Bab Enam Puluh Empat: Pedagang Jujur dan Berintegritas
Jawaban ini cukup mengejutkan bagi Su Qiang.
Ia menengadah, melirik Li Cong sekilas, dan menganggapnya hanya sekadar basa-basi.
“Kapan soal kematian palsu itu akan dilakukan?”
Keduanya terdiam, dan untuk memecah keheningan, Su Qiang pun bertanya demikian.
Di mata Li Cong tampak sebersit kesendirian. Ia mengangkat tangan, menunjuk punggungnya sendiri, lalu berkata, “Setidaknya tunggu sampai lukaku membaik. Lagi pula, kau baru saja membunuh orang, tidak seharusnya kau bersembunyi dulu?”
Su Qiang tampak tak peduli, hanya menggumamkan “oh”, lalu menunjuk pakaian dirinya yang berantakan, memberi isyarat agar Li Cong pergi.
Li Cong tersenyum tipis, entah dari mana ia mengeluarkan beberapa lembar uang perak dan meletakkannya di tangan Su Qiang.
“Koralnya sudah terjual,” ucapnya datar, namun matanya memancarkan kegembiraan, seolah-olah anak kecil yang menantikan pujian.
Cukup cepat juga, pikir Su Qiang, sedikit terkejut menerima uang itu. Ia memilih dua lembar bernilai seratus tael dan menyelipkannya kembali ke tangan Li Cong.
“Ini upah yang sudah dijanjikan,” katanya sambil menyimpan sisa uang itu, raut wajahnya tampak bahagia, “Terima kasih.”
Li Cong tertawa, “Sungguh, permaisuri adalah pedagang yang sangat jujur.”
“Tentu saja!” wajah Su Qiang pun merekah, “Kelak kita pasti akan bekerja sama lagi. Putra Mahkota juga harus menjaga kepercayaan.”
Li Cong hanya tersenyum, kemudian berbalik dan berjalan tertatih-tatih meninggalkan ruangan.
Qu Fang sudah menunggu di depan pintu istana, tampak waspada.
“Ada apa?” tanya Li Cong.
Qu Fang menyadari amarah Li Cong sudah mereda dan hatinya pun sedikit lega. Ia mendekat, berbisik, “Pangeran Pemangku Raja datang, saat ini sedang menunggu di Istana Zhanghua. Ia bilang jika Putra Mahkota tak sempat, ia bisa mendatangi Anda.”
Li Cong menoleh ke arah Istana Zhanghua, pupil matanya sedikit mengecil, lalu berkata berat, “Aku akan ke sana. Kau ambilkan arak campur obat untukku, supaya bau obat di tubuhku tertutupi.”
Saat Li Cong tiba, Li Zhang tampak gelisah, mondar-mandir di dalam Istana Zhanghua. Melihat Li Cong masuk, berjalan lambat dengan aroma arak samar di tubuhnya, wajah Li Zhang semakin kesal.
“Di istana sedang terjadi masalah besar. Putra Mahkota sakit saja tak apa, tapi kau malah minum arak,” katanya, berjalan cepat seperti kesal, lalu membantu Putra Mahkota duduk.
Tatapan Putra Mahkota mengabur, ia melirik Li Zhang, lalu dengan nada penuh kejengkelan berkata, “Di istana ada Kakanda yang mengurus. Apa urusannya denganku?”
Li Zhang terdiam.
Awalnya ia curiga Putra Mahkota hanya berpura-pura mabuk, namun kini, dengan kata-kata tanpa tedeng aling-aling, tampaknya memang benar-benar mabuk.
Li Cong tak peduli pada ekspresi Li Zhang. Ia malah mengambil cangkir teh milik Li Zhang di meja dan meneguknya habis, lalu tersenyum santai, “Jadi, Kakanda datang ke sini mau menasihati apa?”
“Bukan menasihati,” amarah di wajah Li Zhang sedikit mereda, ia berkata agak terburu-buru, “Orang yang kau minta aku pulangkan dari Selatan, baru saja ditemukan tewas di perjalanan pulang ke ibu kota.”
Cepat juga kabarnya sampai, pikir Li Cong.
Setelah tahu kabar itu, langsung datang ke Istana Timur. Apakah sekadar memberi kabar, atau sekalian ingin menguji?
“Orang yang dipulangkan… siapa?” Li Cong merebahkan diri di dipan, berusaha membuka matanya.
Li Zhang menghela napas, memperhatikan raut wajah Li Cong, lalu perlahan berkata, “Wakil Jenderal Pasukan Penakluk Selatan, Wei Huailin.”
“Oh, dia!” Li Cong bertepuk tangan sambil tertawa, seolah-olah baru teringat soal itu.
“Ada apa dengannya?” tanyanya, memandang Li Zhang dengan bingung.
Li Zhang tampak ingin segera pergi, tapi ia tetap menahan diri dan berkata, “Dia sudah mati, tepat di luar kota.”
“Mati?” Li Cong sedikit menegakkan badan, “Siapa yang membunuh? Kalau ada pembunuhan harus lapor ke pejabat, kenapa Kakanda malah datang ke Istana Timur? Apa Istana Timur sudah jadi kantor polisi?”
Li Zhang mengusap dahinya, lalu menjelaskan, “Karena ini orang yang Putra Mahkota minta, jadi aku harus memberi tahu lebih dulu. Soal siapa pelakunya, saat ini memang sudah ada satu tersangka.”
“Siapa?” Li Cong setengah memejamkan mata, bertanya acuh tak acuh.
“Adipati Pendukung Negara, Cui Xu.” Li Zhang menatap tajam ke mata Li Cong, mengucapkannya perlahan.
...