Bab Dua Puluh: Melukis Macan (Bagian Tiga)
Baru setelah tiba di Istana Simpan Pesona aku tahu bahwa Lin Yan sedang terserang demam dan telah terbaring sakit selama beberapa hari. Dua hari belakangan ini ia terus beristirahat di dalam istana.
Aku mengikuti Yun Er masuk ke istana melalui pintu samping. Yun Er berbisik, “Orang-orang lain di istana sudah disuruh Putri ke halaman depan, jadi tidak akan ada yang mengganggu…”
Saat berbicara, ia sama sekali tidak berani menatap mataku. Saat itu barulah aku teringat ketika pertama kali datang ke Qin, aku pernah berpura-pura mabuk dan menggoda dia di kediaman Putra Mahkota. Sebelum Lin Yan jatuh ke tanganku, ia memang memiliki kegemaran aneh terhadap sesama jenis; sepertinya Yun Er juga salah satu teman mainnya. Melihat ekspresi Yun Er, kemungkinan besar ia sudah tahu hubungan antara aku dan Lin Yan. Dalam hati aku mengeluh, gadis seperti Lin Yan pada akhirnya memang tidak bisa menyimpan rahasia kami.
Yun Er menuntunku ke kamar tidur, membiarkanku bersembunyi di balik tirai. Setelah yakin tidak ada orang lain di dalam, ia mengisyaratkan padaku dengan tangan dan menunjuk ke ranjang sebelum berbalik keluar.
Lin Yan berbaring membelakangi di ranjang, tampaknya sudah tertidur.
Aku memanggil pelan, “Putri!”
Lin Yan tidak bereaksi. Aku mendekat ke sisi ranjang dan menyentuh bahunya. Tak kusangka Lin Yan tiba-tiba berbalik dan menggigit lenganku dengan keras hingga aku berteriak kesakitan. Barulah ia melepaskan lenganku dan menatapku penuh dendam dan kesedihan.
Aku tersenyum kecut, “Putri, tega benar memperlakukan Yinkong seperti ini.”
Lin Yan marah, “Rasanya ingin saja aku memakanmu hidup-hidup!”
Bahunya yang putih terpampang di luar selimut, sungguh memancing hati. Aku duduk di tepi ranjang, merangkul tubuhnya yang halus dan berkata lembut, “Beberapa hari ini aku selalu memikirkanmu, hanya saja terlalu banyak mata di istana, jadi sulit menemuimu.”
Lin Yan melepaskan pelukanku dan menjewer telingaku, “Masih saja berani menipuku! Sekarang seluruh ibu kota sudah tahu kau akan menjadi menantu Jenderal Besar Bai. Sampai kapan kau mau menyembunyikan dariku?”
Aku tersenyum pahit, “Dari mana Putri mendengar rumor itu? Sama sekali tidak benar.”
Lin Yan setengah percaya setengah ragu, “Kakak Kaisar sendiri yang bilang padaku. Mana mungkin salah?”
Aku memeluknya dan mengecup pipinya yang halus, “Memang benar Ibunda pernah membicarakan perjodohan itu pada Bai Gui, tapi putri bungsu Bai Gui sudah sejak kecil dijodohkan dengan orang lain. Mana boleh seorang gadis dijanjikan pada dua keluarga?”
Mata Lin Yan berbinar, “Benarkah itu?”
Aku mengangguk mantap. Menghadapi gadis seperti Lin Yan, cara terbaik adalah membujuk dan menipunya semampuku.
“Baiklah, aku percaya kau untuk kali ini saja…”
Tanganku sudah menyelinap ke bawah selimut dan kutemukan Lin Yan hanya mengenakan kemben. Matanya setengah terpejam, ia berbisik, “Dasar pencuri cinta, mau apa lagi kau…” Padahal ia sendiri sudah siap, tapi tetap menyalahkanku.
“Aku hanya ingin mengobati rindu Putri,” gumamku sambil melepas pakaian dan masuk ke balik selimut. Lin Yan menarik selimut menutupi kami berdua. Dalam kegelapan, napasnya terdengar berat dan menggoda.
Tubuh Lin Yan yang lembut melingkari tubuhku erat-erat, “Dasar pencuri cinta! Kau membuatku merindu begitu dalam!”
Api hasrat kami berkobar cepat dalam gelap…
Seperti kucing mungil, Lin Yan menelungkup di dadaku, jemarinya melukis lingkaran kecil di atas kulitku, berbisik, “Kapan kau akan melamar pada Ibunda?”
Aku tertegun sejenak lalu berkata pelan, “Ayahanda baru mangkat, membicarakan hal itu sekarang rasanya kurang pantas…”
Lin Yan mencubit dadaku dengan keras, “Lantas mau diapakan aku?”
Aku membalas lirih, “Tubuh Putri begitu elok dan memesona, hanya ada satu cara memperlakukanmu!” Aku membalikkan badan dan menindihnya, membuat Lin Yan tertawa manja. Tiba-tiba terdengar suara keras Yun Er dari luar, “Paduka Kaisar datang!”
Sejurus itu juga keringat dingin mengucur deras. Kenapa harus sekarang, ketika Yanzong tiba? Dari nada Yun Er, ia sudah benar-benar di depan pintu, bahkan untuk mengenakan pakaian pun tak sempat.
Lin Yan panik, melempar pakaianku dan sepatuku ke bawah ranjang, namun celahnya terlalu sempit untuk kusembunyikan badan. Terpaksa aku bersembunyi di balik selimut. Untungnya ranjang itu cukup lebar dan cahaya di kamar sangat redup, kecil kemungkinan aku terlihat.
Tak lama kemudian terdengar suara Yanzong, “Lin Er, sudah baikan?”
Lin Yan berbaring manis di bawah selimut, karena memang telanjang bulat, mana berani duduk menjawab. Ia memasang suara sangat lemah, “Sudah agak baikan… Tapi masih ingin tidur…”
Dalam hati aku memaki Yanzong, betapa tak tahu malu! Bagaimana mungkin seenaknya saja masuk ke kamar adiknya?
Yanzong berkata, “Aku sudah meminta tabib istana membuatkan ramuan tonik untukmu, minumlah!”
Aku menepuk lembut paha Lin Yan. Ia berkata, “Paduka letakkan saja di meja, saat ini saya belum ingin makan.”
Yanzong menghela napas, terdengar nelangsa, “Lin Er, aku masih suka jika kau memanggilku Kakak Ketujuh…”
Lin Yan menjawab lembut, “Kaisar sekarang telah menjadi penguasa negeri, mana mungkin Lin Er berani berlaku tak sopan.”
Yanzong berseru, “Lin Er! Tahukah kau, aku sama sekali tak ingin menjadi penguasa negeri. Kalau bukan karena desakan Ibunda, aku lebih memilih hidup tenang bersamamu di pegunungan…” Begitu emosional, bahkan kata-kata itu pun terlontar.
Lin Yan, yang sama sekali tidak tahu akan hasrat terlarang kakaknya, mengira hanya ucapan sesaat. Ia menasihati pelan, “Sebagai Kaisar, hal utama adalah memperhatikan rakyat Qin. Mana mungkin bisa terus-terusan berpikir untuk bersembunyi di pegunungan.”
Yanzong maju dua langkah lagi, berseru, “Sekarang aku bahkan tak punya kebebasan paling dasar, mana mungkin sempat memikirkan yang lain.”
Aku sangat takut Yanzong akan mencium sesuatu yang janggal, sampai-sampai aku bersembunyi di antara kedua paha Lin Yan tanpa berani bergerak sedikit pun. Lin Yan menekuk kakinya, kulit sehalus giok bergesekan dengan bahuku, tapi aku sama sekali tak sempat menikmati, karena jika ketahuan sembunyi di sini, tamatlah riwayatku.
Yanzong berkata sendu, “Ibunda memintaku menikahi Liji, putri Bai Gui, tiga bulan lagi!”
Lin Yan tersenyum, “Baguslah, aku dapat seorang kakak ipar lagi.”
Yanzong melihat Lin Yan sama sekali tidak bereaksi, ia jadi makin murung. Ia menghela napas panjang, “Aku tak mengganggumu lagi, besok aku akan menjengukmu lagi.”
Begitu mendengar suara pintu istana ditutup, aku baru berani menarik napas lega. Dari luar terdengar suara Yun Er, “Hormat mengantar Keberangkatan Paduka!”
Beberapa saat kemudian, setelah benar-benar yakin Yanzong telah pergi, Lin Yan tergelak, kedua pahanya menjepitku erat-erat, lalu menggoda, “Jika kau berani mengkhianatiku, aku akan minta Kakak Kaisar memenggal kepalamu. Tidak, lebih baik lagi, aku potong saja dan kau harus melayani aku di istana!”
Aku pura-pura garang, menindih Lin Yan dengan keras, “Sekarang juga akan kau rasakan kehebatanku…”
Aku bermesraan dengan Lin Yan di Istana Simpan Pesona hingga dua jam lamanya. Menjelang senja, teringat janjiku dengan Qian Sihai dan Guan Shuheng, barulah aku berpamitan pada Lin Yan.
Baru saja keluar dari istana, aku berpapasan dengan Paman Xu. Aku berniat menghindar, tapi matanya terlalu tajam. Ia berseru, “Tuan Muda Wang Ping! Aku memang sedang mencarimu!”
Mau tak mau aku mendekat sambil tersenyum, “Paman, ada urusan apa dengan Yinkong?”
Paman Xu melirik ke arah Istana Simpan Pesona. Ia pasti melihat Yun Er yang tadi mengantarku keluar lewat pintu belakang. Aku buru-buru mencari alasan, “Putri Kesembilan memintaku menggambarkan potretnya.”
Paman Xu hanya mengangguk, lalu berkata, “Permaisuri memintaku ke Paviliun Hutan Maple untuk menjemputmu masuk istana. Kebetulan bertemu di sini, kalau tidak aku harus bolak-balik tak tentu arah.”
Aku tertawa hambar, tapi dalam hati mengeluh. Sore ini aku sudah berkali-kali bertarung dengan Lin Yan, dan sekarang malah dipanggil Permaisuri. Entah apakah tenagaku masih cukup untuk menghadapinya.
Babak selanjutnya akan menjadi sorotan minggu depan. Semoga para pembaca lama dan baru tetap memberikan dukungan.