun segera menuju kantor organisasi penulis.
“Halo, tolong carikan Tuan Zhao Shanhe,” ucap Li Fangcheng pada resepsionis.
“Baik, tunggu sebentar.” Resepsionis pun pergi memanggil Zhao Shanhe, tentu saja karena ada perintah sebelumnya, kalau tidak urusannya tidak akan sesederhana itu.
“Lama tak bertemu, ternyata kau benar-benar datang, ayo, kebetulan Tuan Jin juga ada, ikut aku,” kata Zhao Shanhe dengan senyum lebar.
“Baik, terima kasih.” Li Fangcheng mengikuti Zhao Shanhe sambil bertanya, “Apakah Anda sudah membicarakan hal ini dengan Tuan Jin?”
“Nanti juga kamu tahu,” jawab Zhao Shanhe sambil tersenyum penuh misteri.
Tak lama mereka sampai di depan sebuah ruangan. Zhao Shanhe mengetuk dua kali, lalu membuka pintu.
“Sudah datang ya? Silakan duduk.” Begitu pintu terbuka, tampak seorang lelaki tua penuh semangat duduk di dekat meja teh, sedang membilas peralatan minum teh.
“Halo Tuan Jin, saya Li Fangcheng, mohon maaf mengganggu.” Li Fangcheng menatap penuh hormat pada penulis yang telah memengaruhi jutaan orang di negeri ini. Meski kehidupan pribadinya agak rumit, tapi dari segi karya, ia memang pantas dihormati.
Novel Jin Yong sudah memberi pengaruh lintas tiga generasi. Sosok sebesar itu, Li Fangcheng pun harus menunjukkan ketulusan.
“Aku sudah mendengar tentangmu dari Xiao Zhao, anak muda yang menarik. Bagaimana, ingin membeli hak cipta novelku?” Tuan Jin tersenyum ramah.
“Itu karena saya kagum pada karya Anda, jadi muncul ide nakal ingin membuatnya jadi permainan. Tapi saya pikir tidak pantas kalau hanya mengeksploitasi karya Anda, makanya saya datang ke sini,” jawab Li Fangcheng, tentu saja menyembunyikan niat sebenarnya.
“Membuat permainan itu butuh dana besar, kamu tidak takut uangmu terbuang sia-sia?” Tuan Jin bertanya dengan penuh minat.
“Benar juga, waktu pertama kali mendengar idenya, saya pun merasa agak mustahil,” tambah Zhao Shanhe di samping mereka.