Bab Dua Puluh Enam: Surat Cinta
Hari ini tanggal 12 Juni, dua hari lagi menuju ujian masuk SMP di Kota Qingshan.
Hari ini juga genap satu bulan sejak gempa bumi besar 12 Mei. Pada hari itu, Cheng Lixue tidak menonton satu pun laporan televisi, melainkan mengurung diri di asrama dan tidur seharian penuh.
Sebagai seseorang yang terlahir kembali, seharusnya dia bisa melakukan sesuatu, tapi saat hari itu benar-benar tiba, dia menyadari dirinya tak berdaya. Seandainya dia terlahir kembali dua tahun lebih awal, atau bahkan satu tahun saja, dia akan berusaha semampunya agar bencana itu tak terlalu parah.
Namun, dalam beberapa bulan singkat ini, utang keluarganya pun belum mampu ia lunasi, apalagi melakukan hal lain. Seorang murid SMP berusia enam belas tahun di sebuah kota kecil—siapa yang akan percaya jika ia mengatakan akan ada gempa bumi dahsyat pada tanggal dua belas Mei?
Rasa tak berdaya seperti itu sungguh menyakitkan.
Bahkan, saat sekolah mengadakan penggalangan dana beberapa hari lalu, ia pun tak mampu menyumbang banyak.
Mungkin karena sebentar lagi masa SMP-nya akan berakhir, atau lebih tepatnya masa sekolah kebanyakan orang akan segera berlalu, suasana haru menyelimuti seluruh sekolah.
Tempat ini telah menjadi bagian dari masa remaja mereka selama tiga tahun penuh—cahaya mentari di sini, ruang kelas, lapangan, meja dan kursi yang penuh coretan nama entah siapa saja dengan pisau atau pena—semua itu kelak akan menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Bahkan Cheng Lixue yang hanya setengah tahun bersekolah di sini saja bisa merasakannya, apalagi mereka yang lain.
Sejak malam itu, setelah berpisah dengan Lin Chuen dan kembali ke asrama, Cheng Lixue meminta pada Wang Lei untuk tukar tempat duduk.
Kini ia duduk di deretan paling depan, di samping Cheng Licai.
Perasaan bergetar dalam hatinya itu sebenarnya tak seharusnya muncul, sebab seperti kata Lin Chuen sendiri, mereka memang tak cocok.
Menyukai seseorang yang tidak menyukai diri sendiri bukanlah masalah, tapi jika terus mengejar orang yang tidak suka padanya, apa bedanya dengan Cheng Lixue sebelum terlahir kembali?
Rasa suka yang saling berbalas, itulah cinta.
Sebenarnya, selama tak berada di dekatnya, Cheng Lixue tetaplah Cheng Lixue yang sama—bijaksana dan tidak mudah gelisah.
Jadi, demi kebaikan mereka berdua, ia tak bisa lagi duduk di tempat semula.
Lin Chuen berkata tidak ingin berpacaran dengan siapa pun, dan itu memang benar adanya.
Pada malam hujan saat Lin Chuen pulang setelah makan, Cheng Lixue yang berbaring di ranjang sambil mengingat-ingat masa lalunya baru teringat, Lin Chuen di kehidupan sebelumnya tidak berhenti sekolah setelah lulus SMP, juga tidak menikah muda, melainkan melanjutkan ke SMA Negeri Tiga di kabupaten. Berkat kerja kerasnya selama tiga tahun SMA, ia pun diterima di universitas ternama.
Cheng Lixue mengingat ini karena saat nenek Lin Chuen meninggal, orang tua Cheng Lixue sempat kembali ke Gunung Wuyin dan bertemu Lin Chuen. Itu sudah delapan belas tahun yang lalu. Setelah lulus kuliah, Lin Chuen melanjutkan kuliah S2 selama tiga tahun, dan ketika itu ia baru saja lulus dan magang di sebuah perusahaan. Lin Yun, saat menelepon, memuji Lin Chuen setinggi langit, katanya kini ia berkacamata, cantik sekali, dan masih lajang, menyarankan Cheng Lixue untuk mendekatinya.
Namun, sejak SD, Cheng Lixue memang sudah tak pernah bertemu Lin Chuen lagi, jadi ia menolak dengan halus. Ibunya sendiri sangat menyukai Lin Chuen, bahkan hingga sebelum Cheng Lixue terlahir kembali, selalu berharap agar ia lebih dekat dengan gadis itu. Sampai akhirnya Cheng Lixue terlahir kembali, Lin Chuen masih belum menikah. Maka, jika gadis seperti itu berkata tidak ingin jatuh cinta, maka memang itulah yang ia rasakan.
Usai makan, setelah membilas tempat makan dan kembali ke kelas, Cheng Lixue menemukan beberapa lembar kertas tertata rapi di mejanya.
Semua kertas itu bermotif indah.
Cheng Lixue membukanya dan tak kuasa menahan senyum.
Masa muda, ya!
Semuanya adalah surat cinta anonim. Dari tulisan tangan yang rapi dan halus, mudah ditebak para pengirimnya pasti gadis-gadis pemalu.
Yang tak pemalu, pada musim awal musim panas saat semuanya akan berpisah jalan, meski tak berani mengungkapkan perasaan secara langsung, paling tidak tak akan menulis surat cinta tanpa menyebutkan nama.
Cheng Lixue tersenyum, lalu pada salah satu surat cinta yang paling bagus ia membalas, "Agak penakut, ya," kemudian menyimpan surat itu. Sisanya ia remas menjadi bola dan melemparnya ke tempat sampah di sudut ruangan.
Di luar jendela, sesosok gadis berwajah kemerahan berlari ringan di koridor kelas Tiga Tujuh.
“Gimana, Song Li, sudah kamu tulis?” tanya Zhang Qing dari kelas Tiga Empat, menatap Song Li yang baru saja kembali ke kelas.
“Iya,” jawab Song Li dengan wajah bersemu.
“Terus, kamu tulis nama nggak?” tanya Zhang Qing lagi.
“Enggak,” Song Li menggeleng.
“Aduh, dasar kamu ini. Nggak ditulis nama, gimana dia tahu itu surat cinta dari kamu? Kan sudah kubilang, langsung saja ngomong, jangan nulis surat cinta segala. Nih, jadinya sia-sia, kan,” ujar Zhang Qing sedikit gemas.
“Tapi, dia buang semua surat cinta lain, cuma di surat yang aku tulis dia balas, lho!” bisik Song Li pelan.
...
Empat jam pelajaran sore itu semuanya matematika dan bahasa Inggris, sehingga sepanjang sore berubah menjadi ujian.
Sejak bulan Juni, ujian memang seakan tak pernah berhenti.
Pada jam pelajaran keempat, Cheng Lixue baru saja menyelesaikan ujian bahasa Inggris dan belum sempat memeriksa jawabannya, lembar jawabannya sudah diambil Cheng Licai untuk disalin.
Tapi tidak apa-apa, toh kalau tidak diperiksa pasti ada yang salah, jadi isi jawabannya tidak akan sama persis, sehingga Cheng Licai tidak akan dimarahi Wang Lei.
“Jangan salin bagian karangan, aku nggak mau ke ruang guru lagi bareng kamu,” kata Cheng Lixue.
“Nggak, nggak akan,” jawab Cheng Licai, cengengesan.
Setelah Cheng Licai selesai menyalin, waktu pengumpulan lembar ujian pun hampir tiba.
Cheng Lixue baru sempat memeriksa setengahnya ketika guru bahasa Inggris, Li Shuhua, masuk ke kelas.
Beliau satu-satunya guru perempuan di kelas itu.
Li Shuhua melirik jam di pergelangan tangannya, lalu berkata, “Masih sepuluh menit sebelum pelajaran selesai. Petugas kelas, silakan kumpulkan lembar ujian.”
Selesai bicara, ia pun meninggalkan kelas.
Lin Chuen pun bangkit dari tempat duduknya.
Sejak nilai Lin Chuen membaik, guru bahasa Inggris memilihnya menjadi petugas pelajaran bahasa Inggris.
Ia mulai mengumpulkan lembar ujian dari depan, dari kanan ke kiri.
Saat Cheng Lixue baru selesai memeriksa ujiannya dan hendak menyerahkan, tiba-tiba Cheng Licai berteriak, “Wah, Cheng Lixue, hebat banget kamu! Siapa yang kirim surat cinta ke kamu? Eh, kamu malah balas lagi!”
Cheng Lixue hanya bisa diam.
Untunglah saat itu hampir semua murid sedang sibuk mencari lembar ujian teman yang nilainya bagus untuk disalin, jadi suasana kelas ramai. Kalau tidak, suara besar Cheng Licai pasti membuat seluruh kelas mendengar.
“Lho, kok nggak ada namanya? Penulis surat ini penakut banget, sudah nulis surat cinta, tapi nggak berani tulis nama,” ujar Cheng Licai sambil memeriksa surat itu, memastikan tak ada tanda tangan.
“Cheng Licai, kalau terus begini, jangan harap bisa menyalin jawabanku lagi!” kata Cheng Lixue menatapnya.
“Cuma lihat, kok, cuma lihat,” balas Cheng Licai buru-buru mengembalikan surat-surat itu pada Cheng Lixue.
Cheng Lixue pun menyelipkan kertas itu di bawah buku, lalu mendongak. Di depannya, Lin Chuen sudah berdiri di meja sambil menunggu.
...