Bab Enam Puluh Enam: Pertandingan
Pada hari Rabu pagi, setelah pelajaran kedua usai, Cheng Lixue dipanggil Wang Yue masuk ke kantor guru.
“Aku tidak peduli apakah kamu mau masuk klub sastra sekolah atau tidak, tapi untuk lomba menulis esai tingkat SMA se-Kota Qingshan yang ke-12 kali ini, kamu wajib ikut. Lomba ini diselenggarakan bersama oleh Dinas Propaganda Kota, Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Kota, Federasi Sastra dan Seni Kota, serta Grup Penerbitan dan Media Qingshan. Sekolah sangat menaruh perhatian pada perlombaan ini karena menyangkut kehormatan sekolah kita. Semua SMA di Qingshan akan mengirimkan tiga siswa. Aku sudah mendaftarkan namamu,” kata Wang Yue.
Beragam alasan yang sebelumnya telah Cheng Lixue pikirkan akhirnya sirna begitu saja setelah mendengar kalimat terakhir Wang Yue.
Wang Yue sengaja menyebutkan banyak lembaga penting yang terlibat dalam lomba menulis esai SMA tingkat kota kali ini untuk menegaskan betapa pentingnya acara ini, khawatir Cheng Lixue akan menolak. Sebab, pada lomba-lomba menulis baik yang diadakan oleh kota maupun sekolah sebelumnya, Cheng Lixue tidak pernah mau ikut, meski Wang Yue sudah membujuknya demi nama baik kelas. Namun, semua usaha itu tak pernah berhasil.
Kini, perintah datang langsung dari kepala sekolah, menyangkut kehormatan SMA Satu. Takut Cheng Lixue tetap tidak mau, Wang Yue langsung mendaftarkan namanya tanpa memberitahu terlebih dahulu.
Sebenarnya, Cheng Lixue sudah tahu tentang lomba menulis esai tingkat SMA se-Kota Qingshan ini. Di kehidupannya yang lalu, lomba ini adalah ajang yang sangat diidamkan oleh siswa-siswa yang percaya diri terhadap kualitas tulisan mereka. Sebab, lomba ini memang penting. Banyak pejabat kota akan hadir dalam acara tersebut.
Karena diselenggarakan bersama Grup Penerbitan dan Media Qingshan, jika esai yang kamu tulis meraih juara satu, namamu akan muncul di berita televisi Qingshan dan bahkan harian Qingshan. Tentu saja, mereka tidak akan menayangkan seluruh isi esai, hanya menyebutkan secara singkat bahwa seorang siswa dari SMA tertentu berhasil meraih juara pertama dalam lomba menulis ini. Namun, hanya dengan itu saja sudah merupakan kebanggaan yang luar biasa.
Berapa banyak orang dalam hidup ini yang pernah muncul di televisi kota atau surat kabar resmi kota?
Terutama bagi anak-anak usia enam belas atau tujuh belas tahun yang masih sangat haus pengakuan. Jika orang tua atau kerabat bisa melihat nama mereka di surat kabar atau televisi, pasti akan sangat bangga dan bahagia.
Di kehidupan sebelumnya, Cheng Lixue juga pernah beberapa kali mengajukan diri ke sekolah agar bisa mewakili SMA Tiga dalam lomba ini. Jelas, ia tidak pernah terpilih.
Padahal, ia yakin kualitas tulisannya sudah cukup bagus, bahkan lebih baik dari siswa yang dipilih sekolah. Namun, di SMA Tiga, terkadang bukan kemampuan menulis yang menentukan siapa yang terpilih.
Banyak hal rumit di balik layar. Cheng Lixue ingat, di masa depan, ada pejabat penting di Dinas Pendidikan Qingshan yang akhirnya tersandung kasus korupsi. Salah satu tuduhan terbesar adalah selama tahun 2007 sampai 2009, ia memanfaatkan jabatannya untuk membocorkan soal lomba menulis kepada anaknya yang bersekolah di SMA Dua. Anak itu menghafal seluruh naskah esai yang akan dilombakan, dan berhasil memenangkan juara satu beberapa kali berturut-turut.
Itulah pertama kalinya sejak lomba menulis SMA se-Kota Qingshan diadakan, SMA Dua berhasil mengalahkan SMA Satu.
Dalam dua tahun berikutnya, prestasi itu bahkan terus berlanjut hingga tiga kali berturut-turut. Baru setelah siswa dari SMA Dua itu lulus dan masuk universitas, SMA Satu kembali merebut gelar juara satu lomba menulis esai ini.
Cheng Lixue menduga, sekolah kali ini langsung mendaftarkan namanya tanpa sepengetahuannya, mungkin karena alasan itu juga.
Kalau siapa saja bisa jadi juara, tentu sekolah tidak akan mendaftarkannya diam-diam. Lagipula, bagi banyak siswa Qingshan, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan diri. Banyak yang ingin ikut, tidak mungkin orang yang tidak mau justru dipaksa ikut.
Tak lama kemudian, Bai Zhengyu masuk ke kantor.
“Setelah melalui seleksi ketat dari para guru bahasa, sekolah kita kali ini akan mengirim kamu, Bai Zhengyu, dan Jiang Hui dari kelas tiga yang juga ketua klub sastra sekolah dan punya kemampuan menulis esai yang sangat bagus. Lomba akan diadakan hari Sabtu ini di SMA Tiga. Kalian berdua dalam beberapa hari ini bisa fokus pada latihan menulis esai,” ujar Wang Yue.
“Baik,” Bai Zhengyu mengangguk.
Jelas, ia sudah tahu sejak awal akan ikut lomba menulis esai tingkat kota ini.
“Berjuanglah sebaik mungkin. Aku dan guru bahasa kalian sudah sesumbar pada kepala sekolah, dengan keikutsertaan kalian, pasti SMA Satu bisa merebut kembali kejayaannya,” kata Wang Yue sambil tersenyum menyemangati.
Cheng Lixue hanya bisa terdiam. Ia masih ingat, tiga esai yang memenangkan lomba selama tiga tahun berturut-turut oleh siswa yang mendapat bocoran soal itu semuanya pernah ia baca di kehidupan sebelumnya. Jujur saja, orang yang menulis esai untuk siswa itu memang sangat serius dan menghabiskan banyak waktu.
Kesulitan lomba menulis esai secara langsung memang terletak pada situasi di tempat lomba. Mudah jika kamu sudah tahu topiknya, karena kamu bisa menghabiskan waktu berhari-hari menulis dan memperbaiki tulisan. Tapi kalau harus menulis di tempat, kamu butuh waktu banyak untuk memikirkan isi dan tetap harus selesai dalam waktu yang ditentukan. Jelas, tulisan semacam ini tidak akan bisa menandingi tulisan yang digarap dengan teliti selama sepuluh hari hingga dua minggu.
Keluar dari kantor, Cheng Lixue mengusap kepalanya.
Topik lomba menulis esai tingkat SMA se-Kota Qingshan tahun 2008, waktu sudah terlalu lama berlalu. Meski ia masih ingat tulisan siswa SMA Dua itu memang bagus, namun ia sudah lupa detail isinya. Bahkan, judul lomba tahun itu pun sudah terlupakan.
Sudah belasan tahun berlalu, siapa yang masih mengingatnya?
Andai ia masih ingat topik lomba, Cheng Lixue yakin ia pasti bisa menang telak.
Sekarang, meskipun sekolah memilihnya, tidak mungkin ia bisa mengalahkan lawan yang sudah menghafal esai dari awal sampai akhir!
Tapi, justru inilah tantangan yang menarik.
Kadang, tulisan terbaik lahir dari tekanan.
Jika ia mampu menulis sebuah esai yang luar biasa dan memenangkan juara satu lomba menulis esai tingkat kota kali ini, maka kelak ketika orang-orang tahu bahwa “Angin Musim Semi” adalah karyanya, mereka tidak akan terlalu terkejut.
Cheng Lixue memang khawatir, karena usianya yang masih muda, ia sudah melakukan banyak hal yang tidak wajar untuk anak seusianya, membuatnya tampak luar biasa aneh.
Ketika ia tetap menggunakan nama pena dari kehidupan sebelumnya, ia sudah sadar bahwa saat “Angin Musim Semi” mulai terkenal, pasti akan ada yang menebak bahwa itu adalah tulisannya dari tulisan-tulisannya di kelas.
Tulisan tangan seseorang mungkin bisa berbeda, tapi gaya bahasa seseorang sulit disembunyikan. Banyak penulis besar, hanya dengan membaca beberapa paragraf saja, kita sudah tahu siapa penulisnya.
“Kamu kelihatannya tidak terlalu ingin ikut lomba menulis esai tingkat kota ini?” tanya Bai Zhengyu.
“Aku kurang percaya diri,” jawab Cheng Lixue sambil tersenyum.
“Terkadang, terlalu merendah malah bikin perempuan ilfil, lho,” ujar gadis itu dengan dahi berkerut.
“Aku kan juga nggak suka kamu, jadi kalau kamu ilfil ya terserah saja,” balas Cheng Lixue sambil tertawa.
Kadang, beban memang perlu dilepaskan sedikit. Menggoda gadis cantik dan dingin di hadapannya ini pun lumayan menyenangkan.
Bai Zhengyu menarik napas dalam-dalam, menahan diri agar tidak menonjok Cheng Lixue, lalu kembali ke kelas dengan wajah tanpa ekspresi.
…