Bab Lima Puluh Lima: Rasa Itu
Angin bertiup dari rimbunan pohon di pinggir jalan resmi, membawa hawa pembunuhan yang mengerikan dalam dingin awal musim semi.
Wei Hualin melihat sorot kegembiraan terpancar di mata wanita di depannya, kilauan itu makin lama makin terang, hingga seolah seluruh wajahnya tersenyum.
Itu adalah senyum penuh kepuasan.
Benar saja...
Dia samar-samar merasa hari ini mungkin dirinya takkan bisa kembali lagi.
“Bukan aku yang membunuh Cui Wange!” Ia berusaha keras menjelaskan, “Aku hanya menjalankan perintah.”
“Perintah siapa?” Su Qiang menatap pria yang meringkuk di hadapannya. Tak pernah ia melihat pria ini seperti ini, bahkan saat dulu bertempur sengit melawan pasukan pemberontak Nanyi hingga terdesak ke ujung tanduk, ia pun tak pernah sekacau sekarang.
Su Qiang menggoyangkan pedang panjang di tangannya.
“Katakan, aku akan mengampuni nyawamu.” Ucapnya dengan wajah dingin, memandang Wei Hualin dari atas, membawa ketajaman yang tak bisa dibantah.
Wei Hualin tak sanggup bertahan, akhirnya duduk lemah di tanah, memejamkan mata sejenak lalu berkata perlahan, “Aku hanya menerima surat rahasia, membunuhnya sesuai petunjuk di dalamnya. Jika bukan aku yang melakukannya, pasti orang lain yang akan melakukannya. Kembalilah dan katakan pada Cui Xu, aku, Wei, hanya menjalankan perintah, tak pernah punya niat merebut apa pun dari Keluarga Adipati Negara.”
Su Qiang mendengus dingin, “Sebagai jenderal Dinasti Hong Raya, masak tidak tahu hukum negara yang utama? Bertindak atas surat rahasia, tapi tak tahu dari golongan mana dirimu, cap siapa yang tertera di surat itu.”
Wei Hualin berkata sinis, “Beberapa tahun terakhir, di istana, faksi-faksi saling menyingkirkan. Kalau kau kenal Adipati Negara, pasti tahu urusan lewat surat pribadi lebih banyak ketimbang dokumen resmi dari kantor pengadilan.”
Ia menghela napas, seolah merasa gelisah dengan kondisi istana saat ini.
Su Qiang diam sejenak, tak menjawab.
Ironisnya, apa yang dikatakan Wei Hualin adalah kenyataan. Selama beberapa tahun ini, kelompok Putra Mahkota dan kelompok Raja Wali bersaing tak henti-hentinya, berbagai siasat gelap pun bermunculan. Bahkan Putra Mahkota berani membunuh pejabat di tengah jalan, apalagi Raja Wali, sehebat apa pun, pasti pernah melakukan hal yang tak bisa diumbar ke publik.
Langit istana ini, kalau tak segera berubah, sungguh tak tahu ke mana Dinasti Hong Raya akan berakhir.
Kehancuran negara dan lenyapnya keluarga bangsawan, bukan sesuatu yang mustahil.
“Cap siapa yang kau lihat?” Su Qiang kembali bertanya.
Tak banyak orang di istana yang bisa memerintahkan Wei Hualin membunuh seorang nona dari Keluarga Adipati Negara. Meski Kementerian Militer berada di tangan Raja Wali dan Putra Mahkota kekuatannya lemah, tapi Keluarga Adipati Negara sendiri sebenarnya tak pernah terlibat dalam konflik faksi, sehingga bermusuhan dengan dua pihak sekaligus.
“Mendekatlah sedikit.” Wei Hualin berbisik lemah, “Aku sebentar lagi mati, jadi kuberitahu saja. Jika Cui Wange tahu di alam baka, nanti kita bertemu di neraka pun ia tak akan menuntutku lagi.”
Su Qiang menatapnya dingin, lalu melangkah lebih dekat.
“Sedikit lagi.” Wajah Wei Hualin tampak pucat, seolah benar-benar sudah tak sanggup menahan hidup.
Su Qiang maju selangkah lagi, membungkuk, menunggu jawaban dari Wei Hualin.
Pada detik itu juga, Wei Hualin yang semula lemas dan duduk di tanah tiba-tiba meloncat dengan cepat, mengayunkan pedang melengkung di tangannya dengan kekuatan yang belum pernah Su Qiang lihat sebelumnya, menusuk ke arahnya.
Terdengar jeritan kaget dari hutan, itu suara Xiao Qing yang bersembunyi di balik pohon.
Su Qiang segera membungkuk ke belakang, menghindari sabetan pedang Wei Hualin dengan sudut tubuh yang mustahil, jelas ia sudah sejak awal waspada pada pria itu. Tapi saat ia kembali berdiri tegak, yang datang justru gumpalan debu putih ke wajahnya.
Aromanya pedas, namun juga harum.
Su Qiang pernah mencium aroma ini.
Atau lebih tepatnya, Cui Wange pernah mencium aroma ini.
Itulah bau bubuk pengantar tidur, bau ketika seluruh tubuh tak lagi dapat digerakkan, bau kematian.
...