Bab Empat Puluh Sembilan: Wilayah Utara (Bagian Akhir)
Kota Yan adalah salah satu dari tiga kota besar di utara Da Qin. Bersama Kota Man dan Beichuan, ketiganya membentuk segitiga, dengan Kota Yan yang paling dekat ke wilayah dalam negeri. Bai Gui membangun garis pertahanan kedua di sini, namun fokus utama menghadang Dong Hu justru berada di garis pertahanan Kota Man dan Beichuan. Tiga ratus ribu pasukan pilihan Da Qin ditempatkan di garis pertahanan Man, sedangkan di garis kedua hanya terdapat seratus ribu pasukan.
Begitu memasuki gerbang kota, di setiap sudut jalan dan gang hanya tampak prajurit berbaju zirah, tak terlihat satu pun warga sipil biasa.
Yan Yuanzong tinggal di bekas kediaman pejabat penguasa Kota Yan, Yue Chijing. Jalan menuju kediaman itu jelas telah sengaja diperbaiki, gerbang dan tembok barunya pun baru saja dibangun.
Kabar kedatanganku telah lebih dulu dilaporkan pada Yan Yuanzong. Aku meminta Jiao Zhenqi kembali ke penginapan untuk beristirahat sementara aku mengikuti kasim muda menuju kediaman pejabat.
Yan Yuanzong sedang bermain catur bersama Yue Chijing di halaman. Tatapannya tetap tertuju pada papan catur, alisnya berkerut, seolah-olah ia tidak menyadari kehadiranku.
Aku berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggungnya, hati gelisah tak menentu. Kabar kematian Yan Lin pasti sudah sampai ke telinganya.
"Skak!" seru Yan Yuanzong dengan suara lantang.
Yue Chijing tersenyum hormat, menyanjung, "Keahlian Baginda bermain catur sungguh luar biasa, hamba benar-benar kagum..."
Yan Yuanzong tertawa lebar, lalu berdiri dan menatapku dengan dingin.
Aku buru-buru berlutut, "Yinkong mohon menghadap Baginda." Wajahku telah kubuat seolah diliputi duka mendalam.
Yan Yuanzong memandangku tajam tanpa berkata apa-apa untuk waktu yang cukup lama.
Aku meneteskan air mata, "Yinkong telah mengecewakan titah Baginda, membuat sang putri mengalami celaka. Mohon Baginda menjatuhkan hukuman!"
Akhirnya Yan Yuanzong menghela napas dan berkata, "Lin'er sudah tiada, menghukummu pun untuk apa lagi? Berdirilah dulu."
Aku hampir tak percaya pada pendengaranku. Ternyata reaksi Yan Yuanzong terhadap peristiwa itu sangat datar, jauh dari yang kubayangkan.
Aku meliriknya diam-diam. Tak diragukan lagi, ini memang Yan Yuanzong. Tapi apa yang membuatnya tiba-tiba berubah, seakan-akan menjadi orang yang sama sekali berbeda? Ataukah setelah naik takhta, ia sudah belajar menyembunyikan perasaan sejatinya?
Yue Chijing menyadari bahwa kami punya urusan pribadi, lalu berpamitan dengan penuh pengertian.
Yan Yuanzong berkata padaku, "Dong Hu sudah mendekati garis pertahanan Man, pertempuran besar akan segera pecah. Tapi Bai Gui malah berkali-kali menyuruhku ke Kota Man, jelas ingin menjerumuskanku ke dalam bahaya."
Diam-diam aku tersenyum. Tentu saja Bai Gui takkan melewatkan kesempatan memanfaatkan Yan Yuanzong sebagai kartu truf. Dengan kehadirannya di sana, pasti banyak pertimbangan yang harus dipikirkan oleh pihak lawan. Aku menyarankan, "Kakanda adalah Kaisar Da Qin. Selama Anda tak berangkat, Bai Gui pun tak bisa berbuat apa-apa."
Yan Yuanzong berkata, "Kau tidak tahu, Bai Gui sudah menyebarkan kabar bahwa aku akan datang langsung ke garis depan Kota Man untuk memberi penghargaan pada para prajurit. Jika aku tetap bersembunyi di sini, bukankah aku akan kehilangan wibawa di mata para prajurit Da Qin?"
Ia ragu-ragu, "Sebelum berangkat, Ibunda berulang kali berpesan agar aku membangun wibawa di dalam ketentaraan, jangan sampai kehilangan muka di hadapan Bai Gui. Apa yang harus kulakukan?"
"Maksud Kakanda..."
"Aku ingin pergi ke Kota Man sebelum perang pecah, sekalian menyemangati para prajurit, lalu segera kembali ke sini."
Aku mengangguk, "Baginda sangat bijaksana. Pergi ke Man memang ada risiko, tapi kesempatan membangun wibawa sangat besar manfaatnya."
Yan Yuanzong berkata, "Baik! Besok kau ikut aku ke Kota Man."
Setibanya di penginapan, Jiao Zhenqi menyambutku. Aku menceritakan apa yang dikatakan Yan Yuanzong, lalu berkata heran, "Yan Yuanzong ternyata tampak tidak peduli atas kematian Yan Lin. Kalau bukan aku yang melihat sendiri, sungguh aku tak percaya."
Jiao Zhenqi menjawab, "Pantas saja selama ini ia juga tampak dingin terhadap urusan perjodohan Yan Lin."
Aku menggeleng, "Tidak! Rasanya ada sesuatu yang tidak beres, tapi aku tak tahu apa..."
Jiao Zhenqi tertawa, "Untuk apa terlalu banyak memikirkan? Yang penting sekarang adalah mencari cara agar bisa segera keluar dari sini."
Aku tersenyum pahit, "Yan Yuanzong hendak mengunjungi pasukan di Man, kalau sudah sampai sana, akan sangat sulit untuk lepas. Bai Gui bukan orang sembarangan, mana mungkin ia membiarkan Yan Yuanzong pergi begitu saja?"
Jiao Zhenqi bertanya, "Lalu mengapa kau justru mendukung Yan Yuanzong pergi ke sana?"
"Seluruh wilayah utara adalah wilayah kekuasaan Bai Gui. Sekalipun aku melarang, apa gunanya? Lagi pula, Yan Yuanzong sebenarnya sudah memutuskan sebelum bertanya padaku, pendapatku tak berarti apa-apa."
Jiao Zhenqi berkata penuh kekhawatiran, "Bai Gui memang sejak lama memandangmu dengan curiga. Aku khawatir ia akan menggunakan kesempatan ini untuk menyingkirkanmu."
Aku tersenyum, "Sepertinya aku harus benar-benar berlindung di balik Yan Yuanzong, mempertahankan perlindungan ini sekuat-kuatnya."
Yue Chijing mengerahkan lima ribu prajurit untuk mengawal Yan Yuanzong ke Kota Man. Perjalanan dari Yan ke Man hanya sehari. Kami berangkat pagi-pagi dan saat senja sudah melihat benteng Kota Man.
Yan Yuanzong lebih banyak beristirahat di dalam keretanya, sementara aku dan Yue Chijing menunggang kuda di barisan terdepan. Ia menceritakan padaku tentang kondisi geografis di wilayah utara.
Yue Chijing berkata, "Dulu perbatasan utara punya tujuh benteng berantai, tapi dalam beberapa tahun terakhir Dong Hu terus-menerus menyerang ke selatan hingga kini empat kota: Jin, An, Tunliu, dan Taoyi telah jatuh. Tinggal Kota Man, Beichuan, dan Yan saja yang tersisa. Nama tujuh benteng berantai itu kini hanyalah tinggal sebutan belaka."
Jiao Zhenqi di belakang bertanya, "Berapa banyak pasukan Dong Hu yang menyerbu ke selatan kali ini?"
"Konon jumlahnya lima ratus ribu, dan dalam dua hari lagi mereka pasti sudah tiba!"
Tiba-tiba terdengar suara angsa liar di langit, semua perhatian tertuju pada suara itu.
Aku berujar kagum, "Di musim dingin sedingin ini, mengapa ia masih tertahan di sini?"
Yue Chijing berkata, "Pasti ia tersesat dari rombongan, nasibnya takkan bertahan lama." Sambil berbicara, terdengar pula suara burung elang. Seekor elang hitam meluncur menukik dari langit.
Jiao Zhenqi berseru, "Dasar makhluk kejam, berani mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Ia segera meraih busur dan menembakkan anak panah ke arah elang. Anak panah itu melesat seperti bintang jatuh, tepat mengenai leher elang. Elang itu mengerang pilu lalu jatuh ke tanah, sementara angsa liar yang ketakutan pun ikut terjatuh karena kehilangan tenaga.
Aku berkata pada Jiao Zhenqi, "Kau bermaksud menolong angsa liar itu, tapi satu anak panah justru merenggut dua nyawa sekaligus. Segala sesuatu di dunia ini punya hukumnya sendiri, tak bisa kau atur semaumu."
Jiao Zhenqi tampak menyesal.
Beberapa prajurit mengambil bangkai elang dan angsa liar, lalu menyerahkannya pada kami. Aku tertawa, "Daging elang keras dan alot, tapi angsa liar ini pasti lezat. Nanti di dalam kota, mari kita memanggangnya."
Yue Chijing tak melewatkan kesempatan untuk memuji, "Tuan Wang benar-benar luar biasa, hamba sangat kagum!"
Aku tertawa terbahak-bahak. Orang ini sungguh lucu, hanya karena makan angsa liar saja bisa dianggap luar biasa. Namun dalam hatiku aku masih teringat peristiwa tadi. Kini Da Qin ibarat angsa liar itu, sedangkan Dong Hu seperti elang hitam yang siap menerkam. Kapan aku benar-benar bisa mengendalikan nasib mereka?
Malam itu Bai Gui mengadakan jamuan di perkemahan untuk menyambut Yan Yuanzong. Ketika aku dan Yan Yuanzong tiba, Bai Gui masih memeriksa garis depan dan belum kembali.
Yan Yuanzong dan aku duduk di dalam tenda perkemahan, wajahnya tampak tidak senang.
Suasana tenda sangat dingin, bahkan bara api baru dinyalakan setelah kami datang. Tuan rumah jelas belum siap menyambut kami.
Yan Yuanzong yang tak tahan dingin, berdiri mendekati perapian, menghangatkan tangan di atasnya.
Setengah jam berlalu, Bai Gui belum juga muncul. Yan Yuanzong mulai gusar, "Jenderal Bai mengundangku ke sini, tapi ia sendiri malah tidak ada. Apa ia memang sengaja mempermainkanku?"
Li Wei buru-buru menjelaskan, "Jenderal Bai sedang memeriksa pertahanan, pasti ada urusan mendadak. Mohon Baginda jangan berkecil hati."
Yan Yuanzong mendengus, "Sudahlah! Sepertinya aku memang tak berjodoh dengan jamuan ini, lebih baik aku kembali beristirahat." Ia berbalik hendak pergi, namun di luar tenda tiba-tiba terdengar suara tawa keras. Bai Gui dan dua jenderal lain masuk ke dalam.
Ketiga orang itu masih berselimut salju di bahu, menandakan di luar baru saja turun salju.
Bai Gui menepiskan salju dari bahunya, melepas jubah luar, lalu berkata pada Yan Yuanzong, "Maaf membuat Baginda menunggu. Hamba sibuk memeriksa garis pertahanan. Mohon dimaafkan." Namun raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Ia duduk dengan santai di kursi utama, mengambil handuk dari pengawal dan mengelap wajahnya.
Melihat Bai Gui datang, Yan Yuanzong segera melupakan keluh kesahnya tadi, lalu tersenyum, "Jenderal Bai telah bekerja keras demi negara, aku justru sangat berterima kasih. Mana mungkin aku menyalahkanmu..."
Bai Gui tertawa, mempersilakan semua duduk, lalu berkata pada Yan Yuanzong, "Wilayah utara memang keras dan dingin, tak sebanding dengan ibu kota. Jika ada kekurangan, mohon dimaklumi, Baginda."
Yan Yuanzong mengangguk-angguk setuju.
Li Wei memerintahkan agar makanan dan minuman dihidangkan. Seperti yang dikatakan Bai Gui, hanya ada empat macam lauk sederhana dan arak sorghum biasa.
Bai Gui mengangkat mangkuk araknya, "Baginda sudah datang ke garis depan, membakar semangat para prajurit dan meningkatkan kepercayaan seluruh pasukan. Ini adalah berkah bagi Da Qin! Mari, kami semua bersulang untuk Baginda!"
Para jenderal menyambut dengan suara lantang, mereka pun serempak mengangkat mangkuk arak.
Yan Yuanzong menyesap arak, tapi pedasnya membuat ia terbatuk-batuk hebat. Sejak kecil ia hidup di istana, belum pernah mencicipi minuman seburuk ini.
Sudut bibir Bai Gui menampakkan senyum penuh kemenangan. Ia lalu berkata, "Baginda, silakan mencicipi makanannya."
Yan Yuanzong mengambil sumpit, menjepit sepotong daging sapi, mengunyah beberapa kali sebelum akhirnya menelannya dengan terpaksa.
Bai Gui lantas menoleh padaku, "Tuan Wang, sudah bisa menyesuaikan diri dengan cuaca di utara?"
Aku tersenyum, "Terima kasih atas perhatian Jenderal Bai. Aku menganggap perjalanan ini sebagai ujian bagi diri sendiri."
Bai Gui tertawa, "Memang jarang ada anak muda seperti Anda sekarang." Ia mengubah topik, bertanya tentang Yan Lin, "Putri kesembilan gugur di kapal orang Goryeo, apakah Tuan Wang menemukan petunjuk?"
Aku menghela napas, "Masalah ini sangat rumit. Sampai sekarang aku tak mengerti mengapa tabib perempuan Goryeo itu menyerang sang putri."
Bai Gui berkata, "Sang Permaisuri semula ingin menjalin aliansi dengan Goryeo melalui pernikahan, berharap bisa menyerang Dong Hu dari belakang. Siapa sangka malah muncul masalah seperti ini. Sungguh nasib manusia di luar kuasa."
Aku melirik Yan Yuanzong. Saat aku dan Bai Gui berbicara tentang Yan Lin, ia hanya menggosok-gosokkan tangannya di bawah meja, seolah-olah tak terusik sama sekali oleh topik kami. Sulit dipercaya, inilah orang yang dulu tergila-gila pada Yan Lin, kini duduk di sampingku dengan sikap yang begitu berbeda.
Yan Yuanzong jelas tidak terlalu menaruh perhatian pada pembicaraan Bai Gui. Setelah meneguk beberapa cawan arak, ia pun pamit.
Bai Gui tidak menahan, malah bangkit dan berkata, "Besok pagi aku akan memimpin latihan pasukan. Baginda sebaiknya segera beristirahat."
Keluar dari tenda, tampak salju turun dengan lebat. Yan Yuanzong diiringi para pengawal menuju tendanya.
Saat aku hendak pergi ke tendaku sendiri, terdengar suara memanggil dari belakang, "Tuan Wang!"
Aku menoleh. Ternyata Letnan Li Wei.
Ia mendekat dan berkata, "Jenderal Bai ingin Anda menemuinya di tendanya malam ini, ada sesuatu yang ingin dibicarakan."
Aku mengangguk, lalu bertanya di mana letak tenda Bai Gui, setelah itu kembali ke tendaku untuk mengambil rompi bulu titipan Si Qi, barulah berangkat ke sana.
Salju turun begitu deras, dalam sekejap tanah telah tertutup putih. Setiap pijakan menimbulkan suara berderak, angin utara mengamuk, salju beterbangan, sampai-sampai sulit membuka mata.
Sampai di tenda Bai Gui, para penjaga memeriksa identitasku sebelum mengizinkan masuk.
Bai Gui sudah melepas zirah, duduk di atas permadani wol, membaca buku militer.
Melihat aku datang, ia meletakkan buku, menunjuk permadani, "Duduklah di sini."
Ini pertama kalinya ia bersikap begitu ramah padaku, membuatku agak terkejut. Aku melepas sepatu bot, duduk bersila di atas permadani. Aku serahkan rompi bulu titipan Si Qi, "Ini titipan Nona Si Qi untuk Anda."
Mata Bai Gui seketika dipenuhi kelembutan. Ia menerima rompi itu, mengelusnya perlahan, lalu berkata lirih, "Anak itu..." Ia tiba-tiba memperhatikan aku pun mengenakan rompi serupa, tatapannya sedikit tajam. Dengan kecerdikannya, pasti ia bisa menebak hubungan kami.
Syukurlah ia tak bertanya lebih jauh, hanya meletakkan rompi di pangkuannya, lalu bertanya, "Kudengar saat mengantar putri ke Kota Songjiang, kalian beberapa kali disergap. Tahu siapa pelakunya?"
Aku ragu sejenak, akhirnya berkata, "Mereka semua narapidana militer."
Alis Bai Gui berkerut, "Narapidana militer?"
Aku mengangguk, "Mereka sangat tahu jalur perjalanan sang putri. Aku curiga..."
Perhatian Bai Gui kini terfokus padaku.
"Aku curiga Yan Qiyue adalah pengkhianat yang membocorkan informasi."
"Ada buktinya?"
Aku berkata pelan, "Ini hanya dugaan. Sejak berangkat dari ibu kota, Yan Qiyue selalu mencari-cari alasan menunda perjalanan kami. Pasti ada dalang di balik semua ini."
Bai Gui mengangguk, "Kau mencurigai siapa?"
"Sebelum ada bukti pasti, aku tak berani menuduh siapa pun."
Bai Gui tertawa pelan, lalu bertanya, "Dulu, pernahkah kau curiga kalau akulah yang mengirim orang untuk membunuh kalian?"
Aku menggeleng, "Aku tak pernah mencurigai Jenderal Bai."
Bai Gui menatapku penuh minat, "Kenapa?"